Oleh: Maman El Hakiem

Sebenarnya ini yang dimaksud,penggalan kata sok, sial dan isme. Diserumpunkan senada sosialisme. Apa itu sosialisme? Adalah cara pandang kehidupan, yang bertitik tolak pada anggapan bahwa hidup ini mengalir begitu saja, secara alami mengikuti hukum alam, tidak ada keikutsertaan peran pencipta alam, yaitu Allah SWT. Akar masalah sebenarnya, adalah ketidak puasan manusia terhadap pemenuhan ekonomi yang dikuasai hanya oleh mereka segelintir orang, yang menguasai modal dan negara tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.

Sebagai bentuk perlawanan, sosialisme hadir sering mengatasnamakan rakyat tertindas,semisal nasib buruh dan petani. Dalam kanal inilah mereka masuk seolah memberi solusi untuk menciptakan kemakmuran. Konsep sama rasa sama rata, mereka tawarkan.Padahal, mereka sebenarnya menjadikan rakyat dan hartanya seutuhnya milik negara, tidak ubahnya materi yang selama masih ada manfaatnya akan dijaga, tetapi ketika sudah tidak berguna, akan dibuang bagai sampah. Prinsip sosialisme adalah habis manis sepah dibuang.

Cara berpikir sosialisme, tidak ubahnya siklus kehidupan materi atau benda mati, manusia dilihat hanya sekedar jasad yang harus dipenuhi kebutuhan fisiknya, ditambah naluri syahwatnya saja. Sosialisme tidak melirik bagaimana memenuhi naluri agama, bahkan menganggap agama itu seperti candu, racun kehidupan. Aturan hidup sosialisme tidak lain kerja, kerja dan kerja. No time for pray. Tidak ada waktu untuk beribadah. Aturan agama dianggap hanya akan menghalangi produktifitas kerja dan dianggap nihil dari nilai manfaat. Agama bagi mereka adalah kesialan.

Sosialisme adalah pemikiran(fikroh) yang tidak pernah mati pada manusia, terlebih jika kecukupan dan kemakmuran hidup rakyat belum bisa dipenuhi oleh negara. Selama masih ada kesenjangan sosial, sosialisme akan tumbuh kembali terlebih jika kapitalisme benar-benar telah gagal.Mereka akan melakukan rematch atau tanding ulang atas gulung tikarnya kekuasaan sosialisme Uni Soviet dulu,lewat kekuatan Cina saat ini.

Saat ini, kekuatan sosialisme berada di Cina dan sekutunya,meskipun sejatinya mereka bukan sosialisme tulen, melainkan sosial rasa kapital. Maka,wajar saja jika ada negara yang gemar memberikan berbagai bantuan sosial, tapi ujungnya hitung-hitungan kapital, pastilah ada peran Cina di dalamnya,bahkan bisa jadi kiblat isme dalam politiknya, meskipun berlindung dengan jargon nasionalisme, patriotisme segala macam. Payung mereka dalam perang pemikiran dan budaya saat ini, negara yang tidak tegas ismenya, pasti menginduk pada sosialisme Cina atau kapitalisme Amerika. Nah, dimana posisi negara dengan isme Pancasila?

Dalam peta politik dunia, negeri ini sebenarnya masih bisa terselamatkan dari pertarungan dua gajah isme yang saat ini seolah-olah mau bertarung, Cina dan Amerika. Asal saja kita sebagai negara yang kaya dengan potensi alam dan populasi penduduk yang mayoritas muslim ini mau menerapkan aturan Islam secara kaffah. Karena Islam jelas bukanlah Muhammad-isme, melainkan ajaran dari pencipta dan pengatur kehidupan, yaitu Allah SWT.

Adapun Rasulullah saw. sekedar menyampaikan risalah dengan teladan yang baik (uswah hasanah), untuk menyempurnakan akhlak manusia dari kegelapan menjadi terang benderang. Begitulah misi Rasulullah saw, juga diteruskan oleh para khalifah, pengganti beliau sepeninggalnya dalam urusan kepemimpinan umat, bukan dalam urusan kenabian, karena tiada nabi dan rasul setelah beliau wafat. Mengatur urusan umat dengan penerapan syariah secara kaffah itulah yang harusnya dipilih rakyat ini, jika ingin selamat dari krisis ekonomi dunia akibat wabah dan petarungan dua gajah yang kini sedang kelimpungan di ujung kehancuran.

Wallahu’alam bish Shawwab.[]