Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

“There is comfort in knowing that everything is temporary”

Quote di atas menjadi begitu bermakna ketika kita menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup. Masa pandemi begini banyak sekali orang kehilangan mata pencaharian. Rindu kepada orang tua yang nun jauh di sana. Apa yang membuat orang kembali semangat adalah harapan bahwa keburukan dan kesusahan ini akan berlalu. Tak selamanya ada. Corona dan segala hal yang diakibatkan olehnya juga akan berakhir. Dua puluh tahun ke depan, semua hanya tinggal memori.

Maha suci Allah yang mengizinkan kita lupa akan rasa sakit dan kesusahan. Memang ingatan tentang peristiwa itu masih ada. Tapi ‘nylekitnya’ tak ada lagi disana. Satu contoh, jika ada orang pernah menderita kecelakaan fatal, hampir hampir kehilangan nyawanya. Berakhir di rawat inap RS berbulan -bulan lamanya. Kemudian pulih kembali. Maka bisa jadi dia ingat betapa susahnya proses pemilihannya. Namun kaki, tangan bahkan bekas luka-nya tak lagi terasa nyeri. Sekuat apapun mengingat rasanya, tak akan bisa. سبحان الله

Contoh lain, jikalau seseorang pernah tersakiti hatinya, maka peristiwanya masih bisa diingat tapi rasa marah, sakitnya tak akan terasa seperti saat luka itu ditorehkan. Ini lah rahmat dari Allah سبحانه و تعالى untuk hambaNya. Wajar jika manusia kadang jatuh di lubang yang sama. Karena rasa sakit itu tak lagi dirasakan. Walhasil banyak orang kembali mengulang kesalahan (dekat dengan orang yang sama atau tak memasang dinding yang tinggi untuk melindungi hatinya).

Demikian juga keadaan muslim di masa sekarang. Kita berharap akan berakhir segera. Penindasan yang tak ada habisnya. Pengusiran dari tempat tinggal, penangkapan, pemerkosaan, pengejaran, propaganda, kebohongan, pelarangan sampai pembunuhan dan pengeboman yang menelan jutaan korban. Inilah masa sulit yang dihadapi kaum muslimin sekarang di berbagai negeri. Kita di Indonesia dan aku di Inggris hanya mampu melihat, mendengar membaca sambil terenyuh. Merasakan sakitnya. Bertanya-tanya sampai kapan mereka menjadi korban? Kapankah kemenangan ada di tangan para pejuang kebenaran? Akankan kita menyaksikan keberadaan penguasa yang mampu melindungi dan membela rakyatnya? Pemimpin yang mengurus ummat dan bukannya mengurus kepentingan mereka dan partainya?

Memang sulit dibayangkan kapan?! Tapi sebagai Muslim kita harus memiliki keyakinan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tak ada di dunia ini yang bersifat selamanya (eternal). Semua sementara (temporary). Sekuat dan sehebat apapun dia, akan binasa. Sudah banyak contohnya. Firaun dengan kesombongannya. Qarun dengan kepongahannya. Abu lahab dan Abu jahal dengan kepala batunya. Semua runtuh tak tersisa. Tak sulit bagi Allah سبحانه و تعالى menghancurkan mereka. Tapi bagi kita, para hambaNya, mereka adalah ujian kita. Kita dihidupkan di masa dimana Islam diabaikan dan menjadi bahan olok-olokan. Masa sulit penuh cobaan. Layaknya masa perjuangan Rasulullah di fase kedua dakwahnya ﷺ. Semua nampak gelap. Kondisi ummat sangat memprihatinkan. Dari sisi pemikiran, perasaan, kecenderungan, kesukaan sekaligus kondisi keseharian. Mereka menanggung beban dan kesulitan yang tak mudah diselesaikan.

Tapi tak ada IMPOSSIBLE bagi seorang yang beriman. Kemenangan itu akan datang. Setelah kegelapan dan kesulitan ini, akan ada cahaya dan kemudahan. Saat waktu itu tiba, tak ada lagi perjuangan menegakkan Islam. Yang ada adalah menjaga penegakannya. Kenapa kaum muhajirin sangat spesial di mata para sahabat? Karena merekalah generasi pertama yang membersamai Rasulullah ﷺ saat perjuangan itu berat. Saat Islam belum memiliki kekuatan fisik dan belum ditopang oleh kekuatan sebuah sistem negara. Bersama Rasulullah mereka menegakkan Islam di Madinah. Demikianlah kondisi kita sekarang. Akankah kita bersegera tergabung dalam barisan pejuang layaknya kaum muhajirin? Untuk membantu meringankan beban ummat? Ataukah kita menjadi penonton saja? Itu pilihan kita.

Seorang teman menggambarkan sebuah analogi dari sebuah buku yang dia baca. Dibuku itu diajarkan untuk berani mengambil resiko. Untuk bisa berani, seseorang harus bermental pejuang. Layaknya sebuah pertandingan yang mempertontonkan matador dan seekor banteng. Tak banyak yang berani menyeburkan diri ke dalam kandang banteng! Hanya matador. Satu orang saja! Sisanya menjadi penonton. Perjuangan memenangkan pertandingan itu hanya dialami oleh si matador. Rasa sakit, takut, lelah dan ujian kesabaran hanya bisa dirasakan oleh matador yang masuk ke kandang banteng. Kalau dia menang maka HANYA dia yang merasakan indahnya kemenangan. Bahagianya menakhlukkan rasa takut. Makin terampil menghadapi kesulitan. Melihat dengan jelas keberanian dan kemampuan diri sendiri. Sedang para penonton yang ada di luar lingkaran? Mereka hanya ikut tertawa jika matador menang. Sedih jika matador kalah. Kesimpulan: jika ingin memetik hasil yang di inginkan, jangan gantungkan amal itu kepada orang lain. Terjun dan masuk saja ke lingkaran perjuangan. Niscaya ada kebahagiaan luar biasa. Kebahagiaan yang tak bisa dirasakan ketika kita ada di luar lingkaran.

Takut kepada konsekuensi? Wajar! Tapi kembalikan saja kepada firman Allah سبحانه و تعالى yang telah Dia janjikan

Allah Ta’ala berfirman,

‎فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)

Ibnu Katsir menjelaskan perkataan di atas dengan kaedah ilmu bahasa Arab,
“Kesulitan (al-‘usru) menggunakan isim ma’rifah di dua keadaan (didahului alif laam) maka kesulitan pertama dan kedua dianggap satu atau dianggap sama. Sedangkan kemudahan (yusrun) menggunakan isim nakirah (tidak terdapat alif laam) sehingga KEMUDAHAN itu berbilang, bukan hanya satu. Oleh karenanya disebut, “Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.” Kesulitan pertama yang disebut dalam ayat sama dengan kesulitan kedua, berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kemudahan itu berbilang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598).

Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda,
‎لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ
“Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini dha’if karena terdapat A’idz bin Syuraih (rumaysho.com)

So … jangan ragu. Jadikan momentum Ramadan ini sebagai batu loncatan. Menjadi muslim yang peduli dengan kondisi ummat dan bertekad membantu proses kebangkitan.

Wallahu’alam

London 22 Mei 2020 pukul 11:24 malam
Ditulis di hari ke-30 Ramadan []