Oleh: Novianti (Praktisi dan Pemerhati Pendidikan)

Waktu semakin mendekati tahun ajaran baru, para orang tua dilanda keresahan. Akankah sekolah segera dibuka sehingga kegiatan belajar mengajar kembali normal? Ini sehubungan dengan keputusan Kemendikbud bahwa tahun ajaran baru tetap akan dimulai di Juli 2020. Pemerintah juga sudah mewacanakan new normal life sebagai bentuk relaksasi PSBB. Dalam new nornal life, masyarakat menjalankan aktivitas normal namun dengan perubahan perilaku untuk tetap mencegah penyebaran virus corona.

Meski pemerintah dan Kemendikbud sudah memberikan sinyal berupa ajakan pada masyarakat agar hidup berdamai dengan corona, namun banyak orang tua yang masih mempertanyakan apakah kondisinya sudah memungkinkan. Rencana ini dinilai terburu-buru dan dikhawatirkan memicu gelombang ke dua virus corona dengan jumlah yang lebih besar. Sebagaimana yang disampaikan ahli epidemiologi UI, Pandu Riono. Menurutnya, Indonesia belum memenuhi tiga kriteria, yaitu kriteria berbasis indikator epidemiologi, kesehatan publik dan pelayanan kesehatan.

Belum lama ini Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merilis data angka kematian anak di Indonesia akibat virus corona menunjukkan jumlah paling tinggi dibanding dengan negara ASIA lainnya. Hingga 18 Mei 2020, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 3.324 anak. 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak meninggal akibat COVID-19.

Temuan ini membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap virus corona atau hanya akan menderita sakit ringan saja. Terlebih anak-anak masih harus sering diingatkan serta didampingi dalam menjalankan protokol kesehatan.

Padahal, sebelum adanya virus corona, pneumonia adalah pembunuh nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF, lebih dari 19.000 balita di Indonesia meninggal karena pneumonia di 2018 atau lebih dari dua anak setiap jam.
Sebagian besar, adalah karena bakteri. Namun jika anak terinfeksi Covid-19, kemungkinan terjadi infeksi sekunder oleh bakteri akan tambah besar. Pneumonia yang biasa juga akan meningkat.

Konsultan respirologi anak, Prof. Cissy B. Kartasasmita, yang juga anggota IDAI, mengatakan daya tahan tubuh anak akan membantu mereka menghadapi Covid-19. Namun daya tahan tubuh dipengaruhi oleh nutrisi seimbang dan kebersihan. Sementara itu, masih banyak anak berada dalam lingkungan dengan sanitasi buruk. Belum lagi paparan asap rokok. Kesadaran masyatakat akan bahaya perokok pasif masih sangat rendah. Dengan mudah ditemukan orang-orang dewasa merokok di tempat-tempat umum yang terdapat anak-anak.

Karenanya, kekhawatiran orang menakar kesiapan pembukaan sekolah di tahun ajaran baru sangat beralasan. Relaksasi PSBB dan seruan new normal life berbanding terbalik dengan fakta di tengah-tengah masyarakat. Mengharuskan anak belajar dalam new normal life sama dengan menjadikan mereka kelinci percobaan. Padahal anak-anak adalah aset bangsa yang harus dijaga. Aman, anggota Komite Eksekutif Asosiasi Internasional Dokter Anak, mengkhawatirkan Indonesia mengalami lost generation  (kehilangan generasi muda) jika rencana ini dibiarkan. 

Pernyataan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa aktivitas perekonomian di fase tatanan normal nantinya bisa saja dihentikan jika terjadi gelombang kedua penularan virus corona Covid-19 sangat disayangkan. Karena negara seharusnya berusaha secara optimal jangan sampai ada lagi korban berjatuhan. Nyawa yang hilang tidak dilihat dalam bentuk angka melainkan ada jiwa yang harus dilindungi dan dihargai.

Perlindungan Anak dalam Islam.

Islam menempatkan anak dalam kedudukan yang penting. Anak adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan karenanya baik orang tua, masyarakat dan negara harus menjaganya. Negara memandang anak adalah aset yang akan melanjutkan peranan meneruskan kehidupan Islam. Untuk itu, negara memberikan proteksi berlapis pada anak agar bisa tumbuh kembang secara optimal dan fitrahnya terjaga. Perlindungan berlapis dalam bentuk penerapan berbagai sistem kehidupan.

