Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Pada saat ini dunia masih dalam kondisi pandemi Covid-19, apakah benar penyebab utama krisis ekonomi saat ini adalah Covid-19? Kalau kita bisa lebih berpikir cerdas dan cemerlang, maka sesungguhnya krisis ekonomi yang berulang ini justru disebabkan oleh penerapan sistem kapitalisme sekulerisme dengan berbagai bentuknya.

Adapun lima penyebab utama krisis ekonomi bisa terjadi. Ini perspektif dalam ekonomi Islam. Pertama, kelakuan buruk pelaku ekonomi. Yaitu sikap keserakahan, individualis, hedonisme, spekulasi, gharar, curang, monopoli, penimbunan, kontrol harga, manipulasi, informasi tidak seimbang, tidak ada keadilan distributif dan lain sebagainya.

Spekulasi, perjudian dilarang dalam Islam yaitu dalam QS Al Maidah 90-91 dan QS Al Baqarah 219. Perjudian dalam dunia modern saat ini berupa, spekulasi saham, perdagangan valuta asing, perdagangan komoditi, spekulasi di real estat dan spekulasi lainnya. Adapun larangan manusia dalam hidup tentang sikap yang hedonis. Hal i ini diperingatkan oleh Allah SWT dalam QS At Takatsur 1-8.

Ke dua, faktor dan peristiwa eksternal. Di antaranya siklus bisnis, bencana alam, wabah penyakit menular, sistem moneter internasional, ketidakstabilan politik dan ketidakstabilan soaial. Ketidakstabilan politik dan ketidakstabilan soaial, merupakan hal utama krisia keuangan saat pemerintah dan regulator tidak memiliki kendali atas mereka. Adapun peringatan bagi pelakunya terdapat dalam QS Al Maidah 33.

Ke tiga, tata kelola yang buruk. Hal ini justru terjadi di lembaga-lembaga publik dan swasta di antaranya administrasi yang buruk, korupsi, kontrol harga, kurangnya regulasi, kurangnya pengungkapan orang yang salah dan di tempat yang salah merupakan penyebab utama krisis ekonomi.

Korupsi, dilarang dalam QS Al Maidah 38, QS An Nisa 29, QS Al Imran 161, QS Hud 85. Islampun meerintahkan untuk menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Dalam hadits yang artinya Rosullah Saw berkata “Abu Dharr, saya melihat bahwa kamu ini lemah dan saya suka untuk kamu apa yang saya sukai untuk diri saya sendiri. Janganlah memerintah bahkan dua orang, dan tidak mengelola harta anak yatim. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Dharr ra, pernah meminta posisi Rosullah Saw sebagai pejabat pemerintah.

Ke empat,sistem moneter/keuangan yang tidak stabil. Hal ini termasuk sistem bunga ribawi, uang kertas, sistem perbankan cadangan fraksional, sistem reverage, derivari produk dan penciptaan kredit melalui kartu kredil. Riba di zaman modern ini berupa, sistem bunga, sistem uang kertas, sistem perbankan cadangan fraksional, sistem leverage, turunan, siatem kartu kredit, suku bunga dan uang fiat.

Hal ini di jelaskan dalam sabda Rasulullah Saw yang artinya ketika zina dan riba telah meluas di sebuah komunitas, maka mereka penduduk telah membiarkan hukuman Allah SWT bagi diri mereka sendiri. HR Thabrani dan Al Hakim.

Ke lima, sistem fiskal yang tidak berkelanjutan. Termasuk defisit fiskal yang tidak berkelanjutan, pajak yang berlebih-lebihan, utang negara yang berlebihan, pengeluaran yang berlebih-lebihan, menejemen persediaan komoditas strategis yang buruk dan sistem fiskal yang tidak efektif.

Dengan penyebab-penyebab krisis ekonomi dunia, maka hendaknya harus ada cara mencegahnya. Adapun cara pencegahan yaitu, pertama mengubah perilaku buruk pelaku ekonomi. Hal yang harus dilakukan adlah mengubah pola pikir dan pola sikap pelaku ekonomi. Diantaranya, a) diperkenalkan dan ditanamkan pada diri pelaku ekonomi adalah aqidah Islam. b) bertekad menjadikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir, bersikap dan berperilaku islami. c) Meningkatkan pengetahuannya tentang ilmu-ilmu Islam. Al-Qur’an, hadist, fikih, siroh, bahasa arab dan lain-lain.

Ke dua, tata kelola pemerintahan yang sesuai dengan syariah. Politik ekonomi Islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok seluruh rakyatnya baik muslim maupun non muslim.

Ke tiga, kestabilan sosial dan kestabilan politik. Ke empat, menstabilkan sistem moneter. Dengan dua cara yaitu, pertama mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dolar dan dirham. Ke dua, mengganti pertukaran kekayaan di sektor non riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas menjadi ke arah sektor riil.

Ke lima, menstabilkan sistem fiskal. Dalam sistem ekonomi Islam dikenal dengan tiga jenis kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Kepemilikan individu yaitu seluruh barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan masing-masing saling membutuhkan. Kepemilikan umum yaitu benda benda yang tampak tiga hal, satu merupakan fasilitas umum, dua barang tambang yang tidak terbatas, tiga sumber daya alam yang sifatnya pembentukan menghalangi untuk dimiliki oleh individu. Yang pengelolaannya wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan kepada swasta atau individu.