By: Usagi Tsukino

Menghabiskan waktu dengan menonton drakor (drama Korea) memang menjadi kegiatan yang banyak orang lakukan selama masa karantina. Seperti halnya nonton serial drakor terbaru berjudul The World of Married.

Drama Korea tersebut sedang hangat diperbincangkan di media sosial karena berhasil membuat banyak penonton berteriak geram. Ya, serial ini menceritakan tentang perselingkuhan rumah tangga di Korea dan mendapatkan rating tinggi.

Tidak hanya ceritanya yang terbilang seru, namun ada juga efek buruk terselip akibat nonton drama Korea dengan tema perselingkuhan satu ini. Apa dampaknya?

Efek atau dampak buruk yang timbul ketika seseorang terlalu sering atau bahkan terlalu hanyut saat nonton drama Korea, apalagi tentang perselingkuhan. Seorang psikolog Zarra Dwi Monica, M.Psi., menjelaskan bahwa, salah satu dampak yang paling bisa terjadi ketika menonton film tentang perselingkuhan adalah mereka cenderung menjadi insecure (rasa tidak aman, gelisah, takut pada kondisi tertentu). Hal ini bisa semakin menjadi-jadi, jika sebelumnya orang tersebut sudah memiliki sifat insecure yang sangat tinggi.

“Mereka yang sebelumnya sudah punya sifat insecure, drama sejenis ini bisa memengaruhi secara negatif. Karena dalam film tersebut diceritakan bahwa wanita yang terlihat sangat sempurna saja masih bisa diselingkuhi oleh suaminya ke perempuan lain yang digambarkan lebih muda,” ujar Zarra.

“Dia saja yang sempurna bisa diselingkuhi, apa lagi aku yang nggak ada apa-apanya?” ujar Zarra mencontohkan celotehan perempuan yang tengah insecure.

Lalu, mereka yang punya trust issue dengan pasangan yang terdahulu, juga bisa semakin tervalidasi ketakutannya. Akibatnya, orang itu bisa cenderung semakin posesif, mengatur bahkan selalu curigaan dengan pasangannya. Hal ini jelas tidak baik untuk hubungan antar pasangan, baik itu yang sudah menikah maupun yang masih dalam tahap pacaran.
(Disarikan dari artikel klikdokter)

Hmmm,
Sebegitu mengerikannya dampak nonton drama ini. Sampai bisa membawa dampak negatif pada psikologis penonton. Mengapa seperti itu?

Hal itu karena gambar, termasuk film, adalah media yang mempunyai kesempatan yang lebih baik, dan jauh lebih cepat, dibanding bacaan untuk membuat orang memahami pesan-pesan tertentu.
Bahkan belakangan ini, sejumlah studi di bidang neurosains membuktikan bahwa film memang dapat mengendalikan sentimen orang.

Lewat functional magnetic resonance imaging (fMRI), para ilmuwan dari New York University mengetahui reaksi otak manusia terhadap adegan, warna, dan musik latar dalam film; dan hal itu menjadikan film-film yang mempunyai tujuan tertentu, misalnya menakut-nakuti, mempengaruhi, sukses menancapkan pengaruh dan pesan di kepala para penontonnya. Penelitian lain dari Linfield College mengungkapkan bahwa tontonan di layar kaca berpengaruh terhadap tingkat agresivitas seseorang.

Maka tidak heran jika film kerapkali dijadikan sebagai sarana propaganda. Bisa propaganda politik, gaya hidup, atau bahkan propaganda agama. Banyak kisah diangkat ke dalam layar perak dengan tujuan menyebar pandangan hidup dari tokoh yang difilmkan tersebut. Dan tanpa sadar, masyarakat digiring untuk menerima pandangn si tokoh. Film / drama bisa dengan mudah mempengaruhi siapa saja untuk bertindak dan berfikir tanpa disadari.

Lalu bagaimana Islam memandang film?

Apakah film dibolehkan dalam Islam.
Sebagai karya seni, film adalah salah satu produk seni berupa gambar visual dan suara. Pada dasarnya, mubah saja membuat atau menikmati karya seni selama tidak ada unsur yang diharamkan didalamnya.
Ketika institusi Islam tegak, sangat dimungkinkan menggunakan film sebagai sarana propaganda untuk menyebarkan aqidah dan ide-ide Islam.
Apalagi di abad 21 ini. Kecanggihan efek animasi dalam sebuah film yang mempropagandakan Islam akan semakin memberikan pengaruh yang besar bagi penonton film. Propaganda ide-ide Islam akan lebih diterima oleh masyarakat. Tidak seperti sekarang yang justru mempropagandakan kehidupan bebas tanpa batas.