Oleh: Maman El Hakiem

Sifat malu itu mulia, yang hina itu malu-maluin. Seorang pemalu, jika didasari karena nilai penghambaan diri kepada Allah SWT akan memiliki derajat yang tinggi. Karena dengan rasa malu, seseorang akan mengimani adanya keberadaan pencipta kehidupan ini dan dirinya mengaku sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Malu melakukan kemaksiatan adalah tanda ketakwaan.

Utsman bin Affan adalah sahabat Nabi saw. yang sangat pemalu, saudagar kaya ini malu jika hartanya tak mampu mengantarkannya ke surga, maka separuh dunianya dihabiskan untuk kemuliaan Islam. Pun rasa malu yang dimiliki seorang ahlu shuffah, kemiskinan yang menderanya dan tiadanya kesibukan membuatnya bertahan di serambi masjid Madinah, menghabiskan waktu saat gelisah dengan hobinya merawat kucing.

Kegelisahan hati karena tidak bernasib seperti kebanyakan para sahabat Rasul saw. lainnya yang sangat kontributif, seperti Khalid bin Walid yang ahli di medan perang, Abdurahman bin Auf yang jago berdagang. Sahabat miskin yang kelak dikenal sebagai bapaknya para kucing tersebut, berjuang mengekpresikan rasa malu untuk lebih banyak waktu duduk di majelis ilmu Rasulullah saw.

Beliau kelak dikenal sebagai perawi hadis terpercaya dengan ribuan hadis dihapalnya, itulah sosok Abu Hurairah ra. Yang semula minder karena merasa kurang kontributif, terlebih beliau masuk Islam terbilang lambat, yaitu tahun ke 7 H, seusai perang Khaibar. Tentu, sangat jauh jika dibanding para sahabat seniornya. Nasib dirinya yang miskin dan lemah, tentu secara status sosial membuatnya merasa malu dalam berinteraksi sosial, apalagi di kalangan intelektual para sahabat Nabi.

Maka, di sinilah kemuliaan Islam tercermin, tidak melihat kemuliaan seseorang dari status sosial, apalagi nilai-nilai rasial, tidak heran seorang ras kulit hitam legam seperti Bilal bin Rabah menjadi amat mulia hidup dalam naungan aturan Islam. Begitupula Abu Hurairah, sekalipun berasal dari kaum lemah terdapat dalam dirinya keistimewaan luar bisa saat rasa malunya membuat selalu lebih banyak waktu untuk menimba ilmu di majelis Rasulullah saw.

Sangat beruntung mereka yang memiliki rasa malu sebagai bagian dari masih adanya keimanan dalam dirinya, sehingga takut jika hidupnya berlalu sia-sia, lebih rugi lagi jika hanya menjadi benalu. Sifat minder hanya ada pada mereka yang jiwanya kerdil, terlebih hidup sebagai sosialita di sistem sekuler yang mengukur kemuliaan dari derajat sosial, lebih parah lagi menilai kebahagiaannya hanya dari ukuran harta yang akan musnah ditelan masa.Jika sudah tidak punya rasa malu, mereka akan menghalalkan segala cara, maka harga dirinya amat terhina.Harusnya malu sama kucing, yang masih menyimpan rasa malu.Hidup tidak boleh jadi benalu.

Wallahu’alam bish Shawwab.***