Oleh Nanik Farida Priatmaja, S.Pd

Wacana pembukaan sekolah atau tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli mendatang tengah terjadi pro kontra. Kemendikbud atau pemerintah setempat yang menjadi bagian satuan tugas gugus Covid-19 menyatakan sekolah akan dibuka bagi daerah yang sudah terkategori zona hijau, dengan tetap menjalankan protokoler Covid-19.

Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali rencana mengembalikan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada Juli nanti di tengah pandemi virus corona. Zubairi mengungkapkan hal itu karena menduga kasus positif corona di Indonesia akan terus naik. Mengacu data per Sabtu (16/5), ada 529 kasus baru dari hari sebelumnya sehingga jumlah kasus positif menjadi 17.025. Dari data tersebut sebanyak 3.911 orang dinyatakan sembuh dan 1.089 pasien covid-19 meninggal dunia. “Menurut dugaan saya kalau yang positif terus akan naik. Banyak ahli prediksinya antara 95 ribu di bulan ini sampai 106 ribu,”Zubairi (CNNIndonesia.com,16/05).

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengungkapkan hasil angket yang telah diunggahnya. Dari kalkulasi yang didapatkan, 80 persen responden yang berasal dari orang tua menolak sekolah dibuka kembali saat tahun ajaran baru meski dengan aturan normal baru, para orang tua tersebut tetap khawatir karena situasi pandemi yang masih belum menentu. Hal ini malah berkebalikan dengan hasil survei dari responden anak-anak yang menginginkan untuk bisa kembali ke sekolah. Mereka diduga jenuh menjalani belajar dari rumah dan ingin segera bertemu kembali dengan kawan-kawan di sekolah (kompas.com,23/05).

Masa pandemi rupanya menjadi problem serius dunia pendidikan yang hingga belum menemukan solusi terbaik. Belajar Dari Rumah(BDR) yang dianggap mampu menjadi model pembelajaran di masa pandemi nyatanya malah menimbulkan masalah baru baik dari dari kalangan siswa, guru ataupun orang tua akibat keterbatasan sarana prasarana. Sementara jika masuk sekolah dengan bertatap muka secara langsung pastinya akan banyak resiko pula. Misalnya terkait bagaimana memantau anak-anak untuk tidak berkerumun atau untuk disiplin menggunakan masker. Sehingga kesehatan dan keselamatan nyawa generasi bangsa ini akan terancam jika masuk sekolah meski dengan penerapan protokol New Normal.

Keresahan para orang tua siswa muncul ketika pemerintah memutuskan akan memberlakukan New Normal, yaitu kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Semua aktivitas masyarakat akan kembali diizinkan, mulai dari bekerja, sekolah hingga ke tempat wisata. Namun, semua aktivitas tersebut harus dijalani dengan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona (detik.com, 31/5/20).

Sungguh aneh, Indonesia menerapkan kebijakan New Normal disaat kurva pandemi covid-19 masih belum landai. Seharusnya pemerintah bisa mengambil pelajaran dari pelaksanaan New Normal dari Korea Selatan dan Perancis yang terbukti gagal menerapkan New Normal padahal mekanisme penanganan covid-19 lebih baik dari negeri ini.

Korea Selatan telah membuka sekolah dengan memberlakukan kebijakan New Normal setelah kurva covid-19 turun akan tetapi seketika terjadi lonjakan terinfeksi covid-19 baru. Sehingga saat itu 75 sekolah memulangkan para guru dan siswanya. Begitu juga yang terjadi di Prancis ketika kembali membuka sekolah untuk anak-anak. Namun tak lama setelah itu, kasus positif pada anak langsung ditemukan.

Penerapan New Normal seharusnya tak dipaksakan hanya demi alasan ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek lainnya termasuk sektor pendidikan yang akan berpengaruh terhadap kualitas generasi masa depan negeri ini.

Masa pandemi covid-19 telah terjadi sekian bulan namun nyatanya tak ada solusi terbaik dari negara-negara penganut sistem kapitalis termasuk Indonesia. Bahkan bisa dikatakan solusi tambal sulam. Karena mengedepankan asas manfaat tanpa memperhatikan kesesuaian dengan fitrah manusia.

Syariat islam hadir sebagai solusi terbaik bagi permasalahan manusia dari Sang Pencipta Kehidupan. Pastinya akan mampu memberikan solusi yang tuntas terhadap permasalahan apapun termasuk pandemi yang melanda umat manusia. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Inilah yang disebut juga dengan lockdown.

Sayangnya solusi terbaik dari Islam (Lockdown) tidak dilakukan oleh negara yang sedang dilanda pandemi covid-19. Sehingga pastinya penyebaran wabah sangat mudah tersebar ke seluruh dunia. Begitupun di negeri ini yang pada awalnya sangat menyepelekan wabah covid-19 dengan tetap membuka akses masuk turis asing ke Indonesia tanpa adanya pembatasan ataupun pengecekan kesehatan serta membuka luas pariwisata internasional dan membiarkan tenaga kerja asing dari Cina berbondong-bondong ke negeri ini.

Lockdown tidak dijadikan solusi negara kapitalis dalam mengatasi wabah covid-19 karena negara merasa kebutuhan pokok rakyatnya bukanlah ditanggung negara. Sedangkan ketika negara menerapkan sistem Islam, maka akan menjamin kebutuhan pangan, kesehatan, keamanan, termasuk pendidikan seluruh rakyatnya bukan hanya saat kondisi pandemi saja.

Ketika terjadi pandemi seharusnya negara menyiapkan strategi pendidikan yang berkualitas dan efisien bagi rakyatnya. Misalnya dengan menjamin ketersediaan sarana prasarana pembelajaran jarak jauh baik di sekolah-sekolah ataupun di rumah-rumah (misalnya dengan online) di seluruh wilayah negara(termasuk wilayah pelosok), menyiapkan tenaga pendidik yang berkualitas dan menjamin kesejahteraan mereka, menyiapkan materi pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga mudah dipahami siswa meskipun tidak bertatap muka secara langsung.

Sehingga siswa tetap bisa menutut ilmu meski di rumah saja. Orang tua tidak panik dan stress saat membersamai anak-anak belajar di rumah karena kebutuhan pokok telah dijamin oleh negara dan disediakan sarana prasarana belajar yang memadai. Para guru tidak bingung membuat media pembelajaran berbasis online. Serta sekolah tetap bisa berjalan sesuai fungsinya meski tanpa kehadiran siswa secara langsung dan tidak bingung merancang pembelajaran bagi para siswa.

Hanya negara yang menerapkan syariah Islam yang mampu menjalankan fungsi pendidikan secara optimal baik saat pandemi atau tidak. Karena memahami bahwa kebutuhan seluruh rakyat termasuk pendidikan adalah wajib dijamin negara. Kualitas generasi bangsa pastinya ditentukan oleh pendidikan yang berkualitas pula.