Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

“This has been Ramadan I struggled the most”
.
Demikian tulis salah seorang teman Inggris di WAG. Dia selalu jatuh sakit saat Ramadan. Aku sendiri kurang tahu masalah kesehatan apa yang dia hadapi. Beberapa teman yang aku kenal juga mendapat ujian yang sama. Setiap Ramadan tiba, ada saja masalah. Infeksi saluran kemih yang tak kunjung selesai. Alergi yang menjadi jadi. Ujung-ujungnya mereka kecewa. Tak bisa seperti khalayak ramai yang begitu ‘menikmati’ berkah malam-malam Ramadan. Tak bisa menyuguhkan makanan untuk teman dan tetangga. Tak bisa berbuka puasa dengan khidmat. Ramadan tak semulus impiannya.
.
Berapa banyak dari kita merasakan hal yang mirip atau bahkan sama? Keinginan yang menggebu untuk berdua-duaan dengan Allah saja. Namun realita tak mengijinkan kita memenuhinya. Pagi tadi pun aku mendengar penuturan seorang teman. Betapa dia benar benar kehabisan waktu dan tenaga hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (suami, anak, ibu dan mertua). Jangankan waktu untuk berkhalwat dengan Rabb nya, bahkan untuk menyisir rambut atau sekedar duduk minum teh atau makan saja tak bisa. Apakah ini tabi’i-nya kehidupan di barat? Terlebih lagi London yang terkenal cepat ritmenya? Atau memang Allah سبحانه و تعالى sudah mencabut barakah waktu itu dalam kehidupan kita?
.
Semakin kita memikirkannya, semakin kita terjerembab ke dalam jurang keputus asaan. Semakin marah dan sebel pada diri kita sendiri. Kenapa kok aku tak bisa mengatur waktu dengan baik? Kenapa aku begitu tertatih-tatih sedang si A dan si B berjalan dengan lenggangnya! Padahal dia dan aku memiliki jumlah anak yang sama. Kenapa suaminya si C begitu bisa memahami kondisi isterinya sedang suamiku justru terus menuntut dan meminta? Kenapa anak si D begitu mudah diarahkan dan begitu berprestasi sedang aku kembang kempis hanya untuk mengajarkan kedisiplinan? Kenapa si E begitu bisa produktif di bulan Ramadan, lah aku cuma stuck di dapur saja? Kenapa si F begitu kreatif dengan dekorasi dan menu Ramadannya, sedang aku beberes rumah saja tak pernah selesai. Kenapa dan kenapa?
.
Wahai ibunda…. wahai muslimah yang istimewa … pejamkan mata … tarik nafas dalam dalam. Hitung 1 – 6. Kalau sudah hembuskan nafas…
.
Tak perlu mencari jawaban kenapa begini dan begitu jika jawaban tadi hanya akan semakin menyakiti diri kita sendiri. Tak perlu terus mempertanyakannya jika jawaban yang muncul justru menjadi racun yang melemahkan semangat kita untuk terus berbuat. Itu artinya kita hanya ingin menyiksa diri. Bukannya memperbaiki diri. Lah terus bagaimana?
.

