Oleh: Melly (Ciomas)
Nampak ramai sejumlah masyarakat memadati jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/5/2020) pagi. Walau pemerintah pusat sempat mencetuskan New Normal. Akan tetapi pemerintah Bogor masih tetap memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 4 Juni untuk kawasan tersebut. Pemandangan ini tentu membuat cemas. Karena kita ketahui bersama kurva pandemi yang ada masih belum melandai.
Di sisi lain, akan ada puncak arus balik 2020 yang diperkirakan terjadi pada tanggal 31 Mei – 1 Juni 2020 bertepatan dengan berakhirnya masa larangan mudik lebaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Walaupun Kemenhub telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi lonjakan arus balik, dengan melakukan beberapa pencegahan dan penyekatan serta surat izin dan syarat lainnya, nampaknya akan menjadi sia-sia belaka. Hal ini terjadi karena kebijakan pemerintaang kurang solutif. Masyarakat dijadikan bahan percobaan pemerintah. Kebijakan satu belum tuntas sudah berubah lagi dengan kebijakan baru lainnya. Rakyat akhirnya dibuat kebingungan dan tidak lagi mau mengindahkan kebijakan yang diterapkan.
Seharusnya pemerintah tidak membuat bingung dan cemas masyarakat akan kebijakan-kebijakan yang ada. Apalagi kebijakan yang ujungnya akan menyengsarakan masyarakat. Kebijakan yang hanya berpihak pada segelintir orang dan kelompok, bukan kepentingan rakyat. Sedangkan dalam Islam, tugas pemimpin itu mengayomi dan benar-benar mengurusi setiap urusan rakyatnya.