Oleh: Lelly Hapsari

Mungkin ayah yang sudah menggendongku saat pingsan tadi dan membaringkan di atas tempat tidur ibu.

Hari sudah berganti pagi. Saat itu ku masih terbaring di kamar sambil ditemani Ruli putri paman Ahmad adik ibu, perlahan ku membuka mata sambil menatap langit langit kamar yang bercat warna putih, badanku masih terasa lemas tak bertenaga.
Tapi segera ingatan tentang ular itu kembali dan membuatku panik, dengan sedikit memaksa untuk bangun dari tempat tidur, ku kibas kibaskan baju dan memastikan agar benanr benar tidak ada ular yang menempel di badan.

“Mbak … tenang, istigfar … disini tidak ada ular, tidak ada apa apa, saya sudah dari tadi nungguin mbak Lintang di sini, sudah bertenang ya, ambil nafas … ”

Aku terduduk tapi sambil terisak. Derit suara pintu, ibu membuka pintu kamar untuk memeriksa kondisiku, ditangan kanannya ada segelas air hangat dicampur madu. Dengan lembut ibu mengusap anak rambut dan mencoba meminumkan air itu, sedikit demi sedikit ku hirup dan badan ini menjadi lebih sedikit segar bertenaga. Aku memeluk ibu yang masih dengan menangis ketakutan sambil menceritakan apa yang ku alami sesaat sebelum pingsan. Bayangan itu sangat lekat dan nyata di mataku.

” Sudah, gak ada apa apa kok Lin. Sekarang kamu istighfar yang banyak, makanya tetap fokus jangan suka ngelamun. Sudah sehat kan sekarang atau masih pusing?”

“Alhamdulillah sudah mendingan bu.”

” kalau sudah kuat berdiri, yuk ikut kedepan sama Ruli. Diluar masih banyak orang. Sebentar lagi jenazah embah mau di makamkan, kalau kamu masih merasa belum kuat berjalan lebih baik tetap di rumah saja.” Ibu mencoba menenangkan dengan kata kata lembutnya yang di akhiri dengan mengecup keningku.

“Gih buk, tapi saya tetap mau ikut mengantarkan jenazah kakek sampai di pemakaman, inshaaAlloh kuat kok bu untuk berjalan.”

“Kalau gitu bersiaplah, segera mandi dan ganti baju. Rul … tolong kamu temani mbak Lintang ya, budhe masih banyak urusan di depan, jangan biarkan mbak mu melamun sendirian.”

“Gih budhe …. ” jawab Ruli mengiyakan kata kata ibu.

Jam menunjukkan pukul 10.45 menit, mulai iring iringan jenazah keluar dari rumah menuju ke pemakaman. Yang ikut mengantarnya pun lumayan banyak. Rata rata mereka juga ikut merasakan kehilangan atas kepergian embah. Maklumlah, embah juga termasuk sosok yang dituakan dan di hormati di kampung ini.

Dengan mengenakan gamis berwarna biru navi polos yang sudah di persiapkan ibu yang dipadu kerudung warna putih, yang tergantung hanger seadanya.

Langkah kaki ku percepat, agar tidak ketinggalan jauh dari iring iringan tadi, jarak antara rumah dan pemakaman lumayan dekat, sekitar 200 meter. Kebetulan di depan makam ada masjid, jadi jenazah sempat disemayamkan sejenak untuk disalatkan dan selanjutnya langsung dimakamkan.

Tidak lebih dari 15 menit, iring iringan jenazah memasuki area pemakaman mendekati tempat lubang makam yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Aku berdiri agak jauh dari lubang makam sekitar 3meteran tetap ditemani Ruli yang berdiri di sampingku. Airmata tak bisa tertahan, bulirnya berhamburan merasakan kehilangan embah yang selama ini menyayangi dan memanjakanku, tempat ngumpet di saat ibu mencari untuk memarahiku atas kesalahan dan kekoyolanku. Embah yang tidak pernah pelit untuk kasih uang saku lebih, beliau selalu menceritakan tentang dongeng dongeng epos kepahlawanan dalam kisah wayang jawa, kasih sayangnya begitu khusus, bahkan kadang berlebihan mungkin karena aku cucu pertamanya.