  1. Yakinlah bahwa dalam kehidupan itu setiap hal ada fase-nya. Fase single adalah fase dimana kita punya banyak waktu untuk menyendiri dan upgrade diri. Fase menikah tanpa anak, kemana mana hanya berdua dengan misua. Fase menikah dengan 1,2,3 anak. Fase super sibuk dan secara fisik sangat ‘demanding’. Selanjutnya akan kembali ke fase tenang dimana anak-anak sudah beranjak dewasa dan kita kembali hanya berdua dengan misua. Nikmati saja fase Ini. Camkan dalam benak kita bahwa semua kondisi hanya bersifat SEMENTARA. Bukankah itu sudah sifat dunia? Tak bertahan selamanya. Semua akan ada jatuh temponya.
    .
    .
  2. Stop membandingkan diri kita dengan si A, B, C dan siapapun di dunia ini. Bahkan Allah tidak membuat kembar identik bernasib sama, berprestasi dan berkarakter sama. Tidak! Artinya perbandingan itu justru bentuk ketidak adilan. Kalau asal dan dasarnya sudah tidak akan sama, maka mana mungkin bisa dibandingkan? Kalau sekedar menjadikan orang hebat itu sebagai inspirasi, monggo dan oke oke saja. Tapi ketika perbandingan itu membuat kita paralisis dalam berpikir dan bertindak maka tentu ini bertolak belakang dengan hasil yang diharapkan saat mencari inspirasi. Allah sudah men-design ujian, nikmat dan jalan hidup untuk masing-masing manusia. Terima saja!
    .
    .
  3. Jangan pernah lupa bahwa Allah سبحانه و تعالى tak akan membebani hamba diluar kemampuannya. Jika kita diuji dengan sakit, anak dan keluarga yang demanding, kesulitan yang datang bertubi-tubi, pernikahan yang sedang terguncang maka Allah سبحانه و تعالى Maha Tahu bahwa kita memili stok kesabaran yang luar biasa. Bisa jadi kita saja yang tidak menyadari betapa banyak stok yang kita miliki. Kalaulah kurang, maka Allah سبحانه و تعالى sendiri yang akan menambahnya dan mengkaruniakan kesabaran itu selama kita mencoba untuk terus bersabar. Selama kita memohon bantuanNya.
    .
    .
  4. Mungkin terjaga dimalam malam Lailatul Qadr belum bisa kita lakukan karena capeknya badan mengurus ummat, keluarga, komunitas, dan berbagai tugas lain. Tapi selama tugas itu bernilai ibadah di mata Allah سبحانه و تعالى maka jangan pernah merasa kehilangan apalagi merasa bersalah. Jangan! Layaknya setiap hubungan, memang sangat wajar jika intensitas komunikasi kita dengan Allah سبحانه و تعالى bertambah maka kedekatan juga bertambah. Menyendiri bersama Allah سبحانه و تعالى memang sangat membantu untuk me-Reset kembali posisi kita sebagai hamba. Mengingatkan kembali lemahnya diri. Menikmati munajat dengan Sang Pencipta. Tapi kalau itu belum mampu kita lakukan karena tubuh yang tak lagi bisa di ajak kompromi sekuat apapun kita mencoba, maka jangan pernah berputus asa dengan Rahmat-Nya. Mungkin kesempatan itu belum datang saat ini tapi teruslah meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk suatu saat bisa kembali dekat denganNya seperti harapan dan impian kita.
    .
    Allah Subhanahu Wata’ala nyatakan dalam firmannya :

‎قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)
.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
.
.

  1. Allah سبحانه و تعالى hanya ingin melihat upaya kita. Layaknya anak yang kita minta mengerjakan tugas sekolah. Selama dia terus mencoba, mau berusaha sekuat tenaga, mau melakukan extra effort untuk memenuhi kewajibannya menyelesaikan tugas maka itu sudah cukup bagi kita untuk mencintainya. Allah سبحانه و تعالى menyukai orang-orang yang berusaha yang terus mencoba meski kesulitan, kekurangan dan ketidak sempurnakan mengiringi sifat amalnya. Terus mencoba dan Istiqomah jauh lebih berharga.
    .
    .
  2. Ada sebuah kalimat dari Winston Churchill, “The pessimist sees difficulty in every opportunity. The optimist sees the opportunity in every difficulty.”

Orang pesimis melihat kesulitan disetiap kesempatan sedangkan orang yang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.
.
Jadi jangan biarkan diri kita, benak kita dikuasai oleh pesimisme. Berfikir positif dan optimis lah bahwa setiap kesulitan dan fase repot adalah upaya Allah سبحانه و تعالى mendewasakan dan mengasah kemampuan kita untuk multitasking dan mengatur waktu. Mentalitas seperti ini akan sangat membantu kita untuk terus bergerak meski sulit.
.
Semoga Allah سبحانه و تعالى mengkaruniakan Kekuatan, kesabaran, kemudahan untuk kita merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang dengan Allah سبحانه و تعالى
.
London 17 Mei 2020 pukul 01:27
Ditulis di hari ke-24 Ramadan
.