Oleh:  Ummu Irul (Mubalighoh dan pengusaha kabupaten Magetan)

Ramadhan tahun ini  berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Sebab Ramadhan kali ini diselimuti oleh duka yang mendalam karena pandemi covid-19 yang telah merajalela hingga ke seluruh dunia. 

Sebagaimana telah diketahui bahwa, virus ini muncul disinyalir karena ulah manusia yang dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya berupa makanan, yang tidak mengindahkan rambu-rambu Allah SWT. Yang semula hanya terjadi di kota Wuhan-Cina, (sebagai titik awal penyebaran virus ini), akhirnya menyebar  ke seluruh dunia. Hingga kini sudah 200 negara yang terdampak. Maka tidak bisa dibayangkan berapa banyak manusia yang telah meninggal akibat virus ini. Berdasarkan data, sebanyak 2.921.201 kasus sedunia, dan 292 juta positip (SerambiNews.com/Minggu/26/04/2020)

Sedangkan di negeri ini terdapat  8.882 kasus positip covid-19. Hal ini diungkap juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19, Ahmad Yurianto, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta,  Minggu sore. (Kompas. com/ Minggu, 26 April, 15.56 WIB) 

Keadaan di negeri ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk mengantisipasi wabah ini, serta dalam menangani korban yang terinfeksi. Hal itu dikarenakan minimnya tenaga medis dan peralatan yang diperlukan.  

Sebagai bagian dari penduduk negeri ini, hati kita sedih, pilu dan perih. Namun kita tidak boleh tinggal diam, ketika menyaksikan jumlah korban yang terus berjatuhan, baik dari tim medis sendiri (yang menjadi garda terdepan) dalam menangani wabah ini maupun rakyat biasa. Lantas apa yang mesti di lakukan, di tengah pandemi ini? 

Muhasabah/ Instropeksi Diri

Ketika seorang muslim mendapatkan ujian, hal pertama yang harus dilakukan adalah muhasabah/ instropeksi diri. 

Mengingat penyelesaian pandemi ini membutuhkan peran negara, maka muhasabah ini tidak cukup hanya individu masyarakatnya saja namun juga penguasanya. Apakah kebijakan yang dijalankan di tengah-tengah rakyatnya sudah sesuai dengan tuntunan Allah? 

Allah berfirman:

وما اصا بكم من مصيبة فبما كسبت ايديكم ويعفوا عن كثير ٣٠

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mema’afkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. Asy-Syuro: 30)

Firman Allah yang lain:

ظهر الفسادف البر والبحر بماكسبت ايدى الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون ٤١

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum: 41)

Tidak bisa dipungkiri bahwa ayat di atas, sangat menohok kita. Memang benar, wabah yang kini melanda, itu akibat kesalahan manusia yang terus menuruti hawa nafsu yang bertentangan dengan syari’at Allah SWT. 

Segera Taubat Sebelum Terlambat

Kita menyadari bahwa manusia itu tempatnya salah dan alpha. Tidak ada manusia di dunia ini, baik dia sebagai rakyat jelata maupun penguasa, yang tidak pernah berbuat salah, maka bertaubat adalah satu-satunya jalan agar selamat, di dunia dan akherat. 

Allah berfirman :

وسار عوا الى مغففرةمن ربكم وجنة عرضهاالسموةواﻻض اعدت للمتقين ١٣٣

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali ‘Imron:133)

Rosulullah bersabda:

“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2687)

Memang manusia secara fitrah berpotensi untuk berbuat dosa, sebab ia dikaruniai Allah berupa nafsu (naluri-naluri dan kebutuhan jasmani). Jika dalam memenuhi dorongan naluri-naluri tersebut bertentangan koridor yang telah ditentukan Allah, maka di situlah manusia berbuat dosa atau kesalahan. Rosul SAW bersabda:

“Kalau kalian tidak pernah berbuat dosa niscaya Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang lain yang berbuat dosa, tetapi mereka memohon ampun dan Allah SWT mengampuni mereka.” (HR. Muslim) 

Ramadhan Saat Yang Tepat

Kini kita berada di bulan Ramadhan, maka inilah saat yang tepat untuk bertaubat. 

Rosulullah bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya diampuni.” (HR. Bukhori no. 38 dan Muslim no. 760)

Rosulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”(HR. Bukhori no.37 dan Muslim no. 759)

Perihal mengatasi wabah ini, maka tidak cukup hanya melakukan taubat bersifat pribadi saja, meski dilakukan bersama-sama, namun penguasa negara juga harus melakukannya, mengingat negara memiliki peran yang sangat penting, yakni dalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk melindungi rakyatnya dari kerusakan dan kebinasaan. 

Jika rakyat biasa bertaubat cukup dengan berhenti dari dosa dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan lagi kemudian bersungguh-sungguh untuk taat kepada syari’at Allah yang diperuntukkan bagi dirinya saja. 

Adapun bentuk pertaubatan penguasa adalah segera menyingkirkan undang-undang buatan manusia,  kemudian mengadopsi aturan dari Allah SWT yang tercantum di dalam kitabullah (Al-Qur’an), Al-hadits dan nash-nash syara’ untuk diterapkan dalam mengatur negara dan rakyatnya. 

Sebab Allah mengingatkan dalam firman-Nya: “…Menetapkan (hukum itu)  hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (TQS. Al-An’am: 57)

Juga dalam Firman-Nya : “Kemudian kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syari’at (peraturan)  dari agama itu, maka ikutilah (syari’at itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.”( TQS. Al-Jatsiyah : 18)

Dari kedua ayat di atas wajib hukumnya bagi kaum Muslim (pemimpinnya) untuk menerapkan hukum Allah di bumi milik-Nya. 

Demikian juga banyak hadits yang menunjukkan hal itu, diantaranya:

Sahabat Ibnu Umar bin Khothob R.A berkata, Rosulullah SAW menghadap ke arah kami dan bersabda: “Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya, (1) Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un ( wabah)  dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya… (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih).

Dengan banyaknya dalil terkait dengan wajibnya memutuskan perkara sesuai syari’at Allah, maka seorang pemimpin yang bijak akan memenuhi perintah Allah dan Rosul-Nya tersebut. 

Apabila rakyat dan penguasa bersinergi untuk kembali kepada aturan Allah secara kaffah, maka in syaa Allah keberkahan akan tercurah di negeri ini dan dunia seluruhnya. 

Allah berfirman:

ولو ان اهل القراى امنوا وتقوا لفتحنا عليهم بركت من السماء واﻻرض ولكن كذبوا فاخذنهم بما كانوا يكسبون ٩٦

“Dan sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bish showab.