Cerpen oleh: Pipin Latifah

“Putriku, adakah yang ingin kau tanyakan?” tanya Ustaz Umar kepada putri semata wayangnya.

Tiga jam belalu. Sang pemimpin Alquran Brain Center itu duduk bersama seorang pemuda di ujung mushala keluarga. Banyak hal yang mereka berdua diskusikan karena ini menyangkut masa depan sang keponakan dan putrinya. Ya, tersebab tanggung jawabnya sebagai ayah, beliau ingin mencari pasangan yang layak untuk menjadi imam bagi putrinya. Imam yang akan menggantikan tanggung jawabnya. Karena itu, terbetiklah untuk menjodohkan keduanya.

Gayung bersambut, ternyata sang keponakan juga memiliki niat yang sama. Meski sudah mengenal sang keponakan 25 tahun lamanya, Ustaz Umar ingin sekali lagi mengujinya. Maka, terjadilah pertemuan ini. Ia meminta sang keponakan untuk mempresentasikan proposal pernikahan yang akan dibangunnya. Semua berjalan sempurna. Begitu yang dinilai oleh Ustaz Umar. Zaadit Taqwa adalah calon terbaik menurut lelaki paruh baya tersebut.

Sementara itu, Syaima, sang putri Ustaz Umar tersentak dari lamunannya. Ia sungguh tak fokus akan penjabaran Zaadit tentang proposal pernikahan yang dibuatnya. Segera ia membuka proposal yang sedari tadi digenggamnya dan membukanya perlahan.

“Tolong beri saya waktu untuk mempelajari proposal ini,” pinta Syaima sambil memilin ujung kerudung yang menjuntai ke bumi. Ia merasa tempat duduknya kini bagaikan meja persidangan yang ingin segera ia tinggalkan. Gadis secantik bunga itu tak berani menatap ayahnya. Apalagi Zaadit! sang kakak sepupu yang kini menjadi kandidat calon menantu untuk ayahnya.

Mendapat jawaban demikian, Ustaz Umar mengembuskan napas perlahan. Ia tahu, bahwa putrinya sedang mencoba untuk memintal waktu. Ia bisa menangkap kegelisahan di hati putrinya. Hanya saja, permata hatinya itu untuk kali ini tak terbuka tentang apa yang dirasa.

Sebenarnya, Syaima telah menerima proposal Zaadit sepekan silam. Namun, ia tak meliriknya. Pikirannya bergulat hanya pada seorang yang membuat hatinya tertambat.

“Baiklah. Selepas ashar, kita akan lanjutkan pertemuan ini. Sebentar lagi dzuhur. Kalian bersiaplah! Kita shalat bersama para santri.” pungkas Ustaz Umar

“Baik” Jawab Zaadit dan Syaima bersamaan


Selepas salat zuhur, setiap ruang belajar di ABC (Alquran Brain Center) kembali menggemakan kalam Ilahi. Zaadit, seorang guru yang telah meraih sanad tilawah dan sanad tahfiz matan al-jazary itu yang memandu pelajaran tahsin siang ini di kelas santri putra.

Syaima pun sebenarnya ada jadwal mengajar di kelas santri puteri. Hanya, khusus siang ini, ia mendelegasikan tugasnya kepada guru lain. Gadis itu tak membuang waktu. Ia segera ke bilik kamarnya untuk mempelajari proposal yang dibuat oleh Zaadit. Cukup tebal untuk ukuran sebuah proposal. Isinya seperti kitab fikih munakahat. Dimulai dari curriculum vitae, landasan pemikiran, visi misi rumah tangga, hingga rancangan pendidikan yang akan dilakukan untuk keluarganya kelak.

CV Zaadit tidak dibacanya. Dilewatnya begitu saja. Syaima merasa itu bukanlah hal yang penting baginya. Seorang lelaki yang berbeda usia 3 tahun darinya itu bukanlah orang yang asing baginya. Kebersamaannya dengan Zaadit sejak kecil, tentu menjadi modal baginya bahwa ia begitu mengenalnya. Syaima bahkan dapat mengingat seluruh kebersamaannya bersama kakak sepupunya itu. Bahkan, ia masih sangat jelas merekam memori ketika Zaadit menginjak SMA dan Syaima menginjak SMP, Zaadit tidak mau lagi membonceng Syaima meski sekolah mereka satu lintasan. Ia begitu dongkol dengan pernyataan Zaadit kala itu, ‘Kita bukan mahrom!’ sedangkan Syaima terlanjur begitu nyaman dengan kebersamaan mereka berangkat sekolah bersama.

