Oleh : Hery D Inkasaria
(Mahasiswi Ahwal Syakhsiyah/Hukum Keluarga Unismuh Makassar)

Semestinya tulisan ini sudah jauh hari lahir ke dunia maya. Namun entah kenapa rasanya tak pantas menulisnya.

Rasa takut menggelayut, seolah tulisan ini menggurui bagi yang telah mengecap pahit manisnya rumah tangga. Atau malah sok kelakar.

Namun rasanya gelisah jika tak menuliskannya. Berharap semoga tulisan ini dibaca oleh yang rahimnya kelak menjadi awal peradaban gemilang.

Okeh. Resah yang sebenarnya ingin saya kubur saja. Ku nikmati dan ilmunya mengendap begitu jua. Itu pun jika antum membacanya.

Dan ini harus disadari dan direnungi oleh kaulah muda sekalian. Yang seringkali terhipnotis oleh romantika pernikahan tanpa tahu bagaimana getir kehidupan, bagaimana menjalaninya dan apa goals dari sebuah pernikahan.

Sebenarnya ini resume seminar online yang digagas oleh Sekolah Al Azhar Cairo Sulsel dengan tema menggagas pendidikan berkualitas dalam Islam.

Sampai terbawa dalam mimpi. Mimpi masih menyodorkan beberapa pertanyaan yang harusnya tuntas namun forum dibatasi oleh waktu. Bahkan dalam mimpi beliau Ustadzuna Al Kariim Dr. H. Muhammad Azwar, Lc., MA mengajak bersama teman untuk diskusi lebih lanjut.

Memilih Pasangan Hidup

Mengikuti sunnah Rasulullah saw adalah upaya agar hidup kita terarah. Berbicara tentang sunnah tentu bagaimana cara menjalani hidup agar keberkahan dan rahmat Allah meliputi segala aktivitas kita.

Seminar online yang sepekan lebih berlalu membuka cakrawala bahwa menggagas pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang bagaimana memilih sekolah yang terbaik lalu merasa tanggung jawab telah usai.

Namun ada langkah yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Dari sinilah proyek pendidikan itu di mulai.

Memilih pasangan hidup. Baik laki-laki maupun perempuan memilih pasangan hidup adalah penting. Bukan tanpa pertimbangan, bukan sekedar keinginan atau rendahnya malah menstandarkan hanya pada jatuhnya pandangan.

Mengapa begitu ? karena pernikahan bukan berbicara tentang hanya hidup semati. Namun bagaimana visi misi itu hidup dan berarti.

Maka ada empat kriteria yang Rasulullah kabarkan. Bahwa perempuan dinikahi karna hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Dan Rasulullah memprioritaskan agama agar beruntung.

Dalam mazhab Imam Syafii pun yang diutamakan adalah akal dan agamanya. Agar kelak mampu memberi pengaruh besar terhadap anaknya.

Bahkan diarahkan untuk melihat bagaimana keluarganya. Bagaimana watak dan karakternya. Sehingga ada hadits yang meski dhoif justru menyarankan untuk tidak menikahi keluarga dekat.

Dalam kitab الموسوعة الفقهية الميسرة في الزواج والطلاق yang ditulis oleh Dr. Muhammad Ibrahim Al Hafnaawi dijelaskan secara detail, ada beberapa kriteria sifat buruk wanita yang tidak boleh dinikahi.

Pertama, Al Hannaanah (الحنانة) yakni wanita yang suka menceritakan dan membanggakan seseorang di masa lalu. Atau merindukan sosok selain dari suaminya.

Kedua, Al Annaanah (الأنانة) yaitu wanita yang suka mengeluh.

Ketiga, Al Mannaanah (المنانة) adalah wanita yang suka mengungkit kebaikan dan jasanya.

Keempat, Al Haddaaqah (الحداقة) adalah wanita yang keinginan belanjanya besar, mudah tertarik pada suatu barang atau produk, dan suka meminta suami membelinya.

Kelima, Asy Syaddaaqah (الشداقة) adalah wanita yang suka nyinyir dan banyak bicara.

