Oleh: Atik

“Ibuuu, mamas nakal!” teriakan putriku terdengar dari ruang tamu. Lalu, drama sehari- haripun dimulai. Pertengkaran kecil antara dua buah hatiku dimulai, di tengah-tengah pekerjaanku yang belum selesai.

“Mamas, adek, kalian…bla bla bla,”

nasihat demi nasihat mengalir, terkadang dengan penuh kesabaran. Namun, seringkali habis rasa sabar.

Begitupun hari ini. Ting tong, HP ku kembali berbunyi. Salah seorang teman yang sering meminjam sejumlah uang kembali menghubungiku. Dan dengan terpaksa aku menolaknya. Sembari kutulis tentang ‘ patient’ , sabar, dan ‘voucher unlimited patience’.

Tetiba temanku tersebut kembali mengirimkan pesan , bahwa ia menjual voucher yang kumaksud. Saat kutegaskan kembali, ia pun tertawa.

Saya hanya bilang, “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

“Iya, Mah,” jawabnya. Dan melanjutkan, ” Mah,nanti saya jual wedang roti dan bubur sumsum. Bisa saya antar.”

Saya tersenyum sambil mengetik, “Baik, Mam. Saya pesan dua porsi, njih.”

Sabar, sabar, sabar…sungguh sabar itu tak terbatas. Tidaklah tepat bila ada ungkapan bahwa sabar ada batasnya. Bila saja ada yang menjual voucher unlimited patience, voucher yang berisi kesabaran tanpa batas laiknya voucher kuota internet, mungkin akan banyak yang membelinya. Termasuk saya.