Oleh: Maryam
(Pena Ideologis Maros)

Memasuki masa new normal life atau kehidupan normal baru ditengah pandemi yang tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Mengingat kurva pertumbuhan kasus covid19 tak kunjung surut masih menimbulkan kontraveksi terkait kebijakan new normal life. Termasuk salah satunya membuka kembali tahun ajaran baru dengan sistem pembelajaran tatap muka dimana sebelumnya menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh atau sistem belajar dari rumah.
Anak-anak yang sudah rindu sekolah akan merasa happy bisa belajar dan bermain dengan teman-temannya. Namun, dibukanya kembali sistem pembelajaran tatap muka memuncul kekhawatiran yang dirasakan para orangtua terkait kegiatan sekolah. Yakni, bagaimana keamanan terkait kesehatan anak-anak mereka nantinya.
Terkait hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan, hanya sekolah di zona hijau yang dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Artinya sekolah tersebut dapat kembali buka untuk menerapkan kegiatan belajar mengajar Meski begitu, waktu dimulainya tahun ajaran baru belum diputuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.
“Hanya sekolah di zona hijau yang dapat membuka sekolah dengan tatap muka. Tanggal pastinya menunggu pengumuman Mendikbud,” ujar Plt Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Hamid Muhammad saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (4/6/2020).
Meski demikian kebijakan pembelajaran tatap muka pada daerah zona hijau dengan berbagai penerapan protokol kesehatan. Masih belum menjamin keamanan dari serangan virus yang kian memanas. Setidaknya pemerintah bisa berkaca dari berbagai negara seperti inggris, korea selatan dan prancis yang sudah memberlakukan membuka aktivitas sosial seperti sekolah dengan rentan waktu hanya sepekan mereka kembali melakukan pembatasa-pembatasan dikarenakan laju penyebaran covid 19 semakin meningkat termasuk diantaranya anak-anak.
Melihat kurva kasus virus covid19 di Indonesia pun masih jauh dari kelayakan penerapan new normal. Sikap ini menegaskan pemerintah tidak punya arah yang jelas tentang target pembelajaran sekolah juga tidak ada integrasi kebijakan dengan new normal life yg dijalankan- sehingga kesulitan menetapkan secara tegas apakah perlu tetap BDR (Belajar Dari Rumah) atau bisa tatap muka. Berbeda dengan kepemimpinan islam yang senantiasa menjaga kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Wallahu’Alam.