Pertama, sistem politik yaitu membangun tata kelola negara berlandaskan pada aqidah Islam. Sehingga negara dipimpin oleh penguasa dan para pejabat yang menjalankan fungsi sebagai pelayan rakyat atas dasar ketaqwaan. Pemimpinnya memberikan keteladanan kekokohan iman, melayani dengan penuh kejujuran, membuat kebijakan yang adil.

Syariat Islam, satu-satunya hukum pemutus segala perkara. Sebagai aturan dari Dzat Maha Sempurna, pastilah para generasi muda tumbuh dalam atmosfir yang memelihara dan menyuburkan fitrah kebaikan yang Allah berikan pada setiap manusia.

Kedua, melaksanakan sistem ekonomi yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Negara menciptakan lapangan pekerjaan agar para ayah bisa memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan secara layak. Anak-anak memperoleh asupan dengan kandungan gizi yang cukup agar tumbuh sehat dengan imun yang kuat. Para ibu dapat menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama karena ia tidak dibebankan untuk bekerja.

Ketiga, sistem ekonomi islam menjamin pelayan kesehatan secara gratis pada seluruh lapisan masyarakat. Jaminan kesehatan adalah tanggung jawab negara sehingga negara tidak boleh membebani rakyatnya untuk membayar layanan kesehatannya. Layanan kesehatan dalam bentuk pengadaan sarana prasarana yang terselenggara di atas prinsip-prinsip pelayanan/sosial. Para dokter dan tenaga kesehatan lainnya dengan kompetensi terbaik disediakan dalam jumlah yang memadai di berbagai institusi pelayanan kesehatan milik negara. Mereka digaji secara patut dan ditugasi sesuai kapasitas.

Keempat, negara wajib menyelenggarakan pendidikan untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Kesempatan pendidikan secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.

Negara dalam Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Karenanya segala yang terkait bagi penyelenggaraan pendidikan berkualitas diusahakan oleh negara. Mulai dari tenaga pengajar, sarana prasarana seperti gedung, perpustakaan dan laboratorium, layanan internet, dijamin sepenuhnya oleh negara.

Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan pada akidah islam. Mata ajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikit pun dari asas tersebut.

Pembentukan kepribadian Islam dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Barulah setelah mencapai usia balig, yaitu SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat islam.

Kelima, sistem sosial yang menjamin keamanan setiap anggota masyarakat. Adanya penerapan sanksi (uqûbat) yang tegas bagi para pelanggar. Jika ada suami yang tidak memenuhi nafkah anak dan istri ataupun melakukan tindak kekerasan kepada istri atau anaknya, maka ia akan diberi peringatan atau sanksi tegas.

Dengan demikian kita bisa melihat wajibnya integrasi sistem untuk melindungi generasi muda adalah syarat yang tak bisa ditawar. Sistem islam telah memiliki konsep mumpuni agar anak-anak menikmati tumbuh kembang yang sempurna. Anak-anak memperoleh pemenuhan hak-hak mendasarnya yang dijamin hingga anak tumbuh dewasa dan menjadi ”manusia sempurna”.

Proteksi berlapis ini menjadikan anak tidak dalam posisi yang rentan seperti dalam situasi pandemi sekarang. Negara menjadi benteng stabil yang bergerak tepat dan cepat sehingga kehidupan anak-anak sebagai pengisi peradaban di masa depan tetap terjaga.

Sistem kehidupan ini bukanlah sebatas khayalan melainkan sudah dicontohkan oleh Rasulullah sholalloohu ‘alaihi wassalam dan dilanjutkan oleh Khulafaur-Rasyidin serta para khalifah sesudahnya. Hingga pada masa itu, seluruh masyarakat tanpa kecuali bisa merasakan kesejahteraan hidup yang tidak ada tandingannya.

Jika saat ini masyarakat begitu cemas akan keamanan anak-anaknya, seyogianya kecemasan ini harus segera diakhiri tidak untuk jangka pendek melainkan dalam masa yang lebih panjang. Sehingga, urgensi penerapan sistem islam secara total harus disegerakan. Karena buah manis pelaksanaannya tidak hanya berdimensi dunia tapi juga pemberat pahala di akhirat.

Novianti