Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Dua hari yang lalu aku mendengar kabar sedih dari seorang teman. Dia hamil anak kedua. Memasuki minggu ke-13. Allah berkehendak mengambil si janin. Doaku semoga Allah سبحانه و تعالى mengganti dengan yang lebih baik. Berbaik sangka kepada Allah سبحانه و تعالى ketika mendapat musibah adalah sumber kekuatan yang tak ada duanya. Memang berat, apalagi jika janin ini sudah menjadi penantian sekian lama. Pasti bertumpuk tumpuk rasa sedihnya.

Bagi seorang wanita, memiliki keturunan dan bisa mengandung, melahirkan dan membesarkan anak kandung adalah sebuah impian. Tak semua bisa mendapatkannya. Apalagi jika harapan itu sudah di ambang mata kemudian hilang seketika. Seperti mencabut pohon dari akarnya. Perih, pedih, sakit, merasa bersalah, khawatir kedepannya. Semua rasa campur aduk menjadi satu dalam sesaat. Jika tidak dikendalikan akan bisa mendorong seseorang ke jurang depresi. Yang lebih menyakitkan jika datang nasehat nasehat yang terkesan memojokkan. Bukannya mengajak bersabar dan mendoakan kebaikan tapi malah memberi komentar yang menyakitkan.

Sudah menjadi kebiasaan kaum hawa. Mengajukan pertanyaan yang susah dijawab. Jika ada wanita belum menikah, pastilah ditanya kapan menikah? Lah padahal si empunya juga penasaran kapan bisa bertemu dengan jodohnya? Dimana dia? Kenapa lama sekali tak menjemput? Adakah dia akan dipertemukan dengan jodoh dunia? Atau Allah سبحانه و تعالى menyimpannya di surga?

Kalaulah wanita itu sudah menikah, pertanyaannya semakin sulit. Berkali kali ditanya kapan punya anak? Seolah dia yang mengontrol segalanya. Kenapa lama? Apa memang ada rencana menunda (catet: this is the most annoying and intrusive question I’ve ever heard). Seolah wanita yang ditanya tahu jawabannya. pertanyaan ‘risih’ ini dibungkus lafad peduli padahal kenyataannya justru menyakiti. Mungkin ada yang berdalih “Duh nggak usah Sensi deh!” Lah kalau tahu itu pertanyaan bikin sensi ngapain juga ditanyakan?

Sebagai wanita yang sudah menikah dan punya anak, aku mungkin tak mampu menyelami sedalam dalamnya rasa gundah, gulana dan kerinduan wanita yang menunggu keturunannya. Kalimat dan puisi seindah apapun tak mampu menghibur kekosongan itu. Nasehat kesehatan dan saran ini itu tak akan juga membantu meringankan beban.

Yang harus kita lakukan sebagai teman hanya mendengarkan saat mereka siap menuturkan. Menjadi pendengar setia. Tak perlu bertanya jika mereka tak ingin berbagi rasa. Memberikan nasehat kebaikan jika tepat waktunya. Beri mereka semangat dan support saat mereka memerlukannya.

Duhai wanita perhiasan dunia … memang tak mudah menerima kenyataan bahwa jalan hidup kita berbeda. Di saat wanita lain menimang bayi, engkau merasakan sesak di dalam dada, merindukan buah hati. Di saat wanita lain bercengkrama dengan keluarganya, engkau berjalan menatap masa depan sendirian saja.

Tak perlu risau Adinda …Karena manusia mulia yang tersebut dalam Al Quran pun pernah mengalami ujian yang serupa. Sarah alaihassalam yang merindukan seorang anak harus menunggu hingga usia senja. Justru bayi Ismail itu lahir dari rahimnya Hajar. Asiya alaihassalam pun harus menimang bayi Musa namun dia tidak terlahir dari rahimnya. Maryam ‘alaihassalam yang tak menginginkan bayi justru diberi karunia bayi Isa.

Kadang Allah سبحانه و تعالى menyimpan sesuatu untuk kebaikan kita
Kadang Allah سبحانه و تعالى tidak memberi apa yang kita pinta karena Dia Maha Tahu efek buruk dari ‘kenikmatan’ itu
Kadang Allah سبحانه و تعالى mengambil sedikit dari apa yang ada di tangan kita untuk memberikan karunia yang lebih besar

Allah Ta’ala pun telah berfirman,

‎و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Hidup tidak hanya tentang menikah dan punya keturunan. Ada banyak wanita hebat yang mampu mengguncang dunia. Menopang peradaban meski mereka belum menikah dan tidak punya keturunan. Sebut saja ibunda Aisyah رضي الله عنها .Ada juga Fatimah Al Fihri. Seorang wanita ternama pendiri universitas Al qarawiyyin di Maroko. Universitas pertama!

Ada banyak peran yang bisa kita tunaikan sebagai hamba Allah سبحانه و تعالى. Selama ada dalam koridor syara’ teruslah berkarya!

London 20 Mei 2020 pukul 12:57pm
Ditulis di hari ke-27 Ramadan