Oleh: Nurul Rachmadhani, Ciomas-Bogor

PSBB belum berakhir, namun nyatanya masyarakat banyak yang tidak menuruti peraturan yang diberikan. Seperti baru-baru ini yang terjadi di Pasar Anyar, Bogor. Lautan manusia memenuhi jalanan. Berdesak-desakan, bahkan masker tidak dikenakan. Seolah tak ada pandemi, tak ada yang terjadi. Padahal, virus Corona masih merajalela menjangkiti, siapa saja tanpa pandang bulu. Sayangnya, banyak masyarakat yang kurang disiplin, hingga akhirnya abai tak peduli.

Jenuhnya masyarakat pada situasi yang ada, menjadi salah satu sebab terlebih mendekati hari raya Idul Fitri akhirnya masyarakat berani melanggar aturan. Tidak hanya itu, pun pemerintah pusat tak bisa mengambil kebijakan yang tegas dan bijak. Alih-alih menenangkan malah membuat pernyataan di luar nalar. Berdamai dengan Corona. Bahkan moda transportasi mulai banyak diaktifkan kembali, pusat perbelanjaan dan sekola akan dibuka kembali. Padahal pandemi yang terjadi belum bisa ditangani, bahkan tidak tahu kapan akan berakhir.

Negara seakan abai, tak memperhatikan keselamatan jiwa rakyatnya dan tak peduli ketika akhirnya banyak masyarakat yang memenuhi tempat-tempat umum. Terlihat bahwa apa yang terjadi karena faktor ekonomi. Demi meningkatkan faktor ekonomi, akhirnya pemerintah menyerah. Lagi-lagi ini semua dilihat hanya dari sisi materi. Tak heran memang saat kapitalisme yang menjadi junjungannya. Ujung-ujungnya herd immunity, siapa yang kuat dialah yang bertahan. Lantas dimana peran negara dalam mengurusi masyarakat di dalamnya?

Seharusnya, negara bisa mengambil langkah tepat dan bijak. Terlebih di masa pandemi saat ini, tanggung jawab pemerintah dalam menanggulangi wabah menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Sebagaimana saat Islam dahulu menanggulangi wabah tha’un. Bisa memisahkan mana yang sakit dan sehat. Lockdown. Hingga akhirnya wabah terhenti, dan rakyat bisa kembali melakukan aktivitas seperti sedia kala.