Oleh: Maman El Hakiem

Wabah ini belum juga membuat umat Islam sadar dari keterpurukannya, masih terjerembab pada perkara cabang atau ranting, bahkan hal yang sering dianggap benalu, karena menempel di dahan pohon induk. Itulah perkara yang sengaja dipelihara sistem sekulerisme, yaitu membiarkan umat selalu berkutat di persoalan kulit dari komplesitasnya ragam pemikiran pokok, seperti perbedaan pandangan tentang doa qunut, hukum musik, tawasul, dan sebagainya.

Padahal, segala perkara yang disebutkan tersebut adalah bahasan fiqiyah yang sifatnya dinamis, dalam setiap zaman harusnya lahir tokoh yang faqih dalam memahami ilmu fiqih. Inilah yang tidak pernah muncul ke permukaan saat kehidupan dunia berjalan secara abnormal, aturan atau sistem kehidupan yang diterapkannya tidak Islami.

Standar Islami itu tidak cukup sekedar “kulit” atau “isi” saja, harus utuh ada kedua-keduanya. Islam tidak bisa dilihat sekedar masa lalu, tetapi juga apa yang bisa dijalani di masa depan. Tetapi, gambaran masa depan kehidupan secara Islami standarnya adalah kenormalan norma-norma Islam yang telah dipraktekan oleh peradaban Islam yang agung, yaitu daulah kekhilafahan Islam.

Sungguh kehidupan dunia saat ini berada dalam kondisi abnormal karena aturan manusia yang dipaksakan untuk mengatur dunia yang sejatinya terasa berat dipikul oleh makhluk-Nya. Dunia diamanahkan Allah SWT sebenarnya agar manusia menjadi “khalifah”, wakil Allah SWT untuk menerapkan segala hukum-hukum atau syariat-Nya.

Kesanggupan manusia mengemban amanah untuk memakmurkan dunia ternyata dikhianati, setelah runtuhnya daulah khilafah, ajaran Islam hanya sebagian kecil yang dipraktikan, sebatas ritualitas ibadah mahda, itupun banyak perselisihan yang membuat umat ini menjadi jumud,sehingga Islam diserupakan dengan agama-agama lainnya yang hanya berkutat di dalam masjid. Gerak Islam tidak lagi seperti generasi sahabat Nabi, salafu shalih, bahkan menyerupai masa khalifah Harun ar Rasyid pun saat ini masih sebatas mimpi.

Anehnya, sekedar bermimpi pun banyak kalangan yang menuduh Islam radikal, padahal apa yang dimimpikan itu suatu saat akan menjadi kenyataan. Mimpi sejatinya bukan ilusi, tapi kehidupan yang diciptakan Allah SWT saat manusia tertidur, ada alam bawah sadar yang nyata, tetapi tidak akan dihisab, itulah alam mimpi. Segala mimpi itu akan terwujud, jika dideskripsikan dalam kehidupan “sadar” dengan menerapkan aturan yang benar. Inilah kehidupan riil yang akan dihisab sebagai catatan amal manusia yang harus terikat dengan hukum Allah SWT.

Para pengemban dakwah yang istiqomah dengan mimpinya untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan penerapan syariah secara kaffah, harus mampu mendeskripsikan mimpi tersebut dalam agenda nyata melalui dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Jangan terjebak dengan persoalan furu(cabang), apalagi itu dalam ranah khilafiyah fiqiyah, harus fokus pada akar masalah utama terpuruknya umat saat ini, yaitu tiadanya perisai umat, penjaga kehormatan agama, jiwa, dan harta, itulah Khilafah. Karena inilah kewajiban agung jika ingin mewujudkan mimpi kehidupan normal Islami.

Wallahu’alam bish Shawwab.***