Oleh: Dahlia (Bogor)

Miris, melihat kondisi saat ini di era pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, melihat fakta yang ada terkait perekonomian masyarakat semakin hari semakin terpuruk. Tak sedikit pengangguran di mana-mana, tak sedikit pula tindak kejahatan.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, sudah sebanyak 3,05 juta orang pekerja di Indonesia yang terdampak (PHK dan di rumahkan) virus Corona. Hal ini terjadi semenjak pandemi di Indonesia sejak 3 Maret 2020 lalu. Susiwijono menjelaskan 3,05 juta pekerja yang terdampak virus Corona tersebut bersumber dari data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), sampai dengan Selasa, 2 Juni 2020. Kementerian yang dipimpin oleh Menaker Ida Fauziyah itu juga memperkirakan akan ada tambahan pengangguran sebanyak 5,23 juta jiwa apabila virus Corona terus meluas.

Bahkan di masa ini semakin hari semakin banyak para istri sekaligus para ibu yang terpaksa harus ikut berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Mulai dari berjualan online, jualan keliling bahkan sampai rela menjadi buruh cuci atau pekerja rumah tangga semuanya demi memenuhi kebutuhan hidup.
Akan tetapi, tak sedikit pula yang pada akhirnya banyak para ibu yang melakukan tugas sesuai perannya, akibat WFH dan SFH menjadikan ikatan ibu dan anak terjalin dengan baik. Namun, yang menjadi persoalan di sini adalah bagaimana nasib anak-anak yang ternyata harus rela kehilangan perhatian dari ibunya yang harus turun tangan untuk mengais rezeki. Hingga akhirnya peran ibu sebagai teladan yang akan mencetak generasi pemimpin hilang, karena ibu menjadi sibuk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Di sinilah peran negara sebagai penjaga dan pelindung masyarakatnya dipertanyakan. Dimana negara ketika seharusnya setiap masyarakat mendapatkan jaminan pemenuhan kebutuhan hidupnya? Yang mana seharusnya masyarakat menjadi tanggung jawab negara untuk diurusi. Terlebih di masa pandemi saat ini, disaat virus semakin masif menyebar, sudahlah masyarakat disuru melindungi diri sendiri, kini terpaksa harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, karena negara tak mampu meriayah masyarakatnya dengan baik.
Beginilah yang terjadi, ketika negara menganut sistem kapitalisme maka urusan masyarakat bukan menjadi persoalan yang utama. Karena mengurus masyarakat tak menghasilkan keuntungan bagi mereka para penguasa. Sistem saat ini menjadikan mental penguasa hanya mencari keuntungan materi, tak peduli ketika ada masyarakat yang harus berjuang sendiri demi terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Bahkan ketika harus mengorbankan masa depan generasi negeri.
Padahal, generasi negeri adalah tonggak utama dan masa depan penggerak bangsa. Untuk menjadikan generasi berkualitas, maka diperlukan didikan yang berkualitas pula. Dan pendidikan yang utama adalah dari para ibu sebagai Ummu warabbatul bait. Maka sudah seharusnya tugas seorang ibu adalah menjaga dan mendidik anak-anaknya di rumah, dan negara ikut berperan dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di dalamnya. Sehingga para ibu dapat dengan tenang mengurus anak-anaknya tanpa harus memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hariannya, karena ada negara yang menjamin. Semua bisa terjadi ketika negara mengemban sistem yang shahih. Sistem yang dapat dengan adil mengatur semua urusan masyarakatnya. Sistem yang di dalamnya terdapat ridha Illahi.