Kembali ku seka air mata, segala kenangan indah timbul tenggelam seperti tanyangan slide foto yang saling berjejalan. Beberapa orang sudah terlihat mulai turun kedalam lubang termasuk ayah dan paman, sementara yang lainnya mengulurkan jenasahnya dari atas. Penutup keranda mulai dibuka, sebongkah raga yang pasrah terbalut putihnya kain kafan menunggu saat saat terakhirnya untuk di semayamkan.

“Embah, selamat jalan. Semoga Alloh ampunkan dosa dosa embah selama di dunia.” Doaku dalam hati.

Saat jenazah mulai diangkat dan di keluarkan dari keranda, suasana semakin syahdu sarat dengan duka. Terlihat beberapa kali ibu pun turut menyeka airmatanya. Bagaimanapun juga terasa perih ditinggalkan orang tuanya jelas pasti ada rasa kehilangan yang mendalam.

Prosesi pemakaman sudah hampir separuh jalan, kembali tanpa bisa ku kendalikan mata batin ini mulai beraksi. Indra ke enam bisa menerobos menembus batas logika, mataku jelas jelas tidak rabun dan juga tidak sedang berkhayal. Tapi mengapa yang terlihat bukan jasad embah yang diangkat orang orang tadi, tapi justru sosok bangkai ular yang sangat besar tertutup kain putih. Ku kerjap kerjapkan mata untuk meyakinkan hati ini bahwa memang nyata dan tidak sedang bermimpi. Spontan ku bungkam mulut rapat rapat agar tak terkeluar sepatah katapun menghindari ke gaduhan.

“Rul …, apakah itu tadi jenazah embah?” Tanyaku sambil gemetaran

“Ya, iya mbak. Mau jenazah siapa lagi, kan kita lagi menghadiri pemakaman embah. Ada apa mbak ?”

“Ah, gak …, gak ada apa apa.” Jawabku agak gugup. Tetapi badanku gemetar cukup hebat, hingga kuputuskan untuk duduk di kursi yang memang sudah disediakan Ruli. Berbagai pertanyaan terus menghujani pikiran sendiri. Apakah ini yang dimaksud rahasia Illahi? Allohualam.

Kelopak kelopak kamboja berguguran disapu angin lembut pagi itu, suasana duka masih terasa kental, setelah jenazah selesai di kebumikan dan diakhiri dengan doa untuk si mati. Satu persatu pentakziah meninggalkan makam, akupun tak luput ikut terus mendoakan si embah. Bayangan ular besar tadi sudah mulai menghilang sehingga hatiku kembali netral.

Terlihat ibu, ayah, paman dan bibi masih bersimpuh di depan gundukkan tanah yang masih basah. Ku hampiri mereka sambil ikut larut dalam doa.
“Yuk Lin kita pulang, semoga embah sudah tenang di alam sana.”

Ibu membantu membimbing berdiri dan berjalan menuju pintu keluar areal pemakaman diiringi ayah, paman, bibi juga Ruli yang sedari tadi bersama kami. Tetapi baru beberapa langkah tiba tiba telingaku mendengar suara desisan ular yang sangat berisik, spontan kepala ini menengok ke arah belakang. Astaghfirullah haladzim, entah datangnya dari mana tiba tiba ada banyak ular yang berdatangan, sangat banyak jumlahnya mungkin ratusan atau bahkan lebih. Ular ular itu berebutan untuk masuk kedalam tanah makam embah, seperti sedang berebut sesuatu. Dan itupun yang bisa melihat hanya aku

Lututku gemetar dan kaku, dada terasa sesak, mulut tercekat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, lidah kelu. Mataku tercengang terus menatap ke arah gundukkan makam embah tanpa bisa di kedipkan. Spontan terisak dengan airmata yang memburai menggambarkan ketakutan. Hanya istighfar dalam batin ini sempat terucapkan, bisa jadi itu adalah azab bagi orang yang semasa hidupnya meninggalkan salat apalagi di tambah dengan memuja kemusrikkan.
“Ya Alloh, Engkau perlihatkan kuasaMu kepadaku sebagai peringatan.” Keluhku dalam hati dan selanjutnya aku kembali pingsan.

“Lintang …!”
Teriak ibu dan Ruli secara bersamaan yang melihatku mulai roboh terkulai jatuh ke tanah.

Bersambung

-Lelly Hapsari-

#Belajarmenulisfiksi#
#30HariBerkarya
#Putaranke3
#menulismenebarkebaikan
#semuabisamenulis
#day26