By: Hafidhah Silmi Iid

Baru baru ini, viral beberapa foto Ustad Ustad yang berpose diatas tunggangan mereka. Ada Ustad Abdul Somad yang mengendarai motor Harley, ada AA Gym yang mengendarai Rubicon, ada juga Babe Haikal yang mengendarai motor Harley. Di foto foto tersebut tertulis caption ” gimana mau jadi panutan ummat? Mengikuti jejak Rasul saja tidak bisa. Jangan sampai ummat bilang : Al Wahn. Cinta dunia tapi takut mati”.

Hadeeehhh.. gemez sama orang yang nyinyir model beginian..
Ngajinya masih sepenggal tapi sudah berani memvonis orang lain..
Hei kamu..
Dan siapa saja yang memiliki pemikiran serupa..

Belajar siroh dan tarikh lagi yuk..
Lihat gimana dulu Rasul dan para sahabat hidup. Dan kaji kembali konsep wahn berdasar rujukan yang benar.

Saya kasih contoh ya gimana dulu kehidupan Ustman bin Afan dan Abdurrahman bin Auf.
2 sahabat ini, punya level kekayaan yang sederajat. Sama sama kaya raya. Multi trilyuner. Crazy rich di jamannya. Tapi, kehidupan mereka berbeda 180°. Makanya saya menggunakan mereka berdua sebagai pembanding.

Abdurrahman bin Auf, beliau ini mungkin dikutuk Allah untuk jadi kaya seumur hidupnya. Rizky seolah mengejar ngejar beliau meski beliau berusaha untuk membagi dan mensedekahkan hartanya di jalan dakwah. (Masih ingat cerita kurma busuk yang membuat Abdurrahman bin Auf semakin kaya kan???). Nah Abdurrahman bin Auf ini, ketakutan jika kekayaan yang dia peroleh di dunia adalah cara Allah menyegerakan balasan amal. Beliau takut nanti di akhirat, sudah tidak lagi merasakan nikmat karena balasan amalnya sudah diberikan Allah di dunia. Maka, Abdurrahman bin Auf berusaha sekuat tenaga untuk “membuang” hartanya. Menyedekahkan di jalan dakwah dan memberikannya kepada kaum muslimin yang miskin. Beliau memilih untuk hidup seadanya. Bahkan ketika beliau dihidangkan makanan yang lezat saja, beliau nangis sesenggukan. Beliau teringat sahabatnya yang miskin hingga kulitnya bersisik, yang saking miskinnya dia cuma punya selembar kain kafan untuk menutup jasadnya yang apabila ditutup kepalanya, maka kakinya kelihatan. Apabila ditutup kakinya, kepalanya kelihatan.

Ya. Sahabat yang membuat Abdurrahman bin Auf menangis tersedu sedu adalah Mush’ab bin Umair. Abdurrahman tidak bisa menikmati makanan lezat yang dihidangkan karena teringat jika mush’ab bisa jadi tidak bisa makan hari itu karena miskin sedang beliau bergelimang kemewahan dan bisa menikmati makanan lezat. Abdurrahman bin Auf cemburu dengan Mush’ab. Maka beliau bertekat untuk hidup seadanya. Meski jika beliau mau, beliau bisa dengan mudah hidup ala sultan dengan kekayaannya.

Lalu..
Mari kita lihat bagaimana kehidupan Ustman bin Afan. Sahabat yang memiliki kekayaan selevel dengan Abdurrahman bin Auf.
Menurut tarikh, Ustman bin Afan ini adalah salah satu sahabat yang fashionista bingit..
Jubah yang beliau pakai, dipintal dari benang yang sudah dicelup minyak zafaron. (Kalian bisa seaching berapa harga minyak zafaron murni 1 botol kecil yang isinya 25ml. Kalau gak salah sih harganya 15 jutaan per 25ml 😲). Coba bayangin butuh berapa EMBER minyak zafaron untuk mencelupkan benang benang yang akan dipintal menjadi jubahnya ustman. Dan bisa dibayangin berapa HARGA juban itu..

Baju branded kluaran supreme atau LV atau hermes dan sejenisnya saya rasa belum ada yg bahannya dicelup minyak zafaron.

