Oleh: Yanti Maryanti

Berkumandang gema takbir

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

“Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd”

Artinya:

“Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah”.

Pertanda kebahagiaan umat Islam kembali ke fitrah bagaikan bayi yang baru terlahir ke dunia ini. Diumpamakan catatan putih yang belum tergores pena yang mencatat peliknya kehidupan.

Moment lebaran saling memaafkan atas kealfaan, kekhilafan yang tak luput mewarnai kehidupan kita. Yang tak mampu kita laksanakan dihari-hari biasa. Meski mungkin ada wajah lain dari salin memaafkan yaitu tak saling jabat tangan, jaga jarak dan pertemuan lebaran tahun ini tak lupa menggunakan masker ditengah wabah Corona, dengan tujuan memutus siklus wabah Corona.

Kita terlahir sebagai identitas individu dan identitas sosial. Identitas individu kita sebagai struktur jiwa dan fitur kepribadiaan, jadi pemaaf itu lebih baik. Dan tidak mudah ketika kita yang minta maaf bukan moment lebaran seakan mengikis harga diri atau gengsi.

Sebagai individu sosial, ketika seseorang sebagai apa dengan profesionalnya, misal sebagai seorang guru begitu lapang dada sehingga dia jadi pemaaf. Dan bukan hanya itu sebagai bentuk ibadah dan rasa tanggung jawab kita saling memaafkan.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.

Artinya : “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134).