Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Tidak lama lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita, lantas sudahkan ampunan didapat dari-Nya.
Ramadhan merupakan bulan yang mengandung peluang emas untuk bertaubat memohon ampunan kepada Allah Swt. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam berpuasa di bulan ini, maka Allah Swt. akan mengampuni segenap dosanya sehingga ia diumpamakan bagai berada di saat hari ia dilahirkan ibunya. Setiap bayi yang baru lahir dalam ajaran Islam dipandang sebagai suci, murni tanpa dosa.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ

شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ

فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah Swt. wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap ke-Ridhaan Allah Swt., maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR Ahmad 1596)

Subhanallah…! Wahai para pengejar ampunan pemburu malam Lailatul Qadar marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat, untuk mengejar ampunanNya. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Terlebih di sepuluh hari yang terakhir disini ada malam yang istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Malam dimana Allah Swt memberikan berkahNya, siapa yang beribadah tepat pada malam itu, Allah Swt memberikan pahala seumpama seribu bulan pada bulan-bulan yang lainnya. Alangkah baiknya di bulan pengampunan penuh berkah ini, kita semua mengejar ampunan Allah Swt.

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunanKu agar Aku mengampuni kalian.” (Hadits Qudsi Riwayat Muslim 4674)

Marilah kita ikuti contoh teladan kita, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Beliau dikabarkan tidak kurang dalam sehari semalam mengucapkan kalimat istighfar seratus kali. Padahal beliau telah dijanjikan oleh Allah akan dihapuskan segenap dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Bahkan dalam satu riwayat beliau dikabarkan dalam sekali duduk bersama majelis para sahabat beristighfar seratus kali. Masya Allah…!

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya rabbku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)

Ibadah puasa Ramadhan bertujuan untuk membentuk karakter sosok individu yang bertaqwa. Sedangkan ciri dari karakter sosok individu yang bertaqwa ialah sibuk bersegera mengejar ampunan Allah Swt. dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dengan melaksanakan seluruh perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Dan tidaklah akan menyia-nyiakan waktunya terlebih di bulan Ramadhan untuk mengejar ampunanNya dan memburu malam Lailatul Qadar.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Dalam kitabnya “Yakinlah, Dosa Pasti Diampuni”, ‘Aidh Al-Qarni menulis mengenai pentingnya bertaubat sebagai berikut:

”Saya serukan kepada setiap insan untuk bergegas menuju pelataran Tuhan pemilik langit dan bumi. Dialah Allah Swt. yang rahmat-Nya lebih luas dari segala sesuatu, dan pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka dari segala penjuru. Anda semua harus tahu bahwa suara yang paling merdu adalah suara orang yang kembali kepada Allah Swt., orang yang membebaskan diri dari penghambaan terhadap setan serta mengarahkan semua anggota tubuhnya untuk bersimpuh menuju kepada Allah Swt semata. Melalui risalah ini, mari kita kenali cara kembali dan bertobat kepada Allah Swt dari segala dosa dan maksiat.”

”Manusia hanya memiliki satu umur. Jika disia-siakan, maka dia akan rugi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Pintu taubat selalu terbuka, anugerah Allah Swt. selalu dicurahkan, dan kebaikan-Nya senantiasa mengalir, pagi dan siang.”

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa penghulu istighfar ialah ucapan seorang hamba: “Ya Allah, Engkaulah Rabbku. Tidak ada Ilah selain Engkau. Engkau telah menciptkanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dengan-Mu (bersaksi dengan tauhid) dan janji terhadap-Mu selama aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu terhadapku. Aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Engkau.” Siapa yang mengucapkannya dengan yakin di siang hari, lalu ia meninggal hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga. Dan siapa saja yang mengucapkannya dengan yakin di malam hari, lalu dia meninggal sebelum subuh, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhari 5831). (Selasa, 28/04/2020/eramuslim.com).

Ramadhan benar-benar merupakan peluang emas untuk menuju ampunan untuk bertaubat, terlebih taubat secara keseluruhan atas kemaksiatan secara umum dalam hal mengabaikan terhadap hukum Allah Swt. Sebagaimana dalam sistem kehidupan sekuler saat ini. Sistem sekuler telah menempatkan aturan Allah Swt hanya sebatas ruhiyah sementara urusan kehidupan bebas tanpa batas apa kata manusia. Pada dasarnya individu muslim tidak bisa demikian, tatkala dia beriman kepada Allah Swt maka harus terikat secara keseluruhan pada syari’atNya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.”(TQS. Al-Baqarah 208). Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mengejar ampunanNya dan memburu malam Lailatul Qadar suatu keniscayaan untuk segera berbenah secara individu maupun kolektif. Sehingga terwujud ketaqwaan individu dan masyarakat secara kolektif terhadap seluruh syari’at-Nya hingga akhirnya membawa keberkahan dan rahmat. Sebagaimana Allah Swt berfirman : “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar (syurga) dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (TQS. An-Nisa (4):175).

Dengan demikian, Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk menanamkan keyakinan bahwa dengan mengejar ampunan-Nya dan mentaati seluruh syari’at-Nya akan menghantarkan pada solusi problematika kehidupan saat ini. Dimana, secara global kini dunia menghadapi problem yang sama yaitu pandemi covid-19. Dengan mengejar ampunan-Nya tidak melewatkan untuk memburu malam Lailatul Qadar secara menyeluruh berserahdiri pada syari’at Islam maka pandemi covid-19 ini akan terobati. Dengan begitu butuh payung sebuah sistem yang menegakkan syari’at Islam secara keseluruhan/kaffah yaitu sistem khilafah Islamiyyah. Sebagaimana sejarah membuktikan adanya sebuah peradaban yang jaya selama 14 abad lamanya, mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat dan membentang di 2/3 wilayah dunia. Wallahu’alam bi as-showab.[]