Keenam, Al Barraaqah (البراقة) yakni wanita yang suka berhias dan akhirnya lalai akan kewajiban mengurus suami.

Dan dalam hadits pun dibeberkan bahwa jika datang seorang lelaki yang agama dan akhlaknya diridhoi maka nikahkanlah. Jika tidak, maka fitnah lah yang ada.

Dan inilah yang diinginkan Rasulullah saw berkumpulnya dua insan sholeh sholehah dalam rumah tangga yang akan mengarahkan agar tercapainya tujuan yakni semakin dekat dengan Allah.

Maka agama adalah prioritas memilih pasangan hidup. Yang kelak darinya menjadi pabrik pencetak generasi sholeh sholehah.

Lalu muncul masalah, bagaimana jika pasangan suami istri yang telah menikah dan memiliki anak dan mereka bukanlah pasangan sholeh sholehah.

Maka Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang begitu populer yang termaktub dalam surah al isra ayat 24.

واخفض لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra’: 24).

Syarat diterimanya doa terletak pada kalimat rabbayani shaqira yakni mereka berdua telah mendidiknya waktu kecil. Jika orang tua tidak memberinya pendidikan sejak kecil maka rahmah dari Allah tidak akan didapatkan.

Meksi secara naluri orang tua tidak akan menelantarkan anaknya dan akan memberikan pendidikan terbaik. Namun perlu arah dan tujuan hidup yang jelas, yakni menyembah Allah atau beribadah menjadi poros hidup.

Inilah yang ingin ditanamkan kepada anak-anak kelak. Namun menjadi sangat sulit jika langkah awal yang dianjurkan Rasulullah tidak diambil. Memilih pasangan hidup hanya karena cantik atau rupawan. Yang ada malah terjadi perceraian jika satu sama lain telah merasa bosan atau fisik yang sedari awal diperjuangkan justru keriput bahkan menua.

Maka Al Khawarizmi ahli matematika dan al jabar ketika ditanya tentang calon istri terbaik. Penemu bilangan nol ini kemudian menjawab dengan menggunakan rumusnya.

“Agama itu nilainya 1, sedangkan hal lain nilainya 0.

Jika wanita itu shalihah dan baik agamanya, maka nilainya 1

Jika dia cantik, tambahkan 0 di belakangnya. Jadi nilainya 10

Jika dia kaya, tambahkan 0 lagi dibelakangnya. Jadi nilainya 100

Jika dia keturunan orang baik-baik dan terhormat, tambahkan 0 lagi. Jadi nilainya 1000

Sebaliknya jika dia cantik, kaya dan nasabnya baik tetapi tidak punya agama, nilainya hanya 0.

Berapapun 0 dihimpun, ia tetap 0”. Begitulah jawaban hebat beliau.

Sehingga akan sangat sulit memberikan pendidikan terhadap anak dan keluarga jika pondasinya tidak kuat.

Lalu mengapa proyek memilih pasangan hidup harus sedetail ini ? Karna kelak ia sangat berkaitan dengan pendidikan tahap kedua yang di mulai dari rahim seorang wanita.

Pendidikan dan Skill Dasar

Maka dalam fiqih munakahat atau fiqih usrah/keluarga ada bab khusus yang membahas tentang hadhonah atau pengasuhan anak. Di bahas tentang wajibnya mengasuh anak dan pengasuhan pertama kali diberikan pada Ibu bukan baby sitter.

Yang notabene secara fitrahnya wanita memiliki sifat penyayang, lembut hatinya, mudah terenyuh. Dan sifat ini sangat dibutuhkan oleh seorang anak yang belum mandiri.

Rasulullah bersabda, “Kawinilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, … “

Sehingga ketika pun kelak terjadi perceraian, maka hak asuh tetap ke ibunya. Jika anak tadi belum mandiri. Menurut para ulama bahwa belum mandiri yang dimaksud di sini adalah belum mampu makan, minum, memakai pakaian sendiri dan yang paling penting mampu beristinja sendiri.

