By : Hafidhah Silmi Iid

Ketika viral pemberitaan tentang tuntutan 1 tahun penjara yang diajukan oleh jaksa bagi pelaku penyiraman air keras kepada Bapak Novel Baswedan, banyak netijen yang ramai ramai menyuarakan aksi protes. Tuntutan tersebut dinilai tidak adil. Bagaimana bisa, seseorang yang membuat wajah orang lain cacat permanen bahkan hingga menyebabkan matanya buta, hanya dituntut 1 tahun penjara. Hal itu sangat mencederai rasa keadilan.

Bapak jaksa yang memberi tuntutan beralasan bahwa si pelaku tidak sengaja menyiram air keras ke wajah. Niatnya mau menyiram badan. Dan pelaku juga sudah meminta maaf. Oleh karena itu, bapak jaksa hanya memberi tuntutan ringan bagi pelaku.

Ngomong ngomong soal tidak sengaja, saya jadi teringat kisah Rasul SAW yang pernah tidak sengaja mencambuk punggung seorang sahabat bernama Ukasyah ra. Saat itu, ketika Rasul dalam keadaan sangat lemah menjelang kematiannya, beliau berdiri di depan para sahabat. Beliau bersabda “maafkanlah aku wahai kaum muslimin. Jika kalian sulit untuk memaafkanku, maka balaslah sesuai dengan hak kalian”.

Tiba tiba, seorang sahabat bernama Ukasyah, berdiri dan berkata “ya Rasulullah, saya akan mengambil qishas atasmu. Karena cambukmu mengenai punggungku ketika engkau mencambuk untamu “. Para sahabat semuanya tersentak kaget mendengar perkataan Ukasyah. Sahabat menilai, betapa teganya Ukasyah menuntut qishas disaat kondisi Rasul SAW sangat lemah.

Mendengar hal itu, Rasul turun dari mimbarnya dan mendekati Ukasyah “wahai Ukasyah, ambillah hakmu. Cambuklah punggungku”. Lalu Ukasyah menjawab ” ya Rasul, saat itu, aku tidak memakai baju ketika punggungku kau cambuk”. Tanpa banyak bicara, Rasul SAW membuka bajunya. Bersiap menerima cambukan dari Ukasyah. Ketika cambuk itu diberikan kepada Ukasyah, cambuk tersebut dibuang oleh Ukasyah dan Ukasyah malah memeluk punggung Rasul dan berkata “masalah itu sudah lama aku lupakan. Bagaimana mungkin aku tega mencambuk punggung seorang nabi yang mulia sepertimu. Engkau berkata ini adalah pertemuan terakhir kita, maka aku hanya ingin memeluk punggungmu untuk terakhir kali.” Rasul, Ukasyah dan seluruh sahabat semuanya menangis menyaksikan momen tersebut.

Lihatlah..
Betapa adilnya Islam. Bahkan tindakan yang tidak disengaja pun, jika seseorang menuntut balas maka hal itu diperkenankan. Meski pelakunya adalah seorang Rasul. Pelaku harus tetap dihukum dengan hukuman yang setimpal sesuai dengan beratnya kejahatan yang dia lakukan.

Lalu coba lihat praktek peradilan di negri ini. Kita semua tentunya sepakat bahwa saat ini, ketidak-adilan sedang dipertontonkan dengan terang terangan. Kita semua yang masih memiliki akal sehat tentu merasa muak dengan kondisi ini. Hukum bisa dibeli. Bisa dikondisikan sesuai dengan pesanan. Manipulatif.

Ya wajar saja hal itu terjadi. Karena, tidak ada standart yang baku dalam peradilan saat ini. Seorang yang nyata nyata melakukan tindak kriminal, bisa saja diringankan hukumannya bahkan dibebaskan asal memenuhi prinsip “wani piro”.

Lama lama, jengah juga menyaksikan semua ketidakadilan ini. Ketidak-adilan yang lahir dari sistem hukum buatan manusia yang bisa diutak atik sesuai dengan keinginan manusia.
Mau sampai kapan bertahan dalam ketidak-adilan seperti ini? Padahal Islam menawarkan keadilan bagi siapa saja yang mau tunduk pada aturan Islam. Qishas bagi pelaku. Nyawa dibayar nyawa, mata dibayar mata. Bukan seperti sekarang.