Oleh: Nisa Tri Yuliarti
(Anggota Komunitas Cinta Baca Tulis Untuk Peradaban)

Tragedi kematian George Floyd seorang warga berkulit hitam di Amerika Serikat membuat dunia geram. Kematian Floyd memicu demonstrasi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Australia. Di Berlin, Jerman, ratusan demonstran berkumpul dua hari berturut-turut, membawa papan atau kertas bertuliskan: “Diam adalah kekerasan”; “Tahan akuntabilitas polisi”; dan “Siapa yang kamu panggil saat polisi membunuh?” Sementara di pusat kota London, Inggris, para pendemo meneriakkan: “No Justice!” atau “tidak ada kedamaian!”

Tragedi ini mengingatkan dunia bahwa diskriminassi dan rasisme masih menjadi masalah besar yang tak kunjung bisa diselesikan. Selain AS ternyata kasus rasisme juga banyak terjadi di negara-negara lain. Beberapa negara yang dituding sebagai negara paling rasis adalah India, Israel, Rusia, Inggris, Jepang bahkan Arab Saudi. Salah satu sebab banyaknya kasus rasisme di negara-negara ini adalah karena tingginya rasa Nasionalisme yang menjadikan penduduk asli dari negeri tersebut merasa eksklusif dan memandang rendah etnis lain maupun pendatang dari negeri yang lain.

Jika kita melihat pada masa 15 abad silam di Jazirah Arab, budaya rasisme dan diskriminasi juga sangat kental pada masa itu. Contohnya adalah maraknya perbudakan, diskriminasi dan pelecehaan terhadap wanita. Namun kedatangan Rasulullah Muhammad SAW dengan risalah Islam yang mulia menghilangkan rasisme dari akar-akarnya. Dalam sejarah, kita tahu bahwa sejak Nabi Muhammad saw diutus para pengikut awal berasal dari kalangan mustad’afin, orang miskin dan budak. Sebut saja misalnya Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir. Dan, Al-Quran mengajarkan bahwa tidak ada yang membedakan antara ras, warna kulit, dan identitas primordial lainnya antara satu dengan yang lainnya. Semuanya sama dan setara di hadapan Allah SWT.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S al-Hujurat ayat 13 :
“Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
Kalimat awal dalam ayat tersebut adalah “Wahai manusia …”. Hal ini menunjukkan bahwa pesan dalam ayat di atas ditujukan bukan hanya untuk umat Islam saja, melainkan kepada seluruh ummat manusia. Islam dengan konsep universal ini menolak semua perbedaan yang dibuat oleh manusia. Tidak ada yang boleh mengklaim superioritas atas yang lain berdasarkan suku, ras, maupun warna kulit.
Hal ini langsung dipraktekkan oleh para sahabat di masa Rasulullah SAW maupun masa-masa setelahnya. Salah satu yang paling masyhur adalah ketika Abu Bakar ra. seorang yang terpandang di kalangan bangsa Arab mau membebaskan Bilal bin Rabbah ra. seorang budak berkulit hitam yang disiksa oleh tuannya haanya karena dia memeluk Islam.
Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq datang untuk membeli Bilal dari tuannya, maka tuannya, Umayyah bin Khalaf berkata kepadanya, “Demi Allah, sekiranya kau bayar satu dirham pun, aku akan menjualnya!”
Maka Abu Bakar pun balik menjawab, “Demi Allah, sekiranya kau meminta dariku 100 ribu dirham pun, aku pasti akan membayarkannya kepadamu.”
Dan ketika Umayah menyerahkan Bilal, Abu Bakar langsung menggamit tangan Bilal di ketiaknya sebagai bukti persaudaraan Islam. Abu Bakar berseru, “Ini adalah saudaraku!”
Umar pun berseru, “Abu Bakar adalah tuan kami, dan tuan kami telah melepaskan Bilal!”

