Oleh: Ummu Athifa
(Ibu Rumah Tangga, Member Revowriter)

Pendidikan dalam suatu negeri sungguh sangat penting. Terutama bagi Indonesia, merupakan negeri dengan banyak sekolah dan universitas. Hanya saja sudah hampir 3 bulan semua dilakukan di rumah. Ini diakibatkan karena kebijakan pemerintah dalam penerapan PSBB. Semua pembelajaran dilakukan secara online.
Hanya saja hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan akan dimulai sekolah kembali. Hampir semua siswa ataupun mahasiswa sudah bosan belajar di rumah saja. Keinginan untuk kembali ke sekolah sangatlah besar. Hal ini dikarenakan akan bertemu dengan teman-teman dan guru-guru.
Ada wacana bahwasannya sekolah akan dibuka pertengahan Juli mendatang. Seperti Dinas Pendidikan DKI Jakarta berencana memulai kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021, yakni pada 13 Juli 2020. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan, rencana itu disusun dengan mempertimbangkan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka mencegah penularan Covid-19. (kompas.com/18Mei2020).
Namun menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa keputusan pembukaan kembali sekolah akan ditetapkan berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Nadiem juga mengklarifikasi rumor terkait adanya kabar dan pemberitaan Kemendikbud akan membuka sekolah pada awal tahun ajaran baru di bulan Juli adalah tidak benar. Metode belajar tetap disesuaikan dengan kondisi dan status kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah. (news.detik.com/23Mei2020)
Wacana itu tidak disambut positif oleh Federasi Serikat Guru Indonesia. Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriawan, ia meragukan koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terlihat tak sinkron dalam penanganan corona. Hal ini tentu akan dikhawatirkan banyak pihak. Salah satunya, siswa dan guru akan menjadi korban wabah covid-19. Mengingat pemerintah pusat dan dan daerah kerap memegang data penyebaran virus yang berbeda-beda.
Rencana ini memang dikhususkan pada daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman terhadap wabah covid-19. Protokol kesehatan harus diterapkan saat sekolah, yaitu mewajibkan penggunaan masker dan jaga jarak. Namun tetap saja tidak bisa menjadi jaminan untuk mengurangi kekhawatiran, pasalnya dalam beberapa kasus ada orang yang positif covid-19 tanpa menunjukkan gejala.
Tentu ini akan merugikan siswa dan para guru. Kejelasan mekanismenya saja belum jelas harus seperti apa. Ditambah sikap ketidakjelasan pemerintah pusat. Meskipun harus berdamai dengan korona, tetapi tetap saja perlu kepedulian yang tinggi dalam hal pendidikan.
Tidak hanya dengan memperkuat imunitas tubuh dengan gizi seimbang, olah raga yang cukup, serta berjemur setiap pagi. Tetapi lebih dari itu, pemerintah harus memerhatikan kondisi kesehatan seluruh rakyatnya. Imunitas tubuh tentu ditunjang dengan lingkungan yang baik pula.

Hingga detik ini, pemerintah masih menunggu vaksin yang disiapkan WHO. WHO memperkirakan akan rampung kisaran akhir 2021. Tentu masih 1,5 tahun lagi jika harus membuka sekolah tahun depan. Waktu yang sangat lama bagi pemerintah jika harus menunggu, sedangkan pendidikan sangat kental kaitannya dengan roda perekonomian negeri ini. Artinya, pemerintah lagi-lagi memikirkan kepentingan pribadinya daripada rakyat. Mementingkan nilai materi daripada nyawa rakyatnya.
Sikap ini jelaslah mengabaikan keselamatan rakyat. Memulihkan kondisi ekonomi dalam keadaan terhimpit seperti ini bagi kapitalis harus segera diwujudkan dan pendidikan salah satu lahan basah untuk meraup profit sebanyaknya. Astagfirullah!

Berbeda dalam Islam, negara (baca: pemerintah) akan tampil terdepan dalam setiap keadaan. Tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain. Bahkan tidak akan tega mengorbankan nasib rakyatnya atas dasar pertimbangan ekonomi. Tidak ada sikap plin-plan dan ragu-ragu dalam mengambil langkah solusi menghadapi wabah.
Pemimpin dalam memiliki sikap tegas dan percaya diri, tidak gagap, tidam ragu menghadapi wabah. Karena mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sebagimana apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika menghadapi wabah dengan cara menerapakan metode karantina wilayah, demi memastikan agar penyakit tersebut tidak menular dan menyebar. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR. al-Bukhari)
Adapun dalam pemenuhan hajat hidup di tengah wabah juga pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, beliau senantiasa memenuhi kebutuhan rakyatnya sampai-sampai tidak ada satupun rakyat yang tidak mendapat bantuan. Tungku-tungku api dinyalakan sejak fajar menyingsing dan dibagikan kepada rakyat sehingga bencana kelaparan tak terjadi. Inilah sistem pemerintahan Islam yang senantiasa bersinergi dengan sistem ekonomi Islam sehingga negara mampu menjamin setiap kebutuhan rakyatnya.
Betapa mulia sistem Islam, sejatinya solusi yang ditawarkan oleh sistem Islam bukan sebatas memberi kesejahteraan namun juga keberkahan. Hanya dengan Islam pula, pendidikan tidak akan terbengkalai. Pendidikan akan berjalan dengan baik dan memastikan fasilitasnya pun diberikan gratis.
Negara tentu tak perlu menunggu vaksin untuk membuka sekolah. Karena dalam Islam, fasilitas kesehatan sudah terjamin. Tidak akan negara menyengsarakan rakyatnya demi kepentingan ekonominya pribadi.
Wallahu’alam bi shawab.