Oleh: Nurul Irma N, S.Pd

Virus Covid-19 atau Corona di negeri ini angkanya bukan menurun tapi menunjukkan kenaikan yang cenderung sangat memprihatinkan. Sebagaimana yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona atau Covid-19 Achmad Yurianto, menginformasikan terhitung sejak 22 Mei 2020 pukul 12.00 WIB hingga 23 Mei 2020 pukul 12.00 WIB kasus positif mengalami kenaikan sebanyak 949 orang. (IDN Times, Sabtu 23 Mei 2020).

Dengan kenaikan kasus positif yang mencapai hampir 1000 menunjukkan bahwa wabah ini kian parah, maka harusnya mengevaluasi langkah pencegahan yang selama ini diterapkan. Ketika langkah yang diterapkan selama ini masih kurang efektif harusnya negara mencari langkah antisipasi. Namun faktanya negara lebih mempedulikan kondisi ekonomi daripada nyawa rakyatnya.

Negara Absen Langkah Antisipasi Penanggulangan Wabah
Sungguh mengherankan, ketika kasus kenaikan yang positif terkena covid-19 meningkat pemerintah justru melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masyarakat. Padahal terlihat fakta di depan mata ketika diberlakukan PSBB saja kenaikan angka kasus positif bertambah dan rumah sakit rujukan untuk penanganan Covid-19 ini sudah melebihi kapasitas bahkan menutup penerimaan pasien yang terkena virus covid-19, apalagi ada pelonggaran. Dampaknya sudah bisa diprediksikan bahwa gelombang ke 2 penularan akan terjadi. Penyebaran makin meluas, yang terjangkit semakin banyak dan dampak yang lebih mengenaskan lagi rumah sakit rujukan tidak mampu lagi menampung serta semakin minimnya tenaga medis yang menanggani.

Koalisi Warga untuk Lapor Covid-19 Irma Hidayana mengatakan, pihaknya masih menemukan kenaikan jumlah kasus dan kematian akibat corona. Ia pun mengatakan, Lapor Covid-19 rutin memasukkan data besaran sebaran serta magnitudo COVID-19 secara harian. “Atas relaksasi wacana pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kami sangat sedih karena kami melihat angka kasus masih terus naik,” kata dia. Pemerintah, kata dia, perlu mengacu pada data dalam menentukan pelonggaran PSBB.  Permenkes No. 9 Tahun 2020 tentang PSBB mensyaratkan perlunya bukti ilmiah untuk menilai keberhasilan pelaksanaan PSBB dalam menurunkan jumlah kasus baru, sebelum memutuskan pelonggaran. (Katadata.co.id)
Dengan kondisi yang seperti ini harusnya negara memiliki langkah antisipasi dalam menanggani wabah ini. Bukan malah membuat kebijakan yang terfokus pada pemulihan ekonomi semata. Bukannya akan sangat mudah untuk memulihkan ekonomi ketika wabah ini benar-benar hilang. Karena secara otomatis, ekonomi ini akan bergerak dengan sendirinya ketika kondisi masyarakat dalam keadaan sehat dan tidak diliputi rasa ketakutan akan terjangkitnya virus. Bahkan Presiden Ghana menyampaikan kalau masalah ekonomi bisa kami hidupkan lagi, namun bagaimana kami bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Sungguh sosok penguasa yang lebih mementingkan nyawa rakyatnya dari pada materi dan keuntungan. Serta lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak yang mayoritas ekonomi menengah kebawah daripada segelintir pengusaha dan pemilik modal.

Butuh Solusi Dari Akar Hingga Daun
Semua negara saat ini dalam kondisi yang lumpuh diakibatkan pandemi virus Covid-19, kewalahan dalam menekan korban yang berjatuhan dan menekan jumlah angka pertambahan kasus positif terjakitnya virus Covid-19. Bahkan selevel negara Amerika Serikat yang dijuluki negara super power takluk dengan makhluk kecil bernama virus Corona. Solusi yang mereka gunakan dalam mengatasi pandemi berlandaskan pada ideologi yang dianutnya yaitu kapitalisme dan sekulerisme, bersandarkan pada kepentingan para pemilik modal dan memisahkan agama dalam kehidupan. Terbukti solusi yang mereka gunakan tidak menghasilkan ketuntasan malah menimbulkan persoalan baru yang mengakibatkan dampak lebih parah. Indonesia sebagai negara pengekor AS mengikuti cara AS sehingga hasilnya tentulah tidak jauh berbeda dengannya.

Maka saatnya menengok kepada solusi yang mendatangkan ketuntasan masalah dari akar hingga ujung daunnya. Solusi yang berasal dari Al Khaliq (Pencipta), yang lebih mengetahui apa yang baik dan buruk untuk ciptaan-Nya. Bukankah sang pembuat meja kayu lebih tahu deskripsi meja yang dibuatnya, dari jenis kayunya, ukurannya, merk dan warna catnya bahkan bagian terkecilnya. Solusi tuntas pandemi saat ini tidak lain kembali menerapkan Islam secara keseluruhan. Karena aturan Islam itu mensejahterahkan dan menentramkan. Sehingga semua lini kehidupan akan merasakan pengaruhnya. Waallahu alamu.