Setelah proses pendidikan sampai anak ini mandiri di sisi Ibunya. Maka langkah selanjutnya adalah memberikan tanggung jawab pendidikan dasar kepada Ayahnya. Sembari tetap ada kolaborasi dari keduanya.

Tradisi ulama terdahulu bahkan para sahabat, adalah memberikan pendidikan melalui kuttab sebagai pendidikan dasar bagi anak-anak. Bahkan di zaman Rasulullah saw menjadikan tiga tempat sebagai wadah pendidikan. Pertama di dalam masjid, kedua di samping masjid yang ditinggali oleh para shuffah, dan di luar masjid. Berselang waktu di zaman para sahabat bertambah satu tempat lagi yang dikhususkan bagi anak kecil.

Adapun pelajaran dasar yang diberikan adalah belajar membaca, menulis, menghafal al quran. Anak laki-laki dan perempuan diajarkan skill dasar. Seperti memasak, membuat roti, menjahit bagi perempuan dan memotong, perkakas rumah atau hal-hal yang berat bagi laki-laki.

Pendidikan dasar berikut skill yang diajarkan sejak dini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam meramu agar menjelang baligh anak-anaknya siap berpisah dan tidak bergantung dari orang tua. Yang notabene laki-laki yang jika sudah baligh mencari nafkah sendiri.

Semua ini bermula dari memilih pasangan hidup. Begitupun ketika berumah tangga. Pembiasaan yang telah diasah semasa mudanya atau anak-anak yang terbiasa melihat aktivitas kedua orang tuanya yang sholeh sholehah inilah yang akan ditiru dan menjadi habits bagi anaknya kelak.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Nabi bersabda :
“Perintahkanlah anak kalian untuk sholat saat masuk usia 7 tahun dan jika berumur 10 tahun dia tidak mau sholat, maka pukullah.

Yang dimaksud memukul di sini adalah pukulan yang tidak menyakitkan, hanya sebagai pelajaran dan peringatan agar tidak melanggar perintah Allah swt.

Begitupun diajarkan bahwa dalam Islam sangat menjunjung tinggi adab. Misal ada tiga waktu seorang anak harus meminta izin ketika hendak memasuki kamar orang tuanya. Dan sekali lagi hal ini akan sangat menjadi sulit ketika yang dinikahi adalah yang tidak paham agama atau hukum syara.

Alhasil jangan bersikap sinis jika urusan rasa saja Rasulullah berikan petunjuk bahkan ulama pun menjadikan hal ini urgen. Karena Ittiba kita kepada Rasulullah adalah bentuk cinta kita kepada Allah swt.

Maka anak-anak yang belum baligh, orang tua harus memberikan pola hidup dan tingkah laku yang benar kepada anaknya.

\Pola Pendidikan yang Harus Ditanamkan//

Dan ada dua hal penting dalam memetakan pola pendidikan.

Yang pertama, Al Maqhosid. Yakni sifatnya maksud yang berkaitan dengan kehidupan secara langsung yakni mempersiapkan anak beribadah kepada Allah swt.

Yang kedua Al Wasail. Yakni perantara yang mengarahkan pada al maqasid. Makanya wasail ini kadang berbeda. Karna karakter anak yang bermacam-macam. Misalnya ada anak yang harus ditegur dengan tegas dan yang perlu berhati-hati ketika menegurnya.

Sama halnya dengan memilih pasangan hidup. Pada dasarnya, ia hanyalah wasilah. Sehingga keliru menjadikan pernikahan adalah tujuan hidup, padahal ia adalah wasilah agar ibadah makin selaras. Dengan menikah pun kelak ada yang menemani mempertanggung jawabkan segala perbuatan salah satunya adalah mendidik anak.

Sehingga yang ada hari ini banyak parenting membanjiri berikut pendekatan yang berbeda namun pada dasarnya adalah al maqasid tadi. Menjadi sholeh dan sholehah.

Peran Di Fase Baligh

Fase selanjutnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah setelah baligh. Mencarikan pendidikan dengan memasukkan anak-anak ke kuttab atau sekolah dasar jika kedua orang tua tidak mampu menempuh al maqasid dengan sendirinya. Tentu tujuan mencarikan sekolah terbaik adalah wasilah menjaga lingkungan agar tidak terpengaruh.

