Oleh: Ita Mumtaz

Sudah empat bulan negeri ini mencekam bersama virus mematikan. Tanda-tanda akan berakhirnya pun belum bisa dipastikan. Data per 14 Juni 2020 menunjukkan kenaikan tak terelakkan. Total kasus positif Covid-19 menjadi 38.277 orang, dengan korban meninggal dunia sejumlah 14.531.

Situasi masih belum aman, namun Pemerintah malah buru-buru mengadopsi “new normal” dengan segala narasinya. Pemerintah pun mulai menandai kehidupan baru ini dengan membuka mall. Sektor-sektor ekonomi publik kembali diputar. Ada wacana pula, sekolah-sekolah akan dibuka kembali pada pertengahan Juli mendatang.

Berbagai respon dari masyarakat mencuat. Kebanyakan para orang tua sangat khawatir dengan rencana dibukanya kembali sekolah, mengingat kurva penyebarannya belum ada tanda-tanda melandai.

Fakta di Korea Selatan, Perancis dan Finlandia yang kembali menutup pasca dibukanya sekolah membuat para orang tua semakin ngeri membayangkannya. Puluhan kasus terinfeski baru bermunculan di sekolah-sekolah di negara tersebut. Banyak yang kemudian berencana ingin membuat program homeschooling buat sang buah hati.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti pun meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020.

Mengingat fakta yang terjadi, begitu banyak anak-anak yang terpapar covid-19. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 831 anak berusia 0-14 tahun yang terinfeksi Covid-19 (Okezonenews.com, 27-05-2020)

Dari paparan data yang ada, semestinya kita tidak meremehkan dampak serius dari virus covid-19 bagi anak-anak. Anak adalah aset bangsa yang harus dijaga dengan sebaik-baik perlindungan. Karakter anak itu sendiri juga harus menjadi pertimbangan utama. Karena masih belum sempurna proses berpikir mereka, bagaimana kita bisa memperlakukan mereka layaknya orang dewasa?

Berbagai program protokol kesehatan siap disosialisasikan. Namun apakah anak-anak peduli dengan itu semua. Apalagi jika mereka sudah asyik bermain dengan teman-teman. Misalnya ada yang bertukar masker karena saling tertarik dengan masker milik teman. Bisa saja hal demikian terjadi. Maka segala protokol kesehatan yang dicanangkan tak akan ada artinya lagi.

Maka dikhawatirkan akan muncul cluster baru, yakni di sekolah-sekolah. Ledakan kasus baru di kalangan anak-anak pun dikhawatirkan tak bisa terelakkan. Maka tak berlebihan jika orang tua sangat khawatir jika wacana dibukanya kembali sekolah segera direalisasikan. Banyak di antara wali siswa yang sudah bersiap untuk membuat program homeschooling untuk buah hatinya.

Untuk itu, kebijakan membuka sekolah pada Juli mendatang harus dikaji ulang. Pemerintah harus lebih fokus pada upaya pemulihan. Bukan malah mencekoki rakyat dengan ide absurd new normal, apalagi di negeri ini yang kondisinya sangat jauh dari negara-negara yang kurva penyebarannya telah melandai. Masalah ekonomi, apalagi ekonomi kapitalis hendaknya ditangguhkan dulu demi keselamatan jutaan nyawa rakyat. Apalah artinya berputarnya ekonomi, jika nanti banyak rakyat yang akan tumbang berjatuhan?

Seperti yang dikatakan oleh Ekonom Ichsanuddin Noorsy dalam acara ILC beberapa waktu lalu, bahwa sumber daya manusia lebih penting untuk diselamatkan. Jika sumber daya manusianya aman, otomatis perekonomian berjalan dengan sendirinya.

Dalam Islam, sungguh satu nyawa rakyat sangatlah berharga. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah bersabda.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455).

Untuk itu, hendaklah pemerintah tidak tidak melakukan kesalahan besar sekali lagi, setelah kemarin sempat melakukan tindakan konyol, yakni meremehkan virus mematikan ini. Sehingga kebijakan yang dilakukan justru semakin menambah parahnya kondisi negeri ini.

Seharusnya negara lebih memprioritaskan keselamatan rakyatnya ketimbang sekadar pemulihan ekonomi. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Pemimpin dalam negara Khilafah di masanya. Ketika terjadi pandemi, maka negara akan menutup semua sektor yang memungkinkan terjadinya penularan. Negara betul-betul berupaya maksimal demi keselamatan rakyat. Serta memastikan bahwa masyarakat dalam kondisi aman dengan angka nol kasus. Sehingga layak untuk memulai kehidupan dengan aktivitas normal. Wallahu a’lam bish-shawwab.