Oleh: Messy Ikhsan

Sungguh miris fenomena generasi masa kini. Kian hari kian tak menunjukkan jati diri. Sebagai calon pemimpin negeri ini. Yang akan menentukan nasib negeri ini nanti.

Kian hari moralisasi kian terkikis tak menunjukkan arti. Begitu latah dalam mengikuti perkembangan digitalisisasi. Tanpa memfilter tren dan budaya yang masuk secara rinci.

Jika kemarin Tiktok yang menjadi trendi. Menyanyi dan menari hingga larut pagi. Menyingkirkan rasa malu demi mempertahankan eksitensi diri.

Kini berganti dengan Lathi Challenge yang melambung tinggi. Berisi konten make-up dengan diiringi lagu Lathi. Yang sarat dengan nilai horor dan misteri. Chalengge ini pertama kali digagas oleh Jhana Bhagwani. Seorang Beauty Blogger dari negeri ini.

Karya Lathi begitu diapresiasi oleh pengegas seni. Karena memproduksi karya yang unik sekali. Memadukan musik modern dengan budaya tradisional yang murni. Mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa Jawa asli. Namun, tak mengandung arti dari sudut isi.

Begitulah fenomena generasi yang lahir dari rahim Demokrasi. Generasi latah, instan dan alay terhadap trendi. Memandang budaya hanya sebatas seni dan kemajuan teknologi. Tanpa menelisik konten isi secara rinci.

Semua budaya baru diterima secara lahap tanpa ragu. Dibabat habis dengan hati yang seru. Tanpa diteliti terlebih dahulu. Apakah budaya baru tersebut sesuai dengan ilmu Islam atau malah menyerang kalbu.

Ah, sungguh kita semakin dibuat rindu dengan penerapan sistem Islam yang mulia. Penjagaan terhadap generasi amat sempurna. Melahirkan generasi tangguh, militan dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan negeri.

Generasi multitalenta tak hanya mengandalkan kecerdasan secara logika. Namun, juga mencerminkan kepribadian Islam yang mulia. Pola pikir dan pola sikap sesuai dengan tuntunan Pencipta.

Generasi yang melahirkan beragam ilmu pengetahuan modern dan seni. Dengan menjadikan kalam Ilahi sebagai identitas diri. Hingga mendekap sanjung puji dari penduduk bumi hingga saat ini. Tak percaya? Silahkan buktikan sendiri. []