“Kita kan saudara! Kamu itu kakakku. Boleh dong boncengan?” tawar Syaima.

Hemm… Mengingat hal itu, terlukislah bulan sabit di wajah Syaima. Ia merasa lucu atas keluguannya kala itu. Setelah mulai belajar agama di organisasi rohani islam, ia baru tahu bahwa saudara sepupu bukanlah mahrom. Artinya, halal untuk dinikahi.

“Sempurna!” gumam Syaima. Zaadit yang dikenalnya sejak dulu seperti laki-laki yang tiada cacat cela. Rupa, akhlak, maupun ilmu agama semuanya menyejukkan mata. Ia ingat, sejak SD, Zaadit selalu menjadi andalannya ketika kesulitan menghinggapi. Zaaditlah yang akan menjadi pengawalnya, guru privatnya, bahkan menjadi tameng di hadapan ayahnya ketika Syaima berbuat alfa.

Hanya saja, sesempurna apapun sosok seorang Zaadit, tak pernah ia berpikir memilihnya menjadi penyempurna setengah agamanya.

“Tapi … kamu hanyalah kakakku! Kuharap akan selalu begitu,” hatinya sesak. Bendungan di pelupuk mata Syaima pun akhirnya runtuh piuh. Bertahun-tahun ia menunggu seseorang yang telah menambat hatinya meski tak pernah ada kabar menyapa. Ia bahkan masih menyimpan sepucuk surat yang diterimanya kala wisuda SMA dulu.

[Assalaamu’alaikum. Ukhti, ketika Allah memilih Ali untuk menjadi pendamping Fatimah, kuharap, Allah berkehendak memilihku menjadi pendampingmu. Tapi, aku perlu membeli waktu untuk menjadikanmu penyempurna setengah agamaku. Aku akan berusaha memantaskan diri. Kuharap kau bersedia menunggu hingga aku siap untuk menghalalkanmu.

Wassalaamu’alaikum.

Aqsha Tazakka]

Pasca mendapat surat itu, tidak ada kata ‘ya’ atapun ‘tidak’ dari lisan Syaima. Hanya, diamnya adalah ‘ya’ baginya. Hatinya berucap siap menunggu. Bagimanapun, Syaima telah jatuh cinta pada sosok Aqsha Tazakka. Cinta dalam diam yang tumbuh karena seringnya ia membaca deretan aksara karya Aqsha di mading sekolah. Cinta itu ia biarkan tumbuh merekah. Tentu, tak ada ekspresi yang melanggar norma agama. Semuanya hanya disimpan dalam segenggam hati.

Sungguh ia pun terkesima, ternyata Aqsha mempunyai rasa yang sama bahkan ingin menghalalkannya. Siapa yang tidak merasa bahagia?

Hingga, selepas sarjana, sang ayah lebih dulu mengambil langkah untuk mencarikan pemimpin kehidupannya dengan seorang yang tak pernah diduganya. Proposal yang dipegangnya tiada cacat cela. Ia pun sebenarnya yakin bahwa Zaadit mampu menjalankan dengan baik apa yang sudah dirancangnya. Ia tahu karakter Zaadit. Berbuat sesuai apa yang diucap. Tidak ada pertanyaan lagi atas proposal ini. Hanya, hatinya berharap, bolehkah ia meminta agar menjadi sosok adik saja selamanya?

Syaima terus menangis. Ia tahu bahwa ia tak bisa lepas dari perjodohan ini. Ayahnya tidak akan menerima penolakannya jika hanya berdasar perasaannya saja. Hingga lelah menyergapnya dan akhirnya terlelap.

//

Azan ashar berkumandang. Syaima pun terkesiap. Azan ini seperti alarm baginya karena saatnya untuk segera memutuskan perkara perjodohan ini.

Ba’da ashar, Ustaz umar, Zaadit, dan Syaima kembali ke mushala keluarga.

“Baiklah putriku. Bagaimana pendapatmu tentang proposal di tanganmu itu?” Ustaz Umar memulai kata

“Alhamdulillah. Sudah saya baca, Ayah. Semuanya sudah jelas,” Syaima mencoba menjawab setenang mungkin. Berharap, risau yang dilanda tidak akan berpengaruh pada nada suaranya.

“Lalu, adakah yang ingin kau tanyakan, putriku?” suara ustaz Umar lembut

Syaima mencoba mengosongkan ruang di dadanya dengan mengembuskan napas perlahan. Sambil beristighfar, ia mencoba mengajukan satu pertanyaan yang selama ini membuatnya gundah.

