Oleh : Zai (Aktivis Mahasiswi)

Duka dunia belum usai sebab virus Corona yang mematikan. Hingga saat ini vaksin Corona belum juga ditemukan. Seluruh penduduk bumi dibuat kewalahan. Berbagai upaya coba dilakukan. Namun belum mampu menjinakkan virus dari Wuhan.


Kebijakan baru yang akan diambil berbagai negara di dunia yakni New Normal Life atau atau kehidupan normal baru dengan protokol kesehatan Corona. Termasuk Indonesia, Pemerintah Indonesia sudah merilis skenario untuk New Normal Life ini. Berbagai pamflet juga telah bertebaran dimedia sosial. Program ini rencana akan dilaksanakan Bulan Juni. Dengan New Normal ini diharapkan dapat mengembalikan kehidupan normal yang sempat lumpuh terutama dalam bidang ekonomi.


Namun banyak para pakar yang mengkritik kebijakan ini. Salah satunya Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.

“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5).

“Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang akan dihadapi, namun berbincang new normal ini banyak pra syaratnya. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Dua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB,” sebutnya.

Ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal.
“Selanjutnya, apakah hal ini sudah berlangsung dan sudah terjadi, rasanya belum,” sambungnya.


Hermawan mengatakan, puncak pandemi belum dilewati bahkan kasus cenderung naik. Akibatnya, prediksi-prediksi yang mengatakan puncak pandemi pada awal Juni akan mundur hingga akhir Juni maupun awal Juli. (Merdeka.com 25/05/20)
Semua upaya ini ditujukan untuk menormalkan kondisi terutama bidang ekonomi, sebab bidang inilah yang merasakan dampak terbesar. Sebagaimana kita ketahui sistem ekonomi pada saat ini yakni ekonomi kapitalis, telah mengalami kehancuran. Oleh karena itu, untuk menambal kehancuran ekonomi kapitalis rakyat dituntut untuk hidup berdamai dengan virus caranya untuk kembali bekerja, kembali berbisnis, kembali sekolah dll, sehingga roda ekonomi berjalan. Namun jika tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan tentu mengkhawatirkan. Jika dilihat dari tren kurva kasus corona, Indonesia memang belum bisa untuk gegabah menerapkan New Normal ini. Apalagi jika pemerintah belum memiliki peta jalan dan hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai. Alasan untuk membangkitkan ekonomi dengan membahayakan manusia pastilah mendapatkan hasil nihil. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang kedua mengintai di depan mata
Inilah fakta kehidupan dengan sistem kapitalis. Ekonomi selalu menjadi hal utama. Nyawa manusia tak lagi dianggap berharga. New Normal It’s mean Abnormal!

Berbeda dalam pandangan Islam. Kebijakan negara tidak disandarkan pada kepentingan manusia. Dengan tuntunan syari tanpa tergesa membebek tren dunia. Islam akan konsisten menerapkan lockdown dalam penanganan wabah. Kemudian daerah yang berstatus hijau menjadi pemasok kebutuhan daerah yang dilockdown. Dengan begitu wabah akan semakin cepat selesai. Tidak mengambil resiko seperti penerapan New Normal. Tentu Islam hanya bisa diterapkan melalui institusi negara. Maka New Normal yang saat ini kita butuhkan adalah new sistem tatanan Negara yakni Khilafah Islamiyyah. Dengan Khilafah, Islam dapat diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia termasuk untuk penanganan wabah segera tuntas.