Oleh : Vega Rahmatika Fahra, SH

Masa pandemi memang menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan pekerjaan dan kegiatan apapun #dirumahsaja. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah maka kegiatan yang sering dilakukan anggota keluarga di rumah adalah menonton televisi.

Serial “Suara Hati Seorang Istri”, mungkin juga tak asing lagi terutama bagi kalangan ibu-ibu, karena hampir setiap waktu ditayangkan selama pandemi ini. Satu kali menyaksikan penulis menganggap biasa saja, namun beberapa kali menyaksikan penulis menangkap ada narasi tersembunyi yang di sampaikan dalam serial ini.

Kita semua mungkin bisa menebak alur ceritanya dan semua bisa menjadi sutradaranya. Berawal dari suami Istri bahagia, kemudian selingkuh dengan adanya pihak ketiga, orang ketiga menang mendapatkan suami orang, istri pertama menderita, kemudian suami bangkrut, lalu minta maaf dan menyesal pada istri pertama, lalu istri pertama tidak mau memaafkan dan memilih untuk hidup bahagia sendiri tanpa butuh lelaki. Kemudian tak lupa di iringi dengan sountrack “ku menangiiis, membayangkan betapa kejamnya dirimu……”

Begitulah kira-kira skenarionya, dengan hanya ganti artis dan lokasi syutingnya saja. Lalu narasi tersembunyi apa yang di sampaikan dalam serial ini? Penulis menangkap bahwa narasi _feminisme_lah yang tersembunyi dibalik serial ini, karena di setiap akhir ceritanya perempuan akan merasa lebih bahagia jika hidup tanpa lelaki, dan anggapan bahwa wanita bisa hidup tanpa lelaki pun menjadi tameng diri.

Ya.. Hampir dari setiap scene, memperlihatkan betapa menderitanya seorang perempuan sebagai pemeran utama, dari kisah tersebut diperlakukan tidak adil oleh sang suami. Hal yang tidak luput dari kisah tersebut adalah dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan.

Mungkin banyak yang beranggapan ini hal yang biasa, namun nyatanya penulis mengatakan bahwa serial ini sangat berbahaya karena :

Pertama, tontonan akan sangat mudah menjadi tuntunan, maka akan sangat berbahaya jika suami/istri yang setiap hari menyaksikan serial ini akan beranggapan yang sama dengan apa yang di tayangkan.
Perempuan menganggap bahwa dia bisa hidup sendiri tanpa laki-laki, dan laki-laki beranggapan bahwa dengan kakuasaannya bisa semena-mena pada perempuan hingga semakin banyaknya angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kedua, akan semakin banyak dan mudah sekali orang untuk melakukan perselingkuhan, dan semakin banyak angka perceraian dengan mudahnya menggunakan kata “Talak”, bahkan karena masalah yang sepele.

Ketiga, bagi yang belum menikah akan berpikiran bahwa menikah itu adalah suatu hal yang menakutkan dan mengerikan, sehingga lebih memilih untuk tidak menikah.

Keempat, adegan yang di tayangkan menyuguhkan berbagai pola kehidupan yang asing dari nilai-nilai serta prinsip Islam serta akhlak, peran suami dan Istri yang di gambarkan jauh dari ajaran Islam.

Tidak kita sadari, serial FTV ini berhasil “menggoreng” perempuan sebagai produk yang ia jualkan. Dengan mengatakan bahwa “Suara Hati Istri” adalah sebuah gambaran pernikahan, yang bisa jadi akan kita alami atau terlihat secara nyata.
Itulah bahayanya ketika tontonan menjadi tuntunan, tidak bahaya hanya untuk anak-anak saja, bagi orang tua dan yang sudah berkeluarga pun sangat berbahaya jika tontonan tanpa dilandasi dengan ilmu, maka akan sangat mudah untuk terpengaruh.

Padahal syariat Islam telah menetapkan berbagai macam aturan, pengarahan dan solusi bagi berbagai macam permasalahan dalam pernikahan, sehingga suami dan isteri bisa menikmati hidup bahagia bersama, dan masing-masing merasa tenang dan tenteram asal semua pihak mau merealisasikan ajaran Islam.

Di antara pengarahan Islam terhadap kehidupan rumah tangga ketika menghadapi masalah adalah,

Pertama, Islam menghindarkan rumah tangga dari segala perkara yang menjadi sebab terjadinya thalak. Baik sebab yang datang dari pihak suami, isteri, keluarga atau pihak lain yang ingin membuat keruh suasana rumah tangga.

Kedua, Islam mengajari suami istri agar banyak mempelajari ilmu yang bermanfaat, beramal salih, membaca, mendengarkan kajian agama yang bisa menambah kualitas dan mutu keimanan kepada Allah, dan tidak terbawa oleh budaya rusak dan akhlak tercela, hingga bisa bersabar dan tabah dalam menghadapi berbagai sikap semena-mena dan penelantaran hak-hak rumah tangga dari masing-masing pihak, karena semua itu akan diberikan oleh Allah dengan pahala yang lebih berlimpah.

Ketiga, Islam mengajarkan agar suami istri bersikap lapang dada untuk menerima kekurangan dan kelemahan masing-masing serta berusaha menumbuhkan rasa kasih sayang dan sikap pemaaf. Dan semua pihak yang dimintai maaf hendaklah segera memberikan maaf, agar hati kembali bercahaya dan bersih dari perasaan jengkel, kesal dan dengki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang isteri kalian yang berada di surga? Kami berkata,”Ya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dia adalah wanita yang sangat mencintai lagi pandai punya anak, bila sedang marah atau sedang kecewa atau suaminya sedang marah maka ia berkata: Inilah tanganku aku letakkan di tanganmu dan aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku.”
[HR At Thabrani].

Keempat, menjauhkan diri dari pandangan yang diharamkan, karena yang demikian itu merupakan panah iblis yang bisa menjerumuskan diri kepada perbuatan haram.

Kelima, meskipun Islam memberi kekuasaan bagi laki-laki untuk menjatuhkan sanksi kepada isteri, namun Islam juga memberi peringatan keras kepada kaum laki-laki agar tidak menyalahgunakan kekuasaan tersebut, dan menghindari sebisa mungkin sanksi pukulan dan kekerasan.

Sebagaimana Rasulullah bersabda
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Jika kamu makan berilah dia makan, bila kamu berpakaian berilah dia pakaian, jangan memukul bagian wajah, jangan mencela dan janganlah kamu mendiamkan kecuali di rumah saja”.
[HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Begitulah beberapa aturan Islam dalam mengatur rumah tangga, dan masih banyak lagi aturan Islam yang mengatur tentang rumah tangga yang semestinya menjadi tuntunan suami istri. Ini sangat jauh berbeda dengan yang di gambarkan dalam serial FTV. Dalam Islam segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak wanita. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam.