Oleh: Puji Rahayu

Sepuluh hari terakhir Ramadhan yang Istimewa sudah tiba. Tahun ini memang berbeda karena Ramadhan ditengah wabah corona. Dan beberapa wilayah juga sedang melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga aktifitas masyarakat diluar rumah terbatas dan pemandangan di tempat-tempat ibadah tidak semakmur seperti biasa. Seakan diistirahatkan oleh Corona.
Selain itu Ramadhan kali ini, kaum muslim harus berempati tinggi terhadap sesama. Karena dampak ekonomi dari covid-19 sangat terasa terutama kalangan menengah ke bawah. Kelaparan menjadi ancaman. Maka patutlah untuk menyisihkan harta untuk membantu yang kekurangan daripada berbelanja berlebihan karena mengejar diskon ugal-ugalan. Barang yang lama masih bisa dipakai dimanfaatkan saja. Lebih baik menghiasi hati dengan kebaikan daripada menghiasi diri dengan barang yang pada akhirnya jadi sampah yang menimbulkan tambah masalah.

Walaupun kondisi berbeda namun Ramadhan tetap Istimewa. Tetap bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Apalagi sepuluh hari terakhir. Karena ini saatnya mengejar Lailatul Qadar yang pemiliki nilai luar biasa. Allah menyebut malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Maka beruntunglah jika bisa mendapatkan Lailatul Qadar dan mengisi malam-malamnya dengan ketaatan yang sempurna.
Dengan tetap di rumah saja. Ini lah saatnya untuk benar-benar menata diri menjadi manusia sejati. Manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya yakni untuk beridadah kepada Allah semata. Baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah yang telah diperintahkan.

Mari kembali kepada tuntunan Nabi Muhammad saw dalam mengisi sepuluh terakhir Ramadhan. Dari aisyah bahwa Rasul ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan selalu menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Beliau membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggangnya. Buat rumah menjadi tempat ibadah yang indah. Meski di tengah pandemi, jangan sampai dilewatkan kesempatan emas yang diberikan Allah untuk beramal sholih di sepuluh hari terakhir ini.

Pandemi bukan menjadi kendala untuk menghidupkan malam-malam dengan ibadah. Meskipun I’tikaf tidak bisa, masih bisa sholat malam di rumah, baca Qur’an bisa di rumah, dzikir di rumah,kajian juga bisa di rumah dengan online.
Perbanyak doa agar masa pandemi segera berhenti. Apalagi pada malam Lailatul Qadar yang merupakan salah satu dari empat waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Jangan sampai karena meratapi adanya pandemi, jadi manusia yang merugi. Hindarkan diri dari menyia-nyiakan waktu yang diberi. Ingatlah dengan hadist ini “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni”(HR. Ahmad). Kembalikanlah moodboster, hadapi dengan sabar yang terjadi. Dengan ijin Allah masa sulit ini akan menjadi musim semi.