Oleh Ummu Adam (Revowriter Riyadh)

Wahai Bunda, bagaimana kabarmu disana? Entah mengapa tiba tiba rindu padamu menyeruak di dada. Cantiknya senyummu, hangatnya pelukanmu, lembutnya tanganmu, merdunya suaramu dan semua kenangan tentangmu membuat mataku basah.

Kenangan saat engkau duduk di teras depan demi menyaksikanku turun dari kendaraan yang membawaku mudik setiap dua minggu, menggambarkan betapa cintamu tak bertepi.

Kenangan saat pisang goreng hangat sudah tersedia di meja karena engkau tahu itu adalah camilan kesukaanku, membuatku mengerti sayangmu sepanjang masa.

Kenangan saat engkau selalu membuatkanku jubah baru saat aku pulang kampung setiap bulan dari kesibukan kuliahku, mengisyaratkan kasihmu seluas samudra.

Sumpah dokterku yang menjadi impianmu tak bisa engkau dengarkan.
Bersanding dengan pasanganku tak dapat engkau saksikan.
Jangankan berhaji, berumrah pun tak sempat engkau tunaikan.

Aku tahu ini adalah takdir.
Tapi banyak pertanyaan menggelayuti perasaanku.

Sudahkah aku memberikan bakti yang seharusnya?
Sudahkah aku memberikan bahagia saat engkau masih ada?
Sudahkah aku mengirimkan cukup doa dan pahala untukmu dialam sana?

Ya Rabb,
Ampunilah dosa dosa beliau.
Rahmatillah beliau.
Lapangkanlah kubur beliau.
Terangkan tempat penantian beliau dengan cahaya.
Sejukkan tempat peristirahatan beliau selama menunggu hari kebangkitan.
Masukkanlah beliau kelak di surga Mu

‎امين يا ربّ العالمين

Riyadh, Juni 14 Juni 2020