Oleh: Yanti Maryanti

Jika sudah ada pernyataan kata terserah, seakan menemukan jalan buntu. Dan merupakan pernyataan frustrasi, masa bodoh, suka-suka, semau lho, ini terjadi karena tidak mengindahkan peraturan perundangan yang dibuat pemerintah tentang menghadapi Covid 19.

Sisi lain dari kebijakkan adalah seolah ada kebijakkan yang pincang, PSBB diberlakukan sementara di bandara yang datang dari luar sudah dibebaskan. sehingga pernyataan itu perlahan diabaikan.

Implementasi PSBB itu lemah tidak tegas, seperti kurang bernyawa, siapa yang mesti disalahkan?
Aturan adalah aturan siapa yang ingin terhindar dari wabah, ya ikuti sesuai dengan ketentuan, tidak semata aturan itu dibuat atau sebaliknya resiko ditanggung sendiri.

Tapi sisi lain cobalah kita berempati kepada pahlawan bangsa yang mempertaruhkan nyawa dalam hitungan waktu, memang hakikatnya ada pemilik nyata, tetapi syariatnya harus tetap kita jalankan.

Dengan kita berempati kepada orang lain, kita saling tolong menolong dalam kebaikkan. Seperti halnya yang dijelaskan dalam Al-qur’an

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Berapa banyak jumlah ahli medis berbanding terbalik dengan pasien, jika masyarakat banyak yang terkena wabah. Jika kita paham secara logika, semestinya tidak ada lagi yang melakukan pelanggaran sesuai dengan ketentuan.
Meski ada dorongan kuat, untuk memaksa tetap mudik, beribadah di masjid tanpa jaga jarak, berkeluyuran jika tak ada kepentingan, bepergian tanpa penggunaan masker.

Jika semua terabaikan apa jadinya ? ya terserah saja.
Apakah diberlakukan hukum alam gitu, siapa yang kuat, dialah yang mampu bertahan hidup dan siapa yang lemah dia tersingkir dan siap menanggung segala resiko.
Jangan biarkan wabah menghampiri kita.

Naudzubillah Min Dzalik adalah “Kami berlindung kepada Allah dari perkara itu.”