Oleh: Damisri (Komunitas Setajam Pena)

Terdengar aneh memang tentang kebijakan yang diambil oleh penguasa saat ini. Apalagi disaat wabah seperti sekarang. Terasa pilih kasih terhadap umat Islam, apalagi beberapa waktu lalu umat Islam melalui Ramadan yang istimewa. Ramadan di tengah pandemi corona, yang dibatasi seluruh aktifitasnya.

Kebijakan yang tidak pro dengan rakyat yang mayoritas umat Islam. Di pasar-pasar, mall, supermarket, transportasi, bandara, dan lain-lain masih buka. Sedangkan tempat ibadah masjid-masjid dan aktivitas umat Islam di awasi, dibatasi, tidak leluasa. Walau sudah disiplin mengikuti prosedur dengan jaga jarak, pakai masker, dan menghindari jabat tangan atau bersalaman, namun tempat ibadah tetap dijaga.

Seperti dilansir tribunnews.com (27/03/2020), jemaah menunaikan salat Jumat dengan shaf berjarak satu meter di Masjid Nasional al-Akbar, kota Surabaya Jawa timur. Meskipun tetap menggelar salat Jumat di tengah wabah Covid-19, pihak masjid tetap menerapkan sejumlah prosedur yaitu cuci tangan dengan hand sanitizer, periksa suhu badan, masuk bilik sterilisasi atau penyemprotan desinfektan, dan pemakaian masker serta jaga jarak (social distance) satu meter tiap baris atau shaf salat jamaah.

Wacana relaksasi tempat ibadah yang digaungkan oleh menteri agama Fahrul Razi didukung oleh Persaudaraan Alumni 212. Menurut mereka jangan sampai ada diskriminasi saat pemerintah membuka akses bandara tetapi rumah ibadah tidak dibuka. “Sebab kalau tidak, ini bisa jadi bom waktu pembangkangan massal umat Islam karena merasa ada diskriminasi kebijakan.” Ujar ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif pada hari rabu 13 Mei 2020. Ia pun berharap wacana tersebut bisa cepat direalisasikan dan dikomunikasikan dengan pihak terkait termasuk majelis ulama Indonesia(MUI).

Ulama, Mana Suaramu?
Walau para pendekar Islam bersuara mengusulkan dibukanya tempat-tempat ibadah mereka, hanyalah sebuah wacana jika tidak dihiraukan oleh pihak penguasa. Ini adalah merupakan tanda-tanda pengekangan terhadap aktivitas agama(Islam). Karena pengambil kebijakan kini sudah terasa berpihak kepada para pengusaha besar, demi menopang perekonomian negara yang sudah terseok-seok. Meski harus menghambat ibadah umat yang didamba setiap setahun sekali yakni salat Idul Fitri. Ya, sholat Idul Fitri tahun inipun berbeda, hanya dirumah saja.

Harusnya kita sadar bahwa kebijakan yang diterapkan tidak mendamaikan dan mensejahterakan rakyat. Tetapi justru menimbulkan persoalan baru yang tumbuh dalam benak umat. Bukannya umat itu semakin loyal terhadap penguasa, tetapi justru semakin brutal ingin melawan kebijakan yang memang benar-benar berlawanan dengan aktivitas mereka.

Kita Butuh Ulama Pejuang
Disaat kebijakan mendeskrimasi umat Islam, harusnya para ulama menjadi garda terdepan umat yang memperjuangkan suara umat demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Layak kita contoh seorang ulama besar bernama Said bin al-Musayyib pernah mengalami kriminalisasi saat menolak baiat kepada putra Abdul Malik (al-Walid dan Sulaiman) sebagai ganyi dari Abdul Aziz bin Marwan, akhirnya Hisyam bin Ismail (selaku Gubernur Madinah) memberi sanksi 60 cambukan kepadanya dan dipenjara (Siyaru Alam An Nubala, 5/130). Pada riwayat lain bahkan Sa’id diboikot, tidak diajak bicara (al-Thabaqatu al-Kubra, 5/128), bahkan dicambuk (Siyaru Alam An-Nubala, 4/232).

Lebih parah dari itu peristiwa itu, Sa’id bin Jubair seorang Tabi’in dipenggal kepalanya oleh Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, yang merupakan panglima ‘bertangan besi’ dari kekhilafaan Umawi, gara-gara menentang khilafah Umawi bersama Ibnu al-Asy ats (Wafayatul Ayan, 2/373). Demi memegang kebenaran, ia tak gentar kalaupun pada akhirnya harus gugur.

Ya, semestinya ulama lantang menyuarakan aspirasi umat Islam yang keberatan terhadap kebijakan yang diterapkan. Disaat danya wabah yang berkepanjangan ini, yang menimpa dunia dan jagat raya kita harus segera kembali kepada yang Empunya jagat raya. Dan sepenuhnya bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya segera berakhir wabah yang diturunkan ke bumi tercinta ini. Dengan segera kembali menerapkan kebijakan sesuai dengan syariat-Nya yakni syariat Islam yang rahmatan lil alamin. Hanya berpijak pada aturan Islam saja yang mampu mengatasi problematika umat manusia di dunia hingga akhirat. Semoga kita semua segera terbebas dari wabah korona yang membahana di dunia. Aamiin. Wallahu a’lam bishowab.