Sepert kisah Imam Ibnu Taimiyyah yang masih berumur kisaran 10 tahun datang ke majelis Imam An Nawawi belajar fiqh. Yang ada malah diusir karna umurnya masih sangat belia. Mereka menganggap bahwa beliau tidak bisa apa-apa. Padahal ia telah menguasai banyak ilmu dan skill dasar bahkan fununul qital atau seni bela diri pun ia kuasai selama di kuttab.

Bisa dilihat ketika terjadi penyerangan oleh orang Mongol. Justru di usianya yang belia, beliau yang paling awal menyerukan jihad. Bahkan ulama terdahulu tidak ada yang berdiam diri jika panggilan jihad telah dikumandangkan.

Para ulama terdahulu ketika nun jauh menuntut ilmu. Bekal yang mereka bawa hanya sedikit, meski pada dasarnya karna memang tidak mampu atau miskin. Namun mereka tetap survive dan tidak kelaparan karna memiliki skill.

Misal Imam Bukhari yang hanya membawa bungkusan kecil yang berjalan selama tiga bulan. Yang ada tidak mati karna kelaparan.

Mereka ketika singgah di suatu tempat, mereka tidak berkoar-koar mengatakan bahwa saya adalah ulama. Yang maksudnya adalah santuni saya karena Ulama. Justru secara mandiri mencari makan, entah dengan bekerja lalu diupah atau membuat sesuatu lalu dibayar. Semua karena skill yang mereka telah miliki.

Jadi sangat wajar jika dulu ada yang seorang pembuat gembok namun ahli dalam bidang fiqh. Bahkan bukunya menjadi rujukan dalam mazhab Imam Syafii.

Sangat berbanding terbalik dengan kondisi hari ini. Dimana jika titel bertengger panjang depan belakang yakni professor, doktor, atau semacamnya. Yang ada mungkin banyak yang tidak mau mencangkul tanah atau sekedar menyapu saja tidak sudi.

Jadi fase ini sangat penting untuk direalisasikan. Agar orang tua mempersiapkan anak menerima beban taklif. Yang menjadi fokus utama mereka disekolahkan bukan agar menjadi pengusaha sukses misalnya. Tapi agar anak kelak siap dengan beban taklif yang semua harus dikerjakan setelah baligh.

Seperti Nabi Ya’kub yang diambang sakaratul maut kemudian bertanya memastikan kepada anaknya, siapa yang kalian sembah selepasku. Begitupun dalam surah Luqman memberi wasiat kepada anaknya agar tidak melalukan syirik pada Allah.

Karena kesalahan dan persiapan yang tidak matang, justru banyak hari ini anak gadis yang sudah baligh susah diajak menutup auratnya.

Pada fase ini pula lah anak-anak dibekali dengan masalah tauhid, fiqih yang berhubungan langsung dengan kesehariannya, dan akhlak sebagai pembiasaanya. Kelak semua ini menjadi bekal anak dalam mengarungi kehidupan.

Pendidikan Di Masa Kejayaan Islam

Setelah melewati proses Pendidikan pada fase baligh. Kecenderungan anak dalam suatu minat diserahkan pada anak. Tentu tetap kontrol utama adalah orang tua.

Maka wajar para ulama banyak yang menguasai ilmu selain tsaqofah Islam karena bekalnya sejak kecil sudah ada. Bahkan tujuan penemuan hasil riset dll demi memudahkan ibadah kepada Allah swt.

Turki Utsmani misalnya membuat kereta api paling panjang di dunia dari Turki sampai ke Mekkah demi memudahkan beribadah haji dan umrah.

Yang ada hari ini justru penemuan hanya menjadi ajang pamer atau aspek materi. Berpikir hanya apakah penemuan ini bermanfaat bagi dia atau tidak.

Di masa kekhilafahan, ketika ada yang menulis buku sebagai hasil temuan dan karyanya. Para ulama diapresiasi, menimbang buku mereka lalu ditukarkan dengan emas.

