Oleh : PuWijaya
Pendidik Generasi

Beragam kisah haru datang dari tenaga medis sejak wabah virus corona melanda negeri ini. Kisah perjuangannya sangat menyayat hati, mereka rela meninggalkan keluarga, rela tak bertemu karena wabah virus corona ini. Bagi mereka keluarga lebih mereka sayangi, oleh karena itu berpisah lebih baik dari pada bertemu. Tenaga medis yang sedang bertaruh nyawa adalah manusia biasa yang penuh kekurangan. Mereka membutuhkan insetif untuk menghidupi atau sekedar mengirim uang ke kampung halaman, yaitu tempat keluarga tinggal dan menanti dengan cemas disana.

Sungguh malang nasib para tenaga medis ini. Sudah tak bisa berkumpul dengan keluarga insentif yang dijanjikan pun tak kunjung datang. Seperti yang dilansir pada TEMPO.CO, 24/05/2020. Perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono, hingga kini belum menerima insentif sebesar Rp 7,5 juta yang dijanjikan pemerintah. Anitha merupakan salah satu perawat yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU) menangani pasien-pasien positif Covid-19.

“Insentif yang dibilang maksimal tujuh setengah juta itu memang sampai sekarang belum (diterima),” kata Anitha kepada Tempo, Ahad, 24 Mei 2020.

Anitha mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif. Namun menurut Anitha, para perawat sangat memerlukan insentif itu, terlebih mereka yang mendapatkan pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri. “Banyak teman-teman yang di RS swasta yang memberikan kabar enggak dapat THR,” kata Anitha.

Anitha bercerita, THR atau gajinya tidak dipotong lantaran statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Namun, kata dia, para perawat di rumah sakit swasta atau rumah sakit yang tak terlalu besar belum tentu bernasib demikian.

Soal pemberian insentif ini telah disampaikan Presiden Joko Widodo sejak 23 Maret lalu. Jokowi mengatakan pemerintah akan memberikan insentif bulanan kepada tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19.

Janji hanya tinggal janji, hingga kini sudah banyak nyawa yang menjadi korban akan tetapi intensif yang dijanjikan tak kunjung datang. Ini menunjukkan bagaimana ketidakseriusan pemerintah dalam menangani wabah ini. Seharusnya para tenaga medis terjamin segala kebutuhannya dan tidak boleh kurang. Karena merekalah yang berdiri melindungi segenap rakyat Indonesia bergerak di garda terdepan. Mungkinkah ini hanya dipengaruhi oleh ekonomi Indonesia yang sedang sekarat. Tentu tidak hanya itu, karena sebelum ada wabah inipun pemerintah terus abai pada rakyatnya sekalipun rakyat yang sangat membutuhkan. Jadi datangnya wabah ini tidak bisa dijadikan dalih oleh penguasa untuk tidak memenuhi kebutuhan hajat hidup rakyat. Ini menunjukkan kegagalan kapitalis sebagai sistem yang digadang-gadang membuat Indonesia akan maju.

Bagaimana Islam Memperhatikan Tenaga Medis?

Pemerintah dalam Islam tentu berbeda dengan kapitalisme, pemerintah sangat memperhatikan tenaga medis apalagi telah banyak sekali yang gugur karena tugasnya, karena nyawa seseorang begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Mari kita berkaca pada bagaimana sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin pada saat itu adalah pelayan rakyat.

Seperti kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga mempunyai perhatian besar kepada pasien.

Teladan lain dibuktikan oleh Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahu 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Kisah pengelana Eropa yang mahsyur di atas juga menjadi bukti betapa luar biasanya sistem kesehatan pada abad keemasan itu. Ia menceritakan bahwa Ia sengaja berpura-pura sakit karena ingin menikmati lezatnya makanan di rumah sakit Islam. Ia ingin menikmati ayam panggang yang populer itu. Karena pada saat itu diterapkan bahwa ciri pasien sembuh adalah dengan mampunya ia memakan ayam panggang tersebut dengan lahap.

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi SAW bersabda:
”Bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Muslim)

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan murah dan gratis beserta sarana prasarananya. Ini dilakukan supaya mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani, tak semata-mata karena materi.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan.

Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Mindset menjaga nyawa telah menjadikan penguasa di era keemasan untuk menjaga aset tenaga medisnya. Sehingga dapat dipastikan sarana perlindungan diri seperti APD akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari bagaimana Islam memberikan perlindungan kepada tenaga medis agar setiap nyawa di negeri ini dihargai dan harus dilindungi. Maka dari itu sudah selayaknya kita kembali kepada Islam agar negeri ini selamat dari segala problematika termasuk wabah ini. Wallahu a’lam bishshawab.