Oleh: Aulia Rahmah
Kelompok Penulis Peduli Umat

Keberagaman kondisi strata sosial dan tingkat perekonomian masyarakat mendapat perhatian serius dalam sistem Islam. Karena tidak semua orang rizkinya lapang dan mampu mengakses kekayaan. Apalagi saat pandemi di tengah SDA dikuasai para kapitalis, lapangan pekerjaan terbatas, pemerintah lebih pro kepada pengusaha, dan rakyat dijadikan sapi perah.Jika sistem negara tidak berubah, maka selama itu pula rakyat terhalang memanfaatkan harta milik umum, kemiskinan mustahil akan sirna, 8 golongan mustahik zakat tentu akan selalu ada.

Ketika Rosulullah memimpin negara Madinah, 8 golongan penerima zakat, diantaranya fakir, miskin, musafir, gharim, amil, fisabililah, muallaf, .dan budak yang dimerdekakan , mereka mendapat santunan dari negara setiap tahunnya. Ketetapan Allah yang dijalankan Rosulullah ini dilanjutkan oleh Khalifah selanjutnya. Khalifah Abu Bakar Ash shidiq, ketika mendapati orang-orang murtad melakukan provokasi agar kaum muslimin berhenti menunaikan kewajiban membayar zakat, dengan ketegasan dan kebijaksanaan beliau, orang-orang murtad pada waktu itu berhasil diberantas sehingga Syariat zakat tetap eksis, bangunan masyarakat dan solidaritasnya tetap kokoh.

Jika saja para sahabat menolak ajakan Khalifah Abu bakar pada waktu itu, mungkin Syariat zakat akan terkubur diikuti pula oleh terkuburnya masyarakat Islam yang tidak seluruhnya ditakdirkan kaya.

Kini Umat Islam tidak lagi berada dalam era kekhilafahan yang agung. Syariat Islam tidak lagi terlaksana secara keseluruhan akibat dari penjajahan asing, dangkalnya keimanan dan pemahaman kaum muslimin terhadap Syariat Islam kaffah yang pernah membawa pada kejayaan peradaban di masa silam. Mereka buta terhadap sejarah karena sejarah yang kini mereka pelajari sebatas sejarah lokal bahkan sejarah peradaban asing.

Karena fakta inilah, menteri ekonomi memyetujui ide menteri agama mengalihkan alokasi dana zakat untuk pembangunan infrastruktur. Walau wacana ini belum terealisasi kita patut mewaspadai. Tanpa pemimpin yang memahami Syariat Islam dan kesadaran untuk meneladani Rasulullah dan para khalifah sesudahnya, potensi zakat yang begitu besar bukan tidak mungkin akan terus dilirik untuk diambil manfaatnya walau menyalahi ketentuan yang seharusnya.

Ketetapan dari Allah tentu banyak sekali manfaatnya, tak terkecuali disyariatkannya zakat akan bernilai ibadah sekaligus berdampak pada terwujudnya keadilan sosial dan kasih sayang diantara pihak yang mampu dengan pihak yang kurang mampu. Hal ini akan memperkecil terciptanya kesenjangan dan kecemburuan sosial. Masyarakat kuat negara bermartabat. Umat hidup sejahtera dan khusyuk beribadah.

Liberalisme dan Sekularisme yang menjadi dasar pijakan untuk mengatur negara ini tidak henti-hentinya menekan Umat Islam, ajaran agamanya dilecehkan dengan tetap melindungi para penistanya, ulama-ulama hanif dikriminalisasi dengan jerat pasal terorisme, persatuannya dikoyak, dan eksistensinya berkali-kali dicoba untuk diberangus.

Apakah kondisi ini kita biarkan saja? Jawabannya berpulang pada kaum muslimin sendiri. Jika tetap mengabaikan kewajiban menjalankan Syariat Islam kaffah di bawah sistem kekhilafahan, lalu menjadikan Syariat Islam bak prasmanan, mengambil hanya yang disuka, maka selama itu pula Umat Islam akan terbelakang. Sejarah telah membuktikan jika kaum muslimin sadar diri dan mau untuk berbenah dengan menjadikan Rosulullah dan para khulafaur rasyidin sebagai teladan utama, bukan tidak mungkin peradaban gemilang di masa lalu akan terulang kembali. Sebagaimana janji Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Annur ayat ke 55, yang artinya :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, sungguh Allah akan menjadikan mereka berkuasa, sesudah ketakutan menjadi aman, mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun”

Janji Allah ini menjadi nutrisi perjuangan Umat Islam hari ini. Dengan menyempurnakan ketaatan kepada Allah, semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita sehingga laik mendapat pertolonganNya dengan memberikan kekuasaan kepada orang-orang sholih diantara kita, aamiin, Wallahu A’lam.