Oleh : Syiria

Sungguh mengejutkan Corona dari hari ke hari. Berdasarkan data pemerintah yang masuk hingga Selasa (9/6/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat 1.043 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.Penambahan itu menyebabkan kini ada 33.076 kasus Covid-19 di Indonesia, sejak kasus pertama tercatat pada 2 Maret 2020. Dan akan terus bertambah bahkan melonjak drastis sejak diberlakukannya “new normal”.

Namun anehnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.(kumparan.com, 2/6/2020)

Langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak, karena penyebaran virus Corona (Covid-19) belum menurun. Bahkan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain. Dari data Kementerian Kesehatan terdapat 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun.

Hampir 1000 anak terinfeksi Covid-19, baik karena tertular orang tua atau lingkungannya. Maka rencana tahun ajaran baru sekolah di masa new normal akan menimbulkan masalah tersendiri. Bila anak-anak masuk ke sekolah saat masih pandemi, bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah? Bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah?

Resiko penularan virus Corona pada anak memang cukup tinggi. Sehingga orang tua harus berperan penting mengawasi anak, terlebih jika ada kegiatan di luar rumah. Apalagi untuk imunitas tak ada perbedaan yang signifikan antara anak dan orang dewasa. Meskipun virus tersebut rentan terhadap orang usia lanjut, bukan berarti kondisi serupa tak terjadi pada anak-anak.

“Maju kena, mundur kena” menjadi istilah yang pas bagi anak sekolah saat kondisi pandemi seperti sekarang ini. Bagaimana tidak, jika tahun ajaran baru tetap dilaksanakan meskipun dalam kondisi pandemi saat ini banyak orang tua yang risau akan anaknya, ditakutkan mereka bisa tertular Covid-19. Namun, jika anak-anak hanya belajar di rumah via online, dirasa kurang efektif.

Padahal anak merupakan generasi penerus bangsa, yang nanti akan meneruskan kepemimpinan bangsa ini, jika generasi bangsa ini habis, lalu siapa yang akan menjaga dan mempimpin negeri ini? Akankah kita serahkan kepada manusia yang rakus akan gemerlapnya dunia ini? Tentu tidak!

Sebenarnya anak tetap bisa belajar di rumah dengan orang tuanya, karena orang tua termasuk guru pertama bagi anaknya, pada zaman dulu anak-anak juga belajar dengan orang tuanya, bahkan ada yang sampai menjadi ulama besar seperti Imam syafii, beliau menjadi orang hebat dan menjadi ulama, karena didikan orangtuanya. Dan sebenarnya orangtua sekarang juga bisa, namun karena mereka sibuk kerja, sehingga tanggung jawab mendidik putra putrinya di limpahkan kepada orang lain atau guru di sekolah.

Begitu percayanya para orang tua kepada sekolah, hingga mereka tidak sadar jika sistem pendidikan di masa kini justru tidak menciptakan manusia yang bertaqwa, tidak sesuai dari tujuan pendidikan itu sendiri, banyak anak yang tidak bermoral, sebab pendidikan masa kini berbasis pada kurikulum barat, yang beraqidahkan pada sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan, dan juga pendidikan saat ini di jadikan bisnis bagi kaum kapitalis, sehingga wajar jika pemerintah ingin membuka sekolah-sekolah, meskipun kondisi belum mereda dari covid-19. Demi melancarkan roda perekonomian, negara sungguh tega mengorbankan nyawa anak bangsa. Dan mensupport berbagai kebijakan yang menguntungkan. Seakan tidak peduli jika akan banyak nyawa rakyat yang dikorbankan. Untuk bisa bertahan, rakyat hanya dibekali dogma yang disebut “protokol kesehatan”.

Back to Islam kaffah

Apa yang terjadi saat ini seharusnya sudah cukup untuk mengoreksi total sistem sekuler kapitalistik yang diterapkan, sebagai bagian kecil dari sistem hidup sekuler secara keseluruhan. Karena sistem ini benar-benar jauh dari kata manusiawi. Semuanya serba diukur dengan takaran untung rugi.

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Sistem yang tegak atas keyakinan bahwa manusia diciptakan sebagai hamba Allah dengan mengemban amanah mengelola kehidupan dan mewujudkannya dalam bentuk ketaatan pada aturan hidup yang diturunkan Allah Ta’ala, yakni syariat Islam.

Saat rakyat berada dalam naungan Islam, mereka benar-benar bisa menikmati layanan dan penjagaan maksimal dari para penguasa, tidak dilihat berdasarkan anggaran tahunan atau aspirasi politik, melainkan didasarkan pada hak-hak yang diberikan oleh Allah Swt. kepada mereka sehingga mereka mengupayakan agar bisa memberikan pelayanan yang maksimal bagi rakyatnya.

Bahkan, sistem Islam-lah yang pertama mengenalkan dan menerapkan layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Sistem ini pun mendorong berbagai inovasi yang memungkinkan layanan umum tersebut bisa diberikan secara optimal.

Padahal, ancaman Rasulullah saw. terhadap para penguasa yang hanya mementingkan dirinya sendiri amatlah nyata:
“Siapa pun yang mengepalai salah satu urusan kaum muslimin dan tetap menjauhkan diri dari mereka dan tidak membayar dengan perhatian pada kebutuhan dan kemiskinan mereka, Allah akan tetap jauh dari dirinya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Jadi Islam tidak sekedar mengatur urusan ibadah yang berhubungan dengan penciptaNya, namun juga mengatur seluruh problematika kehidupan, termasuk bagaimana Islam mengurusi kondisi rakyat saat pandemi. Penguasa di dalam negara Islam tidak akan menelantarkan kondisi rakyat, sebab nyawa lebih berharga dari pada hal lainnya

Dalam islam, nyawa seseorang benar-benar di muliakan dan di junjung tinggi, menghilangkan satu nyawa manusia di samakan dengan membunuh seluruh manusia (lihat: QS Al-Maidah ayat 32).Nabi SAW, juga bersabda,” Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah dari pada terbunuhnya seorang muslim”.(HR An-Nasai at Tirmidzi dan Al-Baihaqi).

Islam sungguh memanusiakan manusia dengan syariat-Nya dan juga menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, serta memberikan keberkahan apabila manusia beriman dan bertakwa, takwa yang di maksud di sini yaitu dengan menerapkan seluruh perintah Allah dan menjahui segala laranganNya (lihat: QS Al A’raf ayat 96). Penerapan syariat Allah hanya bisa diterapkan dalam naungan khilafah dengan penerapan islam kaffah.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menengok sejarah kegemilangan peradaban Islam. Bagaimana aturan Islam bisa mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya, dari berbagai lini kehidupan. Menuntaskan semua persoalan yang ada termasuk ketika terjadi wabah. Harta dan jiwa pun terlindungi, baik dari ancaman wabah penyakit maupun ancaman lainnya.

Wallahu ‘alam
bishawab