Maka sejak saat itu Bilal bin Rabbah menjadi seorang yang merdeka, kedudukannya sama dengan sahabat-sahabat Nabi lainnya yang mulia. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang melontarkan kalimat bernada rasis di hadapan Bilal. Kisah teguran Nabi atas sahabat yang bersikap rasis ini tercatat dalam hadis yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al Bukhari.
Suatu hari Abu Dzar Al Ghiffari sedang bersama pelayannya di daerah Rabadzah, suatu perkampungan sekitar Madinah, menceritakan kepada perawi Al Ma’rur bin Suwaid akan suatu momen ketika Nabi tidak berkenan dengan perilakunya.
Kita tahu, Abu Dzar adalah salah satu golongan assabiqunal awwalun, golongan yang masuk Islam pada masa awal kenabian. Kisah seputar kesantunan dan kebijaksanaannya sudah kepalang banyak tercatat dalam kitab hadis dan biografi. Meski demikian mulia pribadi Abu Dzar, ia pun pernah berbuat salah.
“Aku pernah menghina seseorang, dengan menyindir asal-usul keturunan dari ibunya,” ujar Abu Dzar, yang bernama asli Jundub bin Junadah ini.
“Aku berkata: ‘Hei kamu, anaknya orang hitam!’” Abu Dzar mengatakan kalimat ini kepada seorang berkulit hitam, yang disebut-sebut sebagian ulama adalah sahabat Bilal bin Rabbah. Dalam kitab syarah hadis seperti Irsyadus Sari karya Imam al-Qasthalani, ujaran bernada rasis tersebut konon terucap akibat perasaan jumawa Abu Dzar dari suku yang lebih terpandang.
Terang saja Nabi Muhammad yang mengetahui hal itu, segera menegur Abu Dzar.
“Benarkah kau baru saja menghina pria itu, dengan mengejek pribadi ibunya – dengan menyebut anak orang hitam? Ketahuilah wahai Abu Dzar, perbuatanmu itu adalah perilaku orang-orang Jahiliyah yang tercela.”
Ditegur demikian, jelas saja Abu Dzar merasa sangat menyesal. Nabi melanjutkan nasehat beliau kepada Abu Dzar,
“Pembantu-pembantu kalian itu juga saudara kalian.” Para ulama menyebutkan persaudaraan tersebut juga termasuk dalam iman dan kemanusiaan. “Allah telah menjadikan mereka menjadi tanggungan kalian. Siapapun yang menjadikan saudaranya sebagai budak atau tanggungannya, maka tuannya harus memberi makanan sama seperti yang ia makan, pakaian sebagaimana yang ia pakai, serta tidak membebani mereka dengan pekerjaan yang bikin mereka payah.”

Rasulullah menegaskan di akhir nasehatnya, “Kalau di antara kalian ada yang membebani mereka dengan kerja yang sangat berat, maka bantulah mereka.”
Demikianlah Rasulullah SAW mendidik para sahabat agar menjauhi sikap rasis dan merasa lebih unggul dibanding yang lain. Rasulullah juga menekankan dalam kisah hadis di atas bahwa pemenuhan hak yang setara adalah wujud persaudaraan yang mesti diberikan, baik dengan artian saudara seiman atau saudara dalam kemanusiaan. Karena Islam adalaah agama yang menjunjung tinggi keadilan tanap memandang suku, ras, bangsa mupun warna kulit. Sebagaimana kutbah yang disampaikn Rasulullaah SAW :
Diriwayatkan dari Abi Nadhrah,”Orang yang mendengar khutbah Rasulullah di Hari Tasyriq kedua mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda,
‘Wahai manusia ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Ketahuilah bahwa tidak ada kelebihan orang-orang Arab atas Ajam (non-Arab), dan tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berwarna kulit merah atas orang yang berkulit hitam, dan tidak pula hitam atas merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR Ahmad).

Demikianlah Islam menghapus tindakan dan budaya rasisme. Karena kesempurnaan sistem dan ajarannya, Islam mampu menyebar dan menyatukaan 2/3 dunia selama lebih dari 13 abad dalam naungan Khilafah Islamiyah. Padahal dalam sluruh wilayah Daulah khilafah ada bermacam-macam suku, ras, budaya, bahasa, dan sebagainya, tetapi seluruh warga negara Daulah Islam tidak saling bercerai-berai ataupun bermusuhan karena ikatan aqidah yang menyatukan mereka. Maka saatnya kita kembali ke Islam sebagai aagama dan ideologi yang sudah terbukti berhasil menghapus diskriminasi dan rasisme di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish-showab.