Oleh : NS. Rahayu

Setiap orang ketika ditanya mau dibawa kemana akhir tujuan hidup kita, surga atau neraka. Sudah pasti semua menjawab surga. Tidak satupun orang yang mau kehidupan akhir yang menyengsarakan dirinya. Apakah sudah mempersiapkan diri untuk memperoleh kavling surga? Syaratnya mudah hanya satu yaitu samina wa athona (saya mendengar dan saya patuh) pada perintah Allah! Banyak yang terdiam dengan pertanyaan ini.

Bagaimana dengan saya dan kita semua, mungkin jawabannya sama tapi berbeda. Perbedaan inilah yang membawa manusia pada upaya minimalis atau maksimal yang diberikan untuk mencapai tujuan hidup tersebut. Upaya yang dilakukan akan berkorelasi dengan pemahaman dan pemahaman akan terbentuk dari ilmu.

Kuncinya pada ilmu. Dengan ilmu manusia diberikan pilihan dalam melakukan perbuatanya. Mau menjemput tujuan (akhirat) dengan berjalan di tempat, berjalan santai, berlari kecil, marathon hingga berlari secepat kilat? Jawabnya tebak sendiri.

Perbuatan kita didunia adalah torehan dari pilihan kita sendiri, yang akan membekas pula di akhirat kelak. Karena yakin Allah, SWT menilai setiap upaya maksimal dari hamba-hambaNya.

Termasuk di dunia tulis menulis yang ingin saya sampaikan sebagai pendorong saya pribadi dan rekan-rekan dalam menorehkan karyanya. Jangan jadikan menulis sekedar menggugurkan tugas atau hiburan sesaat. Namun menjadi orientasi di dunia untuk meraih akhirat. Sehingga ada upaya yang kuat untuk membuat tulisan kebenaran.

Caranya mudah kok. Jadikan menulis itu adalah seni menyampaikan kebenaran (maaf ijin mengutip qoute penulis nasional Asri Supamiati). Standarkebenaran itu sesuai dengan aturan Allah. SWT. Maka menulis harus sesuai dengan fakta dan kevalidan.

Mengambil kesempatan dalam tulisan meski awalnya sulit merangkai kata namun ketika istiqomah lama kelamaan tulisan akan terbentuk indah dan mampu mempengaruhi orang lain dengan pengaruh yang baik (islam). Dan akhirnya menjadi habit (kebiasaan).

Jangan jadikan ilmu menjadi sia-sia, pengaruh tulisan itu mampu mengisi dan merubah pemahaman orang lain menjadi lebih baik bahkan mampu merubah peradaban. Selain itu ketika menulis dijadikan sebagai wasilah menyampaikan kebenaran, maka akan berdimensi pahala, jadi amal jariyah, jadi ilmu yang bermanfaat apalagi penulisnya sholeh sholehah pahala dapat mengalir juga pada orangtua.

Rasullullah, SAW bersabda : “Jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh.” (HR. Muslim). Wallahualam bishawab