Oleh: Lelly Hapsari

Aku bukanlah indigo dan juga tak ingin mendapat sebutan itu, tetapi semenjak usia 10 tahun banyak hal yang aneh yang ku alami. Dimulai saat ayah mengajakku ke gudang pabrik tempat beliau bekerja, banyak orang menganggap tempat itu angker sehingga tidak banyak para pekerja yang berani datang kesana, jika akan membuka gudang tempat penyimpanan alat berat di itu harus di dampingi “orang tua” atau “orang pintar” lengkap dengan sesajinya. Sementara ayah bukanlah orang yang tahluk pada mistis, dalam pemahamannya segala sesuatu yang terjadi hanya karena kuasa Alloh saja. Jadilah ayah yang akan kesana sendirian tanpa ada teman yang menemani kecuali aku.

Aku ingat, hari itu hari jumat kliwon. Karena embahku masih suka menebar bunga 7 rupa di perempatan jalan, katanya untuk menebus keselamatan kampung. Embah memang masih sangat kuno dan kolot, banyak pusaka peninggalan kakek buyut yang madih di simpannya. Tapi lain halnya dengan ayah, beliau sosok yang terpelajar juga religius jadi selalu kontra dengan pemahaman embah terutama masalah aqidah.

Selesai sholat jumat, aku dan ayah berboncengan motor menuju pabrik pengolahan kayu tempat beliau bekerja. Letak gudang itu berjahuan dengan area induk pabrik. Berjarak sekitar 300meter, hampir bersebelahan dengan hutan. Sepi dan lengang, motor diparkir persis depan pagar gudang. Ayah mulai membuka gembok pengait pagar yang lumayan besar ukurannya. Setelah terbuka kami berdua masuk ke dalamnya.

Kurang lebih satu setengah jam berlalu ayah mulai sibuk dengan pekerjaannya jadi kurang memperhatikanku, dan aku sebagai bocah sibuk bermain dengan potongan potongan kayu. Sedang asik memungutinya tiba tiba aku mendengar suara berdesis yang sesekali ada suara memanggil namaku.

Rasa penasaran menyergapku, kutelusuri asal suara itu. Berjalan menyusuri lorong pintu belakang gudang, hingga tanpa sadar aku sudah keluar dari kawasan gudang pabrik. Kedua netraku spontan menatap sepasang sorot mata merah yang menatapku, tercengang ku menatapnya. Sosok ular naga besar yang menggeliat ingin menghampiriku. Desisnya semakin kencang mencekam, ular itu seperti berkepala singa, berambut kemerahan dan tebal. Ia terus berusaha mendekatiku. Lidahku kelu, kakiku kaku. Tak dapat berkata apapun kecuali ku sepatah kata dengan gagu “Aa … yaa … aahhh”

Entah berapa lama aku disana, beruntung ayah segera tersadar aku tidak bersamanya dan beliau segera mencari dan mendapatiku dalam keadaan terduduk sendiri di tepi hutan, dibawah pohon beringin tua yang akarnya bergelantungan seperti rambut nenek tua yang menyeramkan.

Wajahku pucat, gemetar ketakutan. Keringat dingin bercucuran, hingga aku tak bisa menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan. Ayah segera membopongku pergi menjauh dari tempat itu dan membawaku pulang

Bersambung