Oleh: Maman El Hakiem

Berburu baju baru lebaran. Itulah kebiasaan yang memaksa kaum muslim di negeri ini menantang bahaya, tidak mengindahkan protokol kesehatan di tengah wabah. Sepertinya “tradisi” tidak mampu dihilangkan dalam keadaan genting sekalipun, lebih mementingkan egoisme daripada menjauhi kerumunan. Pasar tumpah sebagai lahan mencari nafkah rakyat kecil menjadi pilihan karena murah dan tentu bisa tawar harga, sekalipun ada harga bandrol itu bisa dimainkan.

Secara psikologi masyarakat, cara mereka membunuh ketakutan adalah dengan berani menghadapi resiko, terlebih rakyat telah merasa banyak dibohongi oleh sikap penguasa yang tidak tegas, plin plan dalam mengeluarkan peraturan. Sudah dibingungkan dengan dikotomi mudik dan pulang kampung, aturan jaga jarak demi mencegah penularan virus pun hanya berlaku untuk rakyat kelas kecil. Kalau boleh bertanya apa bedanya kerumunan di pasar tumpah dengan di Sarinah saat penutupan salah satu gerai rumah makan cepat saji? Apa bedanya konser dengan obrog yang membangunkan sahur?

Sudahlah, sekedar catatan kemarin yang tidak perlu ada jawaban. Lebaran adalah hari istimewa yang memang harus disambut dengan pakaian yang terbaik. Ini yang masih banyak orang salah mengerti, pakaian terbaik tidak selalu harus baru. Adakalanya terbaik bisa sesuatu yang biasa dipakai karena senang memakainya. Tetapi, karena sudah turun temurun, bahkan mungkin karena bagi rakyat kecil membeli pakaian baru hanya mampu dilakukan setahun sekali, maka momen lebaran adalah waktunya.

Namun sayang, berburu baju lebaran saat ini telah teracuni “hadlarah” dari pemahaman kehidupan yang tidak Islami. Jenis pilihan baju lebaran bukan lagi terfokus pada koko,gamis,sarung dan jilbab. Nuansa lebaran, terutama generasi milenial disodori ragam produk yang mengabaikan aturan syariat. Fungsi pakaian yang harusnya sebagai penutup aurat dan menjaga kehormatan diri telah terdistorsi oleh perang propaganda sekulerisme. Nilai fashion diutamakan sebagai gaya daripada aturan agama. Lebaran harusnya mengenakan pakaian takwa, malah tergoda diskon besar-besaran pada beragam jenis pakaian ala tahun baruan masehi.

Salah kaprah ini, akibat salah dalam memaknai pakaian terbaik, apalagi dalam suasana kesucian lebaran. Pakaian terbaik harusnya mengenakan “pakaian takwa”, bukan pakaian budaya orang-orang yang benci terhadap ajaran Islam. Mereka telah mengeruk keuntungan yang besar dari “pasar” hari raya umat Islam, dengan meracuni pula budaya berpakaian yang mempertontonkan aurat meskipun dilabeli busana muslim kekinian.

Pakaian takwa dalam makna sebenarnya, tentu harusnya pakaian orang-orang yang telah sukses dalam menjalani ibadah puasa. Mereka adalah orang-orang beriman yang berhasil meraih nilai ketakwaan hakiki, yaitu mencintai apa-apa yang dicintai Allah SWT dan membenci segala apa yang dibenci-Nya. Inilah yang harusnya diburu, bukan sekedar baju baru saat berlebaran.

Wallahu’alam bish Shawwab.