Sampai sampai, ketika Ustman melewati suatu kampung, bau parfum Ustman sudah tercium sebelum terlihat batang hidung ustman di hadapan penduduk kampung. Bahkan setelah ustman berlalu pun, bau parfum Ustman masih tercium oleh penduduk kampung..
MashaAllah..
Bisa dibayangin gak gimana fashionable-nya Ustman?? Syahrini mah lewaaaat.. turun kasta kalau dibanding gaya fashionnya ustman.

Ketika ditanya, wahai Ustman, kenapa kamu selalu menampakkan kemewahanmu? Alangkah baiknya jika kamu hidup sederhana seperti sahabat sahabat yang lain.
Ustman menjawab ” kemewahan yang saya pakai ini adalah bentuk perwujudan rasa SYUKUR saya kepada Allah karena saya diberi nikmat rizky yang berlimpah.”

Ketika jawaban itu sampai kepada Rosul SAW, apakah Rasul SAW menghardik dan mencela Ustman karena tidak hidup sederhana???
TIDAK temans..
Rasul SAW membiarkan. Mendiamkan apa yang menjadi pilihan hidup Ustman. Selama, apa yang beliau pakai dan beliau miliki memang didapat dari jalan yang dihalalkan.

See..
Rasul saja membiarkan. Kenapa kita rese’ ? Nyinyir ketika melihat Ustad Ustad punya rubicon, Harley, Tinggal di cluster mewah, Naik privat jet.
Selama apa yang mereka pakai dan mereka miliki diperoleh dari jalan yang dihalalkan, kenapa tidak??

Ingat..
Dalam Islam, tidak ada pembatasan harta kepemilikan. Seseorang bisa dan dibolehkan memiliki harta kekayaan tanpa batasan selama cara dia mendapatkan harta tersebut tidak melanggar hukum syara’. Tidak menguasai harta kepemilikan umum, tidak menipu, tidak merampas hak orang lain.
Dan perlu diingat pula bahwa memiliki kekayaan berlimpah itu, bukan berarti orang tersebut terjangkit wahn dan tidak zuhud. Dudukkan kembali makna wahn dan zuhud pada porsinya. Apa sih wahn itu?, seseorang bisa disebut terjangkit wahn jika dia sudah menjadi budak dunia. Mengejar dunia seolah hidup di dunia selamanya. Hidupnya dihabiskan untuk mengejar dunia.
Lalu..
coba lihat ustad ustad yang kendaraannya diposting di twit ini. Apakah mereka adalah bagian dari orang orang yang hidupnya habis untuk mengejar dunia??
Hmmm..
Saya yakin kita semua sepakat bahwa para ustad ini adalah hamba Allah yang hidupnya didedikasikan untuk dakwah. Untuk memberi pelita kepada ummat disaat umat islam hidup dalam kubangan kegelapan. Mereka adalah sang pencerah.

Lalu..
Coba kita lihat lagi konsep zuhud. Apakah zuhud itu HARUS ditunjukkan dengan berpakaian compang camping? Makan nasi aking, hidup di rumah reot???

Tidak temans..
Zuhud itu tidak menjadikan dunia ada dalam pikirannya. Dia hanya menganggap dunia ini tempat persinggahan sementara jadi, dia tawadu’ ketika memandang dunia. Mesyukuri apa yang dirizkykan Allah kepadanya. Ora kemrungsung. Kalau orang jawa bilang.

Jadi, stop nyinyir ya temans..
Jangan biarkan hati kita digerogoti sifat hasad pada keberhasilan orang lain.
Jauhi deh rasa ” senang kalau lihat orang lain susah. Susah kalau lihat orang lain senang”. Hal itu tidak baik untuk kesehatan pikiran dan hati kita. Jangan iri sama keberhasilan orang lain. Harusnya, keberhasilan orang lain itu, jadi motivasi buat kita. Kalau mereka bisa, kita pasti bisa..

Kalaupun kita tidak bisa menyamai mereka dalam urusan dunia, gak masalah..
Kalahkan mereka dalam urusan akhirat.
Bukankah dunia ini hanya sekejab mata?
Yuk sama sama berbenah..