“Bagaimana kak Zaadit memandang cinta antara suami istri kelak? Apakah kak Zaadit mau menerima seorang wanita yang hatinya telah terpaut pada orang lain?” Tanya Syaima bergetar. Ustaz Umar tersentak karena putrinya begitu blak-blakkan mengungkapkan isi hatinya. Mata yang jeli itu kembali membendung air mata. Syaima terus menunduk. Tak ada nyali baginya menatap wajah sang ayah. Apalagi Zaadit.

“Silakan Nak Zaadit jika ingin menjawabnya” Ustaz Umar mempersilakan

“Terima kasih, Paman” Senyum itu terbit di wajah Zaadit. Karakternya yang tenang semakin membuat kharismanya memancar.

“Bismilah walhamdulillah. Tentang cinta yang dirasa oleh suami istri pastilah itu sebuah cinta yang suci. Cinta yang diberkahi. Cinta yang diridai. Allahlah sang pemilik cinta dan Dialah yang memberikan cinta itu kepada setiap hambanya. Kita sebagai hamba, hanyalah bisa meminta agar Dia menganugerahkan cinta pada apa saja yang Dia cinta.

Dek Syaima … perlu kita pahami bahwa pernikahan dalam Islam itu dimulai dengan sakinah. Sakinah itu ketenangan. Cukuplah seorang wanita ketika akan melangkah ke gerbang pernikahan dengan menghiasi dirinya berupa kebaikan ilmu dan agamanya sebagaima kalam Allah dalam surah an-Nisa ayat 34

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ

Artinya; “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (TQS An-Nisa ayat 34)”

Zaid membaca sepenggal ayat itu dengan suara seperti seruling surga. Ia bacakan dengan tajwid yang sebenarnya. Memberikan hak dan mustahak setiap hurufnya.

“Jika seorang wanita telah menjadi wanita yang salihah, ia taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka tugasnya selanjutnya ketika ia telah menikah adalah menjadi sebaik-baik istri yang akan menjadikan suaminya merasa sakinah (tenang) kepadanya. Jika seorang suami telah merasa sakinah, maka biarlah Allah yang bekerja menumbuhkan cinta (mawaddah) dan keberkahan (warahmah) diantara suami dan istri tersebut.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (TQS Ar-Rumm ayat 21)

Jika dek Syaima bertanya, ‘apakah saya akan menerima seorang wanita meskipun hatinya telah terpaut lelaki lain?’ maka, andai dek Syaima mau menerima saya menjadi qowam (pemimpin) dan berkomitmen untuk menjadi sebaik-baik istri untuk saya kelak, tentu saya akan menerima dengan rasa bahagia. Untuk cinta, biarlah Allah yang bekerja menumbuhkan cinta diantara kita. Tugas kita, hanya berusaha saja untuk membangun cinta.” pungkas Zaadit

Derai air mata Syaima kembali membuncah. Setitik ketenangan menelusup ke hati. Jawaban Zaadit seolah membuatnya seperti digodam palu besi. Ia luruhkan egonya. Tak ingin lagi berharap pada siapa yang dicinta. Padahal, tak pernah ada kabar yang didengarnya dimana ia berada. Meski dunia maya, tak ada juga jejaknya. Laki-laki itu seperti ditelan dunia. Dan anehnya, Syaima tetap menunggunya bertahun lamanya. Mungkin inilah saatnya ia membuka hati pada sosok yang selama ini selalu menjaganya dari kejauhan.

“Baik. InsyaAllah saya menerima perjodohan ini, Ayah” ucap Syaima

“Alhamdulillah” ucap Ustaz Umar bahagia. Zaadit pun langsung sujud syukur. Syaima tidak pernah tahu, bahwa bertahun lamanya, sepupunya itu memendam cinta padanya. Setelah keduanya baligh, Zaadit sengaja menjaga jarak justru untuk menjaga agar cinta itu dapat diredamnya. Ia bahkan bertekad untuk menghalalkannya dengan berusaha memantaskan diri. Karena ia tahu, sang paman tidak akan mudah menyerahkan berliannya pada sembarang laki-laki. Zaadit begitu haru akan kemurahan hatinya Robbnya karena mengabulkan harapannya, dia dapat tersenyum bahagia, karena pujaan hatinya akan menjadi bidadari yang halal baginya.

//

Senyum itu terus terkulum di wajah sepasang sejoli yang baru saja mengikrarkan akad suci. DItambah, kala banyaknya sanak saudara dan handai tolan yang memberikan restu dan doa untuk mereka.

“Barakallahu lakumaa wabarak alaykumaa wajama’a bayna kumaa fii khoyr”

Asy-Syaima Fissilmi Kaaffah & Zaadit Taqwa

Selesai.