Oleh: Nurul Mauludiyah (Praktisi Pendidikan Jember)

Bismillahi tawakkaltu alallah! Mungkin ini doa dan ungkapan yang paling tepat untuk menanggapi wacana masuk sekolah kembali bulan Juli. Sebagai seorang pengajar, ada rasa rindu yang sudah sejak lama membuncah. Ingin hati segera bertemu dengan siswa siswi yang lucu nan menghibur, kebetulan saya banyak mengajar anak-anak kelas 1 sekolah dasar.

Namun, jika membaca, mengamati dan mencermati data-data penyebaran virus Covid19 yang tak kunjung mengalami penurunan, hati ini kembali teriris ngeri membayangkan apa yang terjadi nanti. Anak-anak yang datang ke sekolah dengan riang gembira, tanpa mereka sadari sedang dalam kepungan bahaya virus yang menyebar disekeliling mereka. Kalau-kalau mereka tak kuat daya tahan tubuhnya? Kalau-kalau mereka ternyata punya sakit bawaan yang memicu berkembangnya virus? Kalau-kalau mereka berangkat sekolah dalam keadaan sehat namun ternyata pulang justru menjadi carier yang menyebarkan virus dirumah? Kalau-kalau sesama mereka justru tumbang satu persatu karena saling menularkan…Ah, Sungguh tak kuat membayangkan nya saja.

Namun, rasa yang tak bisa dikawal ini mungkin tak dirasa juga oleh penguasa kita. Meski kita memang harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru yang hari ini sering disebut the new normal, memutuskan kembali sekolah saat tak ada keseriusan untuk menjaga keselamatan generasi saya fikir adalah keputusan gegabah dan tak bijaksana. Lihat saja hari ini, lewat dalih kampanye kurva landai penguasa kita mulai melonggarkan PSBB, mengizinkan under 45 untuk kembali bekerja bahkan armada umum dan bandara mulai dibuka. Padahal, sudah tak kurang banyak peneliti yang membantah kampanye tersebut. Bukankah gegabah namanya?
Dan menjadi tampak tak bijaksana, saat keputusan tersebut justru seolah menunjukkan keberpihakan penguasa pada kepentingan ekonomi dibanding harga nyawa generasi muda.

Ketika penguasa tak benar-benar serius memutus rantai penyebaran wabah, generasi justru dibiarkan layaknya tak terjadi apa-apa. Kalaupun diwacanakan akan ada protokoler baru agar bisa meminimalisir penularan, yakin akan berhasil?
Ah, dibenak saya kembali teringat memori dulu saat beberapa murid, termasuk saya tertular penyakit cacar air meski mereka sudah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Bagaimana dengan virus ini yang jauh lebih mudah menyebar dan tak ada satupun yang sudah kebal dengan vaksin karena vaksinnyapun belum ditemukan?
Dengan minimnya intervensi dan kebijakan efektif penguasa, kalau tak boleh dibilang abai, wacana sekolah kembali bisa jadi bencana besar hilangnya generasi kita.

Bukan menakut-nakuti, tapi kita harus tergambar kondisi di masa yang akan datang. Kita butuh exit strategi! Bukan sekedar skenario sistem belajar jarak jauh yang efektif dan kreatif.

Kita butuh sistem yang ramah manusia. Sistem yang mengutamakan terselamatkan nya nyawa dibanding mengamankan aset swasta. Ya, sistem hidup tersebut adalah Islam. Generasi benar-benar aman dibawah perlindungan tata kelola kehidupan yang diatur dengan syariah. Bukan hanya sekedar menjaga kehidupan generasi, Islam menyediakan seluruh faktor yang bisa menghasilkan generasi berkualitas. Sistem Islam menjamin kebutuhan pokok, termasuk menjamin tersedianya fasilitas layanan kesehatan prima, juga pendidikan berkualitas dalam kondisi apapun bagi setiap warga negaranya. Bagaimana jika kondisi wabah seperti hari, terjadi? Kesatuan tata kelola yang semuanya memperhatikan syariah, Biidznillah, akan mampu menemukan jalan keluar terbaik sesuai tuntunan syariah. Kepemimpinan yang dimiliki oleh sistem Islam yang tercermin dalam karakter para penguasa kiranya cukup untuk membuat tenang warga negara.

Dimana penguasanya berpegang teguh pada hadist Rasulullah “Pemimpin adalah pemelihara, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya”. Akhirnya, tugas kita bukan sekedar menyerah pada kebijakan penguasa yang makin hari makin tak tentu arah. Kita harus mulai berfikir pada solusi, fokus memberikan dan mengedukasi generasi pada solusi sempurna Islam, sembari terus ikhtiar ditengah penguasa yang tak lagi berfikir tentang kita, rakyatnya.