Oleh: Yuli Wulandari
(Anggota Komunitas Baca Tulis Untuk Peradaban Kota Malang)

Pandemi belum usai. Wabah masih membuat resah dan gelisah. Covid sembilan belas semakin mengganas. Butuh konsistensi dalam upaya memberantas.
Corona Virus Disease (Covid-19) meluluhlantakkan segala sendi kehidupan. Menginfeksi tidak pandang bulu dan keadaan. Lingkungan manusia mudah tertular terutama yang melakukan mobilitas atau kegiatan. New normal mulai diterapkan dalam dinas perkantoran termasuk di dunia pendidikan. Work from home dan belajar di rumah rencananya akan ditiadakan. Semua kembali normal ke bangku sekolahan.
Dilansir oleh Kumparan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020.
Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. (Kumparan 01062020)
Langkah ini sungguh membuat ketar-ketir karena pembukaan sekolah dikhawatirkan akan mengancam kesehatan anak-anak. Sekolah akan menjadi cluster baru penyebaran virus. Tenaga pendidik sebagai garda terdepan peradaban dan para generasi penerus peradaban sedang dipertaruhkan.
Penyebaran virus corona pada anak di Indonesia cukup besar. Dari data Kementerian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi Covid-19( data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular berkisar 0-14 tahun.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan data 129 anak telah meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) dan 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19.
Terdapat 3400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumalh itu, ada 584 orang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia (okenews).
Di Jakarta saja, sudah 91 Balita dan 390 anak positif Corona. Ada pun balita yang menjadi orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 682 perempuan dan 681 laki-laki. Pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 159 balita perempuan serta 210 laki-laki. Hal ini bisa menjadi pertimbangan akan kekhawatiran ketika sekolah dipaksakan untuk dibuka kembali.
Dengan demikian, virus yang notabene dianggap rentan terhadap orang usia lanjut terbantahkan. Terbukti dengan banyaknya anak-anak yang tertular bahkan terjangkiti menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara anak dan orang dewasa dalam potensi kena pandemi.
Sungguh disayangkan, kebijakan yang dikeluarkan kurang dipertimbangkan secara matang sehingga membuat orang tua pada kebingungan. Di tengah kondisi pandemi yang telah berjalan hampir tiga bulan ini, menguras emosi dan bahkan ada yang sampai putus asa. Justru dikeluarkan rencana ajaran baru sekolah kembali dibuka. Keselamatan anak-anak seharusnya menjadi pertimbangan utama ketika hendak mengambil kebijakan. Hingga muncul petisi penolakan dari kalangan orang tua yang peduli keselamatan generasi.

Bila dicermati lebih lanjut, kita bisa mempelajari kasus penangaan tatanan kehidupan normal yang baru. Belajar dan mengambil pelajaran berharga dari beberapa negara yang membuka sekolah setelah kasus positif Covid-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Di Finlandia, masih ditemukan kasus penularan Covid-19 yang menyerang guru dan siswa ketika sekolah dibuka. Padahal di sana kasusnya relatif sudah nol.
Pyongyang, Korea Utara, belum mengonfirmasi satu pun kasus Covid-19 memberlakukan aturan ketat. Menutup perbatasan dan mengkarantina ribuan orang. Ajaran baru di sana dijadwalkan April mengalami jadwal mundur berulang kali dan akan dimulai Juni dengan memberlakukan protokol yang ketat.
Kembali ke negara kita tercinta, meski kebijakan membuka sekolah tersebut berdalih akan diberlakukan khusus di zona hijau, faktanya kasus Corona masih membahana seantero Indonesia. Setiap hari menunjukkan angka meningkat yang tertular atau pun terjangkiti. Apa menjamin dengan sekolah new normal tidak menghadapi kerawanan masalah tersendiri? Bisakah anak-anak tertib memakai masker sepanjang waktu sekolah? Menjaga kebersihan dan mengganti masker setiap empat jam, kotor atau basah. Sungguh langkah ini sangat mengancam kesehatan dan keselamatan generasi.
Islam telah memberikan solusi dan gambaran penyelesaian yang harus diterapkan dalam menangani pandemi. Memperhatikan kesehatan dan keselamatan setiap individu, baik dewasa, orang tua maupun anak-anak. Peduli keselamatan jiwa generasi penerus perjuangan yang diridhoi.

Adapun hal-hal yang bisa dilakukan untuk menjaga keselamatan generasi :
1. Tetap berada di rumah dan belajar di rumah.
2. Menjaga kebersihan dan asupan gizi makanan
3. Negara memberikan fasilitas belajar di rumah dengan kurikulum yang tidak membebani dan memberi pemenuhan kebutuhan selama pandemi.
4. Tidak membuka sekolah dan meminta masuk kembali siswa sebelum dipastikan kondisinya benar-benar aman. Zero Corona.
5. Tidak membuat kebijakan plin plan yang membingungkan.

Rasulullah Saw juga pernah mencontohkan bagaimana bersikap dalam menghadapi wabah. Belajar di sekolah dalam kondisi masih wabah sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang. Karena saat sekolah pasti akan menimbulkan pergerakan ke luar rumah. Sudah saatnya kembali kepada tatanan yang penuh berkah agar wabah segera musnah. Kembali berhukum pada yang Allah Ta’ala ridhoi dalam bingkai Daulah Khilafah.