Oleh: Yanti Maryanti

Ungkapan peribahasa itu sudah tak asing lagi di kehidupan kita sehari-hari.
Sudah terjatuh tertimpa tangga “had fallen down the stairs”. Kalau diartikan sebuah gambaran seseorang yang terkena musibah yang bertubi-tubi.
Baik secara ungkapan, juga makna yang sesungguhnya saya amati langsung dan saya merupakan saksi dari kedua kejadian tersebut.

Pasalnya “seseorang” di rumah sendiri saat itu, ketika ku sedang tak ada di rumah, ku amanatkan tidak melakukan pekerjaan.
Ya yang namanya manusia memang dengan alasan yang masuk akal karena tidak ada lagi yang harus dia kerjakan, inisiatiplah dia untuk mengecat pojok rumah diatas tangga permanen menggunakan tangga karena jangkauan tinggi.

Aw aw….apa yang terjadi dia benar jatuh dari tangga tertimpa tangga dan yang menyempurnakan musibah itu dia ketiban cat rumah, innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Dia untuk bisa menelpon saya, turun tangga permanen perosotan diatas cat sambil mengaduh merasakan kesakitan, dia menelponku.

Sesampai di rumah, astagfirullahal’ adzim kok sampai begitu, lautan cat kemana-mana tak tentu arah, saya yang mengepel lantai saja tidak cepat usai berjam-jam untuk membersihkan lantai. Aku kira seperti di film Dono Kasino Indro dalam “warkop”, ternyata kualami sendiri, semoga tabah ya dan tidak kau temukan lagi seumur hidupmu karena memang dia sedikit ceroboh, membawa cat full tidak sedikit-sedikit. Meski sakit secara fisikmu semoga perlahan sembuh dan tidak akan kau temukan lagi peristiwa ini yang kedua kalinya.

Kasus kedua yang tak kalah menguji kesabaran adalah menimpa sahabatku. Berawal dari idul Fitri dia ke mesjid paling awal sebelum yang lain datang, sudah kau tunjukkan ketaatan dia kepada sang Kholik Maha pemilik nyawa.

Tapi apa yang terjadi setelah sholat idul Fitri, motor dompet dan seisinya hilang seperti KTP, NPWP, ATM dan lain sebagainya.
Tapi dia cukup tenang menghadapi semua itu, dia lapor polisi setempat, sebagai sikap manusiawi dia tidak nampak kecewa berlebihan hanya menyebut innalillahi, hanya kepadamu aku berserah itu milikmu Yaa Allah seandainya kau mengambil kembali aku ikhlas, membuatku tercengang dan ku bisa belajar banyak darinya.

Kejadian berikutnya ketika dia akan mencairkan uang dengan KTP yang hilang pergilah ke suatu tempat dimana dia membuat KTP berdua dengan pekerjanya. Lagi -lagi motornya ditubruk anak SMP ternyata pekerja yang bersamanya harus dilarikan ke rumah sakit karena tulangnya retak, ketenangannya rada terusik karena lagi lagi dia butuh uang sementara tidak bisa mencairkan uangnya karena KTP yang hilang itu.

Ditengah musibah yang menimpanya, anggota keluarganya jauh di sana, di tengah Corona harus pergi, meninggalkannya satu persatu dari ibu, kakak ipar dan adik iparnya.
Tanpa melihat jasadnya sama sekali karena aturan protokoler kesehatan.

Belum lagi hatinya yang terluka dan berduka ditinggal anggota keluarganya, mungkin dengan kegamangannya diapun jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan pertama dengan demam yang tinggi, yang nota bene dia tak pegang uang sepeserpun karena semua miliknya digondol maling.

Apalagi yang harus dikata disaat tak ada lagi yang harus dia lakukan, dia tergelepar sakit dirumah sakit, lagi dan lagi dia harus mengganti mobil yang dia sewa sebagai keseharian bisnisnya mengangkut barang.

Ini benar-benar terjadi dan saya sebagai saksi mata dari kejujuran mereka, semoga dibalik musibahmu ada Rohman dan rohimnya Allah SWT yang bisa menolongmu, karena bagaimanapun kau telah tunjukkan kejujuranmu dan telah kau tunjukkan rasa pedulimu untuk sesama.

Semoga musibahmu ini, menguji titik kesabaranmu dan akan mengangkat derajatmu ke tempat yang lebih mulia.
Sebagai mana dijelaskan dalam Al Qur’an,

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Q.S. Al-Baqarah: 286)

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( Q. S Al- Baqarah ayat 153 )

Allah mencintai orang-orang yang sabar. “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang