Oleh: Lelly Hapsari

Selesai berjamaah salat subuh, warga kampung berdatangan ke rumahku untuk bertakziah. Embah telah meninggal dunia tadi malam, setelah satu bulan lebih mengalami sakit tua yang agak parah hingga lumpuh tak bertenaga. Setiap harinya hanya berbaring diatas ranjang bambu, beliau tidak mau diletakkan diatas kasur entah apa alasannya. Yang membuat hati kami sedih hingga di usia 74 ini embah belum mau sholat, kilahnya
“salat itu mudah, mengko mengko wae isoh tapi yen berbuat baik iku sing susah, jadi kalau kelakuannya baik aja baru salat. Daripada dicemooh orang setiap hari salatnya gak pernah ninggal tapi buruk kelakuannya.”
Dan banyak lagi alasan yang diutarakan yang jelas jelas melanggar syariat islam, agama yang dipeluk sejak lahir dan tertera dalam kartu keluarga maupun KTPnya. Bisa jadi Alloh sudah mencabut hidayah dalam dadanya karena kemusrikan yang sudah dijalani. Padahal sama sekali tidak ada untungnya jika harus melestarikan warisan berupa kemistikan, justru akan menghancukan diri sendiri juga malapetaka dari keluarga. Aku sudah lelah bahkan tersiksa dengan semua ini sayangnya masih belum berdaya.

Saat masih sakit setiap malam embah berteriak teriak kepanasan, minta di perciki air, katanya dadanya sesak dan seperti terbakar, tulang belulangnya terasa di remuk remuk. Ibu, ayah, bibi dan paman bergiliran menjaganya, kondisi itu berlangsung dirumah karena dokter hanya memvonis embah darah tinggi biasa yang bisa hanya minum obat jalan tanpa harus opname. Lagi lagi penyakit non medis.

Ibu dengan telaten menyuapi embah, menggantikan popok pampersnya serta mengajariku cara merawat luka di punggung akibat terlalu lama terlentang, dengan sabar tidak menanggapi kerewelan embah yang sering marah marah tidak sabaran, terkadang membuka popoknya sendiri yang sudah berlumuran najis dan menghamburkan ke lantai karena tidak sabar menunggu ibu yang masih sedang repot mengerjakan tugas rumah yang lainnya.

Aku menyaksikan ketulusan ibu yang berbakti kepada orantua tunggalnya, secara tidak sengaja ibu telah mengajarkan kewajiban anak terhadap orangtua untuk berbuat baik, memuliyakan sekalipun orangtu itu suka bermaksiat kepada Alloh.

Jika semua orang yang mengunjungi embah selalu menahan napas atau menutup hidung dengan masker, karena bau embah yang pesing juga ditambah bau borok yang anyir. Tapi lain bagi ibu, itu adalah ladang pahala yang tidak bisa digantikan dengan harta. Klimaksnya 3hari sebelum kematian si embah, beliau terus meronta seperti sangat tersiksa apalagi saat dibacakan ayat suci Alquran, akan semakin menjadi jadi dan mendisis desis seperti ular. Mbah Purwo sesepuh kampung menyarankan kepada ibu agar embah dimandikan daun kelor dan juga di minumkan air tumbukkan daun bidara dengan jumlah ganjil, karena menurut beliau si embah itu sebenarnya sudah meninggal tinggal jazadnya saja, hanya saja karena embah punya banyak ‘pegangan’ benda pusaka yang penghuninya tidak rido bila jasa embah nanti di kuburkan, jadi jalan satu satunya harus mengeluarkan benda mistis yang ada ditubuhnya dan membakar semua benda benda pusaka yang selama ini di rawat, di beri makan di mandikan di mulyakan layaknya orang hidup.

Ibu dan paman sebagai anak kandung embah menuruti nasehat mbah Purwo. Dikampung kami memang sangat mudah mendapatkan pohon kelor dengan daunnya yang lebat, tetapi tidak dengan pohon bidara. Melihat bentuknya saja kami tidak tahu, bersyukur ada teman ayah ngaji yang mau membantu mencarikannya.

Akhirnya, setelah mendapatkan kelor dan bidara, ibu segera menyiapkan semua keperluannya. Sebaskom air yang dicampur daun kelor dan daun bidara untuk menyeka badan embah. Juga segelas air putih yang dicampur dengan 7 lembar tumbukan daun bidara yang sudah dibacakan ayat ayat rukhiyah untuk di minumkan pada embah.

Saat semua alat itu di bawa masuk ke kamar. Sepertinya jin yang bersemayam di tubuh embah sudah mendeteksi bakalan akan di rukhiyah, bukankah jin memang membenci daun bidara. Embah langsung bereaksi, tubuhnya yang renta dan lemah mendadak sontak terhuyung berdiri tegak dengan amarah dan.keluar caci maki dari mulutnya, padahal sebelumnya beliau lumpuh tidak berdaya. Jangankan untuk berdiri, mengangkat sendok pun gemetaran, untuk makan saja harus disuapi

Embah berteriak teriak meracau sambil mendesis meronta menolak untuk di basuh badannya. Tetapi teman teman ayah sudah sigap, sebagian mencoba melumpuhkan jin yang ada ditubuh embah dengan bacaan bacaan rukhiah. Tubuh yang awalnya kaku itupun kini melemah, dengan berhati hati ayah dan paman membopong kembali tubuh ringkih itu untuk ditidurkan diatas ranjang bambu kesukaannya. Setelah embah terlentang diatas ranjang ibu segera membalurkan air yang sudah dicampur dengan daun kelor dan daun bidara. Setelah dibalurkan keseluruh tubuh sebanyak 3 kali, badan embah kembali kaku mengejang meliuk liuk seperti ular, mulutnya mendesis berisik lebih keras, raut wajahnya murka menyeramkan seperti bukan wajah embah yang biasa murah senyum kepada siapa saja. Hingga ketika pak ustad mengusap bagian leher, mulut embah langsung membuka terngaga hal itu tidak disia siakan oleh tim rukhiyah, dengan segera menuangkan air putih yang sudah dicampur dengan tumbukkan daun bidara tadi untuk dimasukkan kedalam mulut embah. Dan beberapa teguk pun terminum juga.

Embah akhirnya melemah, beliau terbaring seperti tertidur begitu tenang, perlahan matanya mulai terkatup. Namun beberapa menit kemudian beliau kembali terbangun dan muntah muntah hebat, mengeluarkan banyak lendir dari mulutnya. Indra ke enamku mulai menangkap pemandangan yang aneh dan mengerikan. Hanya aku yang bisa melihstnya dengan jelas. Satu persatu ular mulai keluar dari badan embah, mulai dari ukuran terkecil hingga terbesar mereka menuruni ranjang dan memenuhi sekitaran tempat embah tidur.

Ular ular itu awalnya jumlahnya hanya satu atau dua saja, keluar dari mata, hidung, mulut, jari jari dan hampir dari semua pori pori, lama lama ular yang keluar jumlahnya semakin banyak berserakkan dilantai saling bertindih. Beberapa ekornya berderit dan saling mematuk dan saling membelit. Kemudian ular ular itu mulai menjalar pada kakiku Spontan aku histeris, tanps sadar menjerit ngeri dan aku jatuh tersungkur, pingsan. Teriring tercabutnya nyawa embah hari itu.

Bersambung