Oleh: Gayuh Rahayu Utami

Episode menghadapi pandemi covid-19 memang tidak bisa kita hindari. Makhluk yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh kasat mata manusia sampai detik ini masih berkelana ke seluruh dunia. Bahkan setiap harinya korban virus ini terus bertambah dan tidak terkendali.

Berbagai kebijakan yang dilontarkan oleh pemerintah pusat sesuai arahan dari World Health Organization (WHO) antara lain social distancing, physical distancing, work from home, penggunaan masker, mencuci tangan dengan menggunakan sabun, dan hand sanitizer dan lain sebagainya. Namun sejauh ini belum ada perubahan yang signifikan.
Para ahli dan peneliti pun juga melakukan tindakan prediksi untuk mengetahui sejauh mana wabah covid-19 akan berakhir khususnya di Indonesia.

Berdasarkan hasil dari riset dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dipublikasi hari Rabu, 29 April 2020. Untuk Indonesia, 99 persen kasus virus corona akan berakhir bulan Juni 2020. (cnnindonesia.com,29 /4/2020). Tindakan penelitian juga dilakukan di Singapura tepatnya di University of Technology and Design (SUTD) memberikan harapan bahwa penyebaran virus ini akan segera berakhir sebelum akhir tahun 2020. Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menyebutkan 97 persen kasus covid-19 di Indonesia akan selesai tanggal 6 Juni 2020 mendatang. Sedangkan 100 persen kasus covid-19 akan berakhir pada tanggal 1 September 2020. (cnbcindonesia.com, 2 Mei 2020).
Dengan berbagai prediksi yang dilakukan oleh para ahli bahwa

wabah ini berakhir dalam waktu dekat bisa memunculkan permasalahan baru berupa peremehan tingkat bahaya. Karena pada faktanya, penguasa hari ini untuk mengatasi wabah terkesan lamban dan plin-plan. Dampak dari wabah ini sungguh luar biasa mempengaruhi tatanan ekonomi, sosial, dan moral. Semakin menegaskan bahwa ekonomi yang berbasis kapitalisme telah menumbangkan tatanan keuangan negara. Banyak karyawan yang terkena PHK, dan terjadi gelandangan di mana- mana, sampai ada satu keluarga yang tinggal di masjid akibat tidak bisa bayar kontrakan. Di samping itu, kelaparan telah melanda rakyat akibat sistem yang telah nyata menyengsarakan manusia. Tidak peduli muslim maupun kafir. Tindakan kriminal semakin meningkat akibat kebutuhan dasar rakyat tidak dipenuhi oleh negara.

Sangat berbeda jauh jika pandemi ditangani sistem Islam antara lain melakukan kebijakan karantina wilayah (lockdown) secara total. Negara berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan, dan papan. Kemudian orang dari luar tidak boleh memasuki wilayah yang terkena wabah dan orang yang bertempat tinggal di wilayah yang terkena wabah tidak boleh keluar dari tempat tinggalnya. Dana berasal dari Baitul Mal yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan mengharamkan penimbunan logistik. Dengan demikian tanda- tanda runtuhnya peradaban kapitalisme semakin dekat. Terbukti bahwa sistem buatan manusia pasti mengalami kehancuran karena manusia itu bersifat lemah dan terbatas.

Allah mengirim tentara yang bernama corona untuk menunjukkan bahwa sistem kapitalisme adalah sistem yang benar-benar rusak dan merusak. Oleh karena itu, kita berjuang lebih keras lagi untuk memperjuangkan sistem Islam yang mulia nan agung yang telah terbukti memanusiakan manusia selama 13 abad dan menjemput janji Allah dengan terus memberikan edukasi ke lapisan masyarakat tentang gambaran hidup di bawah naungan Islam.