Ranti Wijaya

Bagaimana rasanya daging ular? Hii.., membayangkan saja rasanya tidak mau. Selain haram, binatang yang satu ini memang sangat menjijikkan. Heran, tak sedikit manusia yang menjadikan ular sebagai santapan empuknya.

Sekelompok orang salah satu desa di Kabupaten Magetan menjadi pemangsa ular beberapa waktu lalu. Hal ini bukan karena keterpaksaan di tengah kesulitan ekonomi, tapi mereka sengaja mengkonsumsinya sebagai makanan pendamping pesta miras yang digelar. Naudzubillah…

Kisah berawal dari ditemukannya si binatang melata setelah memangsa 2 ekor ayam milik warga akhir Ramadhan lalu. Tanpa menghiraukan aturan di tengah pandemi, sebagian warga penasaran bergerombol menonton ular yang sudah berhasil ditangkap. Diantara mereka mengatakan badan ular sebesar tiang listrik dan ada pula yang menyamakan dengan diameter pahanya yang besar. Wwuih…, ngeri. Ular ini pun berakhir di perut-perut budak hawa nafsu.

Generasi Nggragas Buah Liberalisme
Nggragas, itulah yang terlintas di benak melihat semakin buasnya manusia dalam konsumsi. Ekstrim kuliner menjadi “santapan trendy” hingga tersemat pada pengkonsumsi merekalah yang punya nyali.
Sudah jamak diketahui ulasan tentang sate ular cobra di Jakarta, kelelawar goreng khas Manado, tokek dan biawak goreng menghiasi deretan menu ekstrim kuliner. Tikus got dan kucing juga mulai menambah varian sajian. Bahkan Merujuk data Koalisi Dog Meat Free Indonesia (sedih rasanya : pemakan anjing saja ada koalisinya) pada Januari 2019 terdapat 82 warung (penjual menu berbahan daging anjing) yang berada di Kota Solo. Dalam sebulan, ada 13.700 anjing yang dikonsumsi atau hampir 500 ekor per hari.

Huhh…
Mengapa ini bisa terjadi? Sistem sekuler telah menghembuskan liberalisme yaitu paham kebebasan di segala lini, baik kebebasan berpendapat, beragama, memiliki segala sesuatu ataupun kebebesan bertingkah laku. Kehidupan liberal telah menyeret manusia tak kenal halal haram.
Wajar, dengan liberalisme saat ini akhirnya tercetak generasi serba bebas. Mereka tak tahu aturan dan tak mau diatur dengan benar. Demikian halnya dengan urusan perut, asal kenyang atau senang, halal haram tak dipandang. Jadilah generasi nggragas alias apa saja ditelan.

Kelelawar Wuhan Seharusnya Menjadi Pelajaran
Asal mula virus corona yang menghebohkan jagad raya sudah sepantasnya menjadi pelajaran yang berharga. Terlepas dari kontroversi virus berasal, berbagai daging buruk harus dihindari karena membawa dampak yang luar biasa seperti saat ini.

Pandemi yang terjadi saat ini benar-benar telah memukul dan membangunkan manusia bahwasanya dia insan yang lemah. Manusia yang lemah sudah sepantasnya sadar, menanggalkan kesombongannya. Saatnya kita senantiasa mengingat Sang Pencipta. Allah SWT telah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, supaya Allah menimpakan sebagian akibat dari perbuatan (maksiat) mereka, agar mereka kembali (kepada Allah)”. (TQS ar-Rum [30] : 41)

Allah telah menimpakan akibat berupa wabah corona dari kefasadan yang diperbuat manusia yaitu mengkonsumsi kelelawar sebagai laranganNya. Namun pada faktanya masih saja sebagian manusia tak bergeming, tetap mendewakan nafsu dan menjadikan barang haram sebagai pemuasnya. Makanan haram tetap banyak beredar. Jika tidak ada perbaikan dalam pola konsumsi, apa yang terjadi? Tidakkah khawatir akan muncul penyakit atau virus yang jauh lebih ganas dari corona?
Wallahu a’lam bish-shawab.