Selain karena ruh yang telah mengisi karakter mereka. Yakni Idraksi labillah kesadaran akan hubungannya dengan Allah. Maka lahir orang-orang ikhlas yang akan membawa perubahan. Mereka belajar, menganalisa dan melalukan riset semata ibadah mendekatkan diri pada Allah.

Begitu pun hadirnya pemerintah yang mengapresiasi para ilmuan semata upaya agar ilmu tidak lenyap yang kelak bisa menyebabkan kebinasaan dalam hidup. Bahkan di Cairo Mesir misalnya masih ada dokter yang menggratiskan pengobatan bahkan rumah sakit hanya membebankan biaya pelayanan operasi Caesar 80 pound atau setara 90 ribu rupiah. Semua karena landasan akidah dan akhlak yang tertanam begitu kuat sejak belia. Yakni

خير الناس أنفعهم لناس

“ Manusia terbaik adalah mereka yang memberi manfaat pada orang lain”

=====================
Dari semua fase dan langkah di atas. Seharusnya menjadi renungan mendalam bagi kaulah muda yang sebagian besar kelakar dengan indahnya pernikahan untuk bangkit dari segala khayalan yang melenakan.

Jika di masa muda saja masih santai, malas menuntut ilmu lalu dengan apa engkau akan ajarkan pada anakmu kelak. Jika amanah dan taklif dakwah jamaiy masih ketetaran tersebab sibuk lalu bagaimana jika amanah mengurus keluarga menjadi batu sandungan mangkir darinya. Jika memintal hafalan saja begitu berat menjangkar maka tolong hentikan cita-cita melahirkan generasi huffadz pejuang syariah kaffah.

Wahai Calon Ibu. Kelak Rahim mu lah yang akan menjadi madrasah ula.
Wahai Calon Ayah. Kelak engkaulah yang akan menjadi kepala sekolah dari madrasah ula.

Jadi resah lah ketika ilmu masih sangat minim, malas masih menjebak diri. Dibanding galau memikirkan kapan menjadi istri, kapan melahirkan generasi.

Lalu memantaskan diri karena Allah. Dengannya memang pantas dipilih karena agama dan akhlaknya bukan yang lain. Kelak, hadirnya pasangan hanyalah bonus dari serangkaian usaha mendekatkan diri pada Allah.

Meski hari ini kita hidup di sistem yang tidak ideal, semoga semakin membuat kita semangat memperdalam tsaqofah, mempersiapkan diri mengemban amanah mendidik generasi, dan tentunya menjadi jalan mendobrak peradaban kelam.

Karena mendidik anak bukan pekerjaan sampingan atau sambilan. Tapi bagian dari pekerjaan besar mencetak generasi pilihan dan peradaban yang gemilang. Maka pantaskan diri, kumpulkan energi, alokasikan waktu dan ikhtiar terbaik.

Inilah akhir daripada sesi bagaimana proyek itu dibangun. Yang muaranya adalah taabbudiyah ibadah pada Allah swt.

Oh iyah tulisan ini Panjang sekali. Jika sepanjang ini tak membuat kita sabar dan telaten membaca dan menjadikan sebagai ilmu dan bekal diri. Lalu bagaimana kelak mampu merapal ilmu pada anak kita secara mandiri ?

Ayolah scroll dari awal dan baca perlahan (maksa nih hihihi) Semoga bermanfaat. Dan jika bermanfaat silahkan share agar menjadi amal jariyah.

Mumpung masih sendiri, ayo bekali diri

Skefo, setelah mengendapkan tulisan ini lebih sepekan. Dan ghirah kembali merampungkannya, justru mimpi Ustadzuna Al Karim Dr. H. Muhammad Azwar kamaruddin Lc., MA lagi. Mungkin tulisan ini tidak mau saya nikmati sendiri. Maa syaa Allah

Self Reminder
رب لا تذرني فردا و أنت خير الوارثين
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

Aamiin Yaa Rabb.
Baarakallahu fiykum jamiian.