Oleh: Intan Effendy

Waktu itu tahun 1997. Seorang teman mengadakan acara pengajian di Masjid Syuhada Yogyakarta. Ia mengundang warga miskin yang tinggal di bantaran Kali Code untuk datang. Sang penceramah menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami. Bahkan diselingi humor ringan yang membuat warga tersenyum.

“Manis sekali senyum mereka ya, Tan,” komentar sang teman. Maka saya cari-cari senyum yang manis itu di wajah para hadirin. Tak saya jumpai satu pun. Hanya garis-garis umur dan perjuangan hidup yang saya lihat, juga jejak hitam jilatan matahari. Tak satu pun berwajah halus, bersih, cantik. Saya tak mengerti, di mana manisnya? Tapi saya diam saja.

Waktu itu tahun 2004. Saya naik bajaj dari Patung Tani Menteng ke Pecenongan, Jakarta. Dalam hati agak menyesal mengapa tadi langsung naik tanpa menanyakan berapa ongkosnya. Memang saya sudah tahu ongkos yang wajar, tapi terkadang ada supir yang meminta lebih. Maka saya merancang kata-kata penolakan kalau nanti diperlukan. Bukannya tak ada uang, saya hanya tak mau mengalah.

Tak lama bajaj sudah berhenti di lokasi tujuan. Pak supir segera membantu membukakan pintu. Saya pun melangkah turun dan menyerahkan ongkos yang sudah disiapkan di genggaman. Kata-kata penolakan juga sudah di ujung lidah, siap-siap meluncur bila pak supir meminta tambahan. Tapi ternyata ia hanya melihat uang itu sekilas, memasukkannya ke kantong baju, dan tersenyum pada saya. Begitu lebar senyumnya, hingga saya bisa melihat sebagian giginya yang ompong.

Anehnya, kali ini saya terpesona. Senyum yang begitu indah. Walau dalam bingkai wajah tua yang penuh kerutan. Adakah ini karena dugaan saya salah? Alih-alih menuntut uang lebih, ia terlihat bahagia dengan apa yang diterimanya, walau hanya belasan ribu rupiah saja. Tiba-tiba saya merasa malu atas prasangka saya. Merasa malu pada senyum yang menggambarkan rasa ikhlasnya.

Waktu itu tahun 2007. Saya memasuki ruang rawat inap sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, mengunjungi seorang adik yang baru melahirkan putra pertamanya. Wajahnya begitu lelah. Ia seperti belum beristirahat setelah proses operasi Caesar semalam. Bibirnya mendesis menahan nyeri karena pengaruh obat bius mulai menghilang.

Tiba-tiba wajahnya seperti bercahaya. Matanya berbinar dan senyumnya terkembang. Sakit dan lelah bagai menguap begitu saja. Penasaran, saya ikuti pandangannya, yang ternyata jatuh ke wajah bayinya yang baru saja dibawa masuk oleh seorang perawat. Itu pandangan jatuh cinta. Pandangan seorang ibu yang melihat bayinya untuk kali pertama. Saya terpana. Sungguh ini pemandangan yang menawan.

Saya menutup mata. Membiarkan hati merasa. Terbayang kembali senyum riang warga Kali Code yang dulu. Juga senyum lebar Pak Supir Bajaj di Pecenongan. Kini semua terlihat manis, seperti kata teman saya itu. Ah, ia dari dulu telah mengerti, bukan bentuk wajah atau garis bibir yang membuat senyum terasa indah. Melainkan hati yang terwakili, juga hati yang melihat. Hati yang bersyukur, hati yang bersih.

Saat sampai ke rumah lagi, saya pandangi wajah sendiri yang terpantul pada cermin. Bagaimana senyum saya selama ini? Adakah manis? Adakah indah? Adakah terpantul dari hati yang bersyukur? Renungan singkat membuat saya menggeleng. Jelas saya masih perlu membersihkan hati dan mengolah rasa, agar mampu melihat yang tak tertangkap oleh panca indra. Agar peka atas semua nikmat, agar mampu bersyukur setiap saat.

Jakarta, 17 May 2020
Visit me at intankd.wordpress.com