Oleh: Suci Dwi Oktavianti

Saat duka masih menyelimuti tanah pertiwi, akibat dampak dari wabah Covid-19. Kembali tanah pertiwi kita berduka dengan kemarahan yang mendominasi.

Dilansir dari Tvone, melalui sebuah video dokumentasi yang memperlihatkan jenazah anak buah kapal Indonesia yang bekerja untuk kapal asal china dilarung ketengah laut. Tidak hanya itu, terungkap sederet fakta atas perlakuan yang tidak layak selama bekerja dikapal china, hal ini diakui oleh salah satu ABK yang selamat.

Dari pengakuannya ia bekerja selama 18 jam perhari atau bahkan lebih, tidak diperbolehkan istirahat maupun duduk kecuali ketika nasi keluar setiap 6 jam sekali, dan untuk minum mereka harus meminum air laut yang disuling sementara pekerja asal china diperbolehkan meminum air mineral biasa. Tempo.co

Dilansir juga dari video yang diunggah oleh Tribunnews.com, bahwa para TKI ini hanya digaji 1,7 juta selama 13 bulan, yang itu artinya mereka hanya mendapatkan 130 ribu rupiah perbulannya. Sudah pasti, apa yang mereka dapatkan terkait dari perlakuan, fasilitas dan gaji, tidak sebanding dengan apa yang mereka perbuat.

Sebetulnya, jika kita mau flasback ulang atas pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan kepada negara kita, maka sudah sepatutnya kita marah atas apa yang mereka lakukan.

Masih sangat melekat dalam ingatan kita saat akhir penghujung tahun 2019 berlanjut pada awal tahun 2020, dimana kapal-kapal mereka yang bertonase besar berlayar bebes pada kawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) diperairan Natuna, kepulaian Riau. Bukan hanya itu mereka menggunakan bahan-bahan berbahanya dan beroprasi diperairan Indonesia. Bahkan tidak segan berkamuflase menggunakan bendera Indonesia yang berakibat nelayan-nelayan kita kalah bersaing, ekosisten rusak dan negara kita merugi sangat besar setiap tahunnya.

Dulu kita kecewa atas pernyataan-pernyataan para elit pemerintah yang seperti mengangap remeh pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak china, hal ini terbukti atas pernyataan Prabowo sebagai mentri pertahanan yang menganggap china adalah negara sahabat, namun china tidak menganggap hal serupa, karena kenyataannya sahabat tidak akan menyerang sahabatnya.

Hal ini juga diperkuat atas pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan, yang menurutnya masuknya kapal asing tersebut karena memang kemampuan kapal Indonesia belum bisa menjaga perairan dalam Negeri. AyoBandung.com pernyataannya seperti pernyataan tidak peduli dan berlaku pastrah atas apa yang dilakukan china, padahal ini terkait dengan kesejahteraan para nelayan dan kedaulatan indonesia.

Dan lagi-lagi hari ini kita kembali kecewa atas penanganan kasus ABK yang tidak tertangani dengan baik. Ini terbukti dari ketidak singkronan informasi dari pihak pemerintah dan pihak keluarga korban. Diberitakan merdeka.com bahwa keluarga dari dua orang ABK yang meninggal mengaku kaget karena tidak dilakukannya pemakaman hukum islam.Sementara dari pihak pemerintah yaitu mentri luar negeri Retno Marsudi menyampaikan perusahan kapal memberi tahu pihak keluarga dan telah mengantongi surat persetujuan pelarungan dilaut. (30/03/20)

Dan anehnya berita ini diungkap dan dipublikasikan oleh media-media Korea Selatan, salah satunya yaitu mbc dan terkait hal tersebut Youtuber Jang Hansol mengulas video itu dichenel youtubernya.

Belum lagi terkait tenaga kerja china yang seolah diberi perlakuan khusus, ini terbukti dengan direncanakannya kedatangan 500 TKA Tiongko yang akan bekerja pada salah satu perusahaan pabrik pemurnian nikel di kabupaten Konawe, di Sulewesi Tenggara, dengan pemeriksaan kesehatan saat nanti mereka datang, diberitakan oleh Kompas Petang. Hal ini berbanding terbalik dengan para tenaga kerja kita yang bekerja pada mereka, yang mendapatkan perlakuan tidak layak hingga menyebabkan jatuhnya korban.

Sudah pasti semua ini lahir dari sistem kapitalis yang mementingkan para pemilik modal. Dari semua fakta-fakta diatas dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sepatutnya kita tau siapa dibalik pemilik modal tersebut, hingga kepentingan rakyat menjadi no 2, jangan pernah menyebut bahwa ini semua untuk kepentingan rakyat karena nyatanya kami tetap menjadi korban utama dari kepentingan-kepentingan yang terdapat dibalakangnya.

Sistem Kapitalis sendiri lahir dari pemisahan agama dari kehidupan yaitu sekularisme. Dimana hampir semua kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang memenangkan syahwat semata.

Sudah sepatutnya kita hijrah pada sistem yang langsung Allah turunkan, yang kebijakan-kebijakannya diambil dan ditetapkan melalui hukum-hukum Allah yang terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Islam, mengatur kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga membangun Negara! Allahu a’lam bishawwab.