Karya: Warjianah
(Pemalang, Jawa tengah)

Di saat pertumbuhan ekonomi melambat, para mahasiswa di tuntut membayar uang UKT tanpa ada kebijakan yang meringankan beban mahasiswa. Kini muncul kebijakan mencekik petani pun terjadi di tengah-tengah panen melanda, yakni impor telah mendarat di negeri ini. Adapun alasan hadirnya impor, di jelaskan oleh Safri Burhanudin,” kalau kita bicara swasembada, kita sudah swasembada, kita sudah mencapai target. Hanya saja sekarang kebutuhan produksinya meningkat”.

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kebutuhan produksinya berbeda-beda. Di sisi lain kementan ingin indonesia meningkatkan produksi ekspor dengan mengurangi impor. Sedangkan kemendag justru menderaskan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kebijakan ini tentunya membingungkan, maksud ingin terlepas dari impor tetapi malah terjebak dengan kepentingan pengusaha yang suka dengan produk luar negeri, menurut pengusaha produk luar negeri kualitasnya lebih bagus dari pada dalam negeri.

Melihat masalah seperti ini, seharusnya pemerintah melakukan upaya peningkaAtan kualitas produk dalam negeri dan melakukan upaya meningkatkan hasil pertanian. Sayangnya peran pemerintah juga tidak membangun ketahanan pangan dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Berbeda halnya ketika aturan islam mengatur persoalan ini, kebijakan yang akan di ambil mewujudkan kemandirian pangan dan jaminan Ketahanan pangan. Islam memandang, pangan adalah kebutuhan yang wajib di penuhi oleh negara, sehingga negara melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya. Mulai dari meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan hasil pertanian, menjamin pasokan pangan dalam negeri, dan melakukan ekspor ketika pasokan pangan dalam negeri terpenuhi dan mengalami surplus.