Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Bagaikan disambar petir di siang bolong. Seakan itulah ungkapan yang ingin disampaikan rakyat saat mengetahui pemerintah akan mengadakan konser penggalangan dana wabah Covid-19.

Konser Virtual Berbagi Kasih Bersama Bimbo, Bersatu Melawan Corona digelar sebagai penguatan terhadap masyarakat dalam bulan Ramadan di tengah pandemi Virus corona. Konser tersebut rencananya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Persiden Maruf Amin, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR RI Bambang Soestatyo, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo, serta artis-artis ternama sebagai pengisi acara seperti Judika, Rossa, Via Vallen dan lainnya. Diberitakan dana yang terkumpul dari konser ini sebesar 4 Miliar rupiah. (Suara.com, 17/5/2020).

Sebenarnya melangsungkan sebuah konser tidak ada salahnya, akan tetapi sudah tepatkah konser kali ini di selenggarakan di tengah-tengah pandemik apalagi di bulan Ramadan? Membayangkan konser di bulan Ramadan rasanya agak sedikit aneh, entah apa yang dipikirkan para pemimpin negeri ini, dalam setiap langkah mencari alternatif solusi di masa pandemi.

Semestinya seorang penguasa adalah seorang yang memiliki jiwa berpolitik, mengatur negara dan masyarakatnya dengan rasa empati dan simpati yang tinggi. Rakyat tidak pernah dijadikan korban atas kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh penguasa. Justru kebijakan-kebijakan itulah yang mestinya melahirkan perlindungan dan solusi bagi rakyat.

Jadi bagaimana mungkin sebuah konser musik menggalang dana, menjadi solusi tepat bagi problem besar negara. Hal seperti ini biasanya dilakukan oleh komunitas sosial kemasyarakatan, atau ide- ide dari para pemusik yang peduli pada kondisi negeri. Justru sebaliknya jika konser ini menjadi salah satu kegiatan pemerintah, banyak kalangan masyarakat yang menyayangkan kondisi ini. Pertanyaanya adalah, kemanakah kekayaan negeri ini? Indonesia yang katanya kaya raya, tetapi untuk mengatasi wabah ini kerap kali harus mencari donasi kelas rakyat?

Miskin empati di masa pandemi, seakan inilah yang ditunjukkan penguasa pada rakyatnya. Hilangnya empati menjadi bukti ketidakpedulian pemimpin pada rakyat yang notabene mayoritas berpenduduk muslim di negeri muslim. Terkhusus di bulan suci Ramadan, alangkah baiknya penggalangan dana di isi dengan kegiatan lebih mengedepankan suasana bulan suci ramadan.

Padahal salah satu tugas pemimpin adalah untuk melindungi rakyat dari segala bahaya. Baik bahaya yang menyerang keimanan (akidah) maupun bahaya secara fisik yang mengancam jiwa. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat terhadap apa yang dipimpinnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” (HR. Al-Bukhâri no.893 dan Muslim no.4828).

Diluar konteks pencarian dana Corona, Sejatinya bukanlah cara pemimpin umat menyelesaikan suatu masalah besar dengan cara seperti diatas, yaitu penggalangan dana pada level grass root. Justru pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah besar seperti ini dengan cara yang lebih global. Mengarur dan mengeluarkan kebijakan yang mampu membantu secara signifikan kebutuhan rakyat dalam menghadapi wabah besar seperti ini. Meminimalisir melibatkan dampak keterpurukan rakyat yang justru semakin menghimpitnya.

Menggalang dana dengan konser adalah sebuah bentuk cuci tangan penguasa terhadap kewajiban mengeluarkan dana bagi penanggulangan wabah. Seharusnya dana untuk penanggulangan wabah diambil dari pos-pos pendapatan negara. Sayangnya negara lebih memilih untuk mengutamakan pendanaan bagi korporasi. Ini terlihat dari bantuan pinjaman yang diambil pemerintah dari IMF sebesar Rp 4.97 Triliun (okezone.com, 23/03/2020), yang diperuntukkan bagi penyelamatan ekonomi yang kita sama-sama tahu yang akan menikmatinya adalah para korporasi. Dan tentunya diperuntukkan bagi penanggulangan wabah lebih kecil dari yang dianggarkan untuk perbaikan ekonomi.

Cara Pemimpin Islam Mengatasi Wabah

Salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinan Umar Radhiyallahu ‘anhu layak dijadikan teladan, termasuk tentang bagaimana ketika Umar menghadapi wabah yang menyerang rakyatnya.

Pada masa paceklik dan kelaparan, Umar Radhiyallahu ‘anhu hanya makan cuka dan minyak sehingga kulitnya berubah menjadi hitam. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Amirul Mukminin Umar juga segera membagi-bagikan makanan dan uang dari baitul mâl hingga gudang makanan dan baitul mâl kosong total. Kemudian dia mengirimkan surat kepada dua gubernur untuk memberikan bantuan kepada wilayah yang sedang mengalami paceklik dan kelaparan. Bantuan pun datang hingga terpenuhi kebutuhan rakyat dan terbebas dari kelaparan.

Satu lagi peristiwa penting di masa Daulah Islam adalah suatu ketika khalifah Umar bin Khattab berangkat ke Syam bersama rombongan besar para sahabat. Namun di tengah perjalanan, sesampainya di wilayah Saragh, para pemimpin pasukan muslim di wilayah itu datang menyambut mereka; diantaranya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah bersama para sahabat lainnya. Mereka mengabarkan kepada sang Khalifah bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Abdurrahman bin ‘Auf berkata: “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda:’Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak menyelamatkan diri.’ Hadits diriwiyatkan (HR. Muslim)

Ketegasan dan pemikiran yang dimiliki seorang pemimpin muslim sangat tergambar oleh Sosok Khalifah Umar dalam mengatasi sebuah wabah besar. Dampak-dampak dari kebijakan yang diambilnya mempengaruhi kondisi rakyatnya. Mereka terhindar dari bahaya wabah lenyakit, terbebas dari kelaparan karena harus di karantina, dan terhindar dari berbagai keburukan yang terjadi di negerinya, karena menutup semua akses kegiatan dari luar wilayah karantina ke dalam, dan sebaliknya.

Pemimpin sebagai penguasa negeri menjalankan tanggung jawabnya dalam melindungi keamanan dari wabah, ketahanan pangan, dan terindar dari rasa was-was dari berbagai aspek. Jika penguasa mengeluarkan kebijakan tegas, tepat, dan menjamin rakyatnya, pastinya wabah akan cepat berlalu, kondisi akan segera pulih kembali, karena rakyat melaksanakan kebijakan tersebut dengan disiplin tinggi dan ikhlas karena ketaatan pada Allah swt, dan kepatuhan pada pemimpin umat.

Negeri Islam dengan Daulah Khilafahnya inilah yang mampu menjalankan roda kepempinan hakiki, dengan pemimpin amanahnya menjaga dan mengurus negerinya dengan hukum-hukum Allah swt. Wallahu a